Permusuhan antara Iblis dan Adam merupakan musuh abadi. Turunannya, antara setan dan manusia juga musuh abadi. Iblis dan anak turunannya mengerahkan segala kesempatan dan kemampuan untuk menggelincirkan manusia.
Sedang apapun manusia, di situ setan mengambil kesempatan menggodanya. Termasuk saat sedang beribadah, godaan setan dalam shalat menjadi tantangan terbesar bagi seorang Muslim untuk menjaga kekhusyukan di hadapan Sang Pencipta.
Ternyata, Allah yang maha pemurah memberi izin kepada Iblis menggoda manusia, tetapi Allah juga memberi penyelamatan kepada manusia dari kejahatan Iblis. Sangat santun tutur bahasa Iblis kepada Allah, sebagaimana tampak dalam narasi Nabi:
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ إِبْلِيسَ قَالَ لِرَبِّهِ بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ لَا أَبْرَحُ أُغْوِي بَنِي آدَمَ مَا دَامَتْ الْأَرْوَاحُ فِيهِمْ فَقَالَ اللَّهُ فَبِعِزَّتِي وَجَلَالِي لَا أَبْرَحُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُونِي
Artinya: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Iblis berkata kepada Rabbnya, “Demi kemuliaan dan keagungan-Mu wahai Rabb, aku akan senantiasa menggelincirkan anak cucu Adam selama ruh mereka masih ada di dalam jasad-jasad mereka,” lalu Allah berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku akan senantiasa mengampuni mereka selama mereka meminta ampun kepada-Ku.” (HR Ahmad 10814, hadis sahih).
Bentuk Nyata Godaan Setan dalam Shalat
Karena ibadah salat merupakan ibadah yang paling otoritatif, yaitu jalan pintas menuju ampunan dan berkah dari Allah, penbeda paling nyata antara muslim dan kafir, maka setan menyatakan sebagai ancaman paling serius bagi usahanya dalam menggelincirkan manusia.
Itulah sebabnya, saat manusia salat, setan membisikkan berbagai isi pikiran yang semuanya tidak terkait dengan salat. Demikian info dari Nabi mengenai bagaimana godaan setan dalam shalat ini bekerja:
فَإِذَا قُضِيَ الْأَذَانُ أَقْبَلَ وَإِذَا ثُوِّبَ أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ فَيَقُولُ اذْكُرْ كَذَا وَكَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ قَبْلَ ذَلِكَ
Artinya: Apabila azan dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamah telah selesai dia kembali lagi hingga untuk mengganggu hatinya seseorang seraya berkata: “ingatlah ini dan itu”, yang semestinya tidak diingat sehingga sebelum itu (HR Bukhari: 1155, 3043, Ibnu Majah: 916, Darimi: 1178).
Penilaian Kualitas Shalat dari Rasulullah
Secara umum, godaan setan ini sangat efektif. Rasulullah SAW memberikan penilaian otentik bahwa banyak orang yang mengerjakan shalat namun tidak mendapatkan pahala secara utuh karena pikiran yang terdistraksi.
Beliau menginformasikan:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ، وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلاَتِهِ، تُسْعُهَا ثُمْنُها، سُبْعُها سُدْسُها، خُمُسُها، رُبُعُها، ثُلُثُهَا، نِصْفُهَا
Artinya: Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat, namun pahala shalat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh (dari) shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya saja (HR Abu Dawud: 675, Ahmad: 18122, Ibnu Hibban: 1889).
Yang dimaksud seseorang dalam hadis ini dikenal bernama ‘Ammar bin Yasir. Salatnya cepat untuk mendahului godaan setan dalam shalat.
Cara berpikir ‘Ammar bin Yasir jelas salah, tentu lebih cepat setan menggodanya. Ketergesaanya itu sendiri sudah merupakan bentuk keberhasilan setan menggelincirkan manusia. al’ajalatu minasy-syaithân (tergesa-gesa perbuatan setan).
Tantangan Generasi Shalat “Robot”
Lafal hadis lain menyebutkan istilah hamba (al-‘abd), yang berarti peringatan ini berlaku bagi seluruh umat, termasuk generasi sekarang. Prestasi maksimal salat umat Muhammad secara umum sering kali hanya menyentuh separuh dari keutuhan pahala.
إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَلَاةَ مَا يَكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا عُشْرُهَا تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلًثُهَا نِصْفُهَا
Artinya: Sesungguhnya seorang hamba benar-benar menunaikan shalat, namun tidaklah ditulis pahalanya kecuali sepersepuluhnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya (HR Ahmad: 18136).
Bagaimana kualitas shalat kita jika tidak mengetahui arti bacaan di dalamnya? Buya Hamka pada era 1970-an menyebut fenomena ini laksana “shalat mesin”—bisa berbicara tapi tidak sadar apa yang diucapkan.
Di era sekarang, kita mungkin lebih mengenalnya sebagai “shalat robot”. Tubuh bergerak dan lisan bersuara, namun kesadaran melanglang buana di luar makna bacaan salat.
Indikatornya sederhana. Saat imam membaca surat yang dahsyat seperti al-Zalzalah atau al-Qari’ah, hati jemaah tetap tenang-tenang saja. Padahal surat tersebut menggambarkan kiamat yang kedahsyatannya jauh melampaui banjir bandang Aceh.
Harapan bagi Hamba yang Rendah Prestasinya
Sering kali, isi kesadaran kita hanyalah ingin shalat segera selesai. Jika imam membaca ayat yang agak panjang sedikit, makmum mulai menggerutu. Keadaan pikiran yang bercabang ini bisa membuat nilai salat mengecil hingga seperlimabelas atau bahkan seperduapuluh.
Meski demikian, kaum mukminin yang merasa prestasi shalatnya masih rendah tidak perlu berputus asa. Selama shalat dilakukan dengan taat dan konsisten (tidak bolong-bolong), rahmat Allah tetap mengucur deras.
Shalat tetap memiliki kekuatan besar untuk membersihkan dosa, sebagaimana dijelaskan dalam dua hadis berikut:
إنَّ العبدَ إذا قَامَ يُصلِّي أُتِي بُذُنوبِه كُلِّها فَوُضِعَتْ على رأسِه و عاتِقَيْهِ ، فكُلَّما رَكعَ أو سَجدَ تَساقَطَتْ عَنْهُ
Artinya: Apabila seorang hamba berdiri shalat, maka dosa-dosanya diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya. Apabila dia rukuk dan sujud, maka dosa-dosanya berguguran (HR Ibnu Hibban: 1734).
Lalu perumpamaan indah tentang sungai:
أَرَأَيْتُمْ لو أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ منه كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ. شَيْءٌ؟» قالوا: لا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ، قال: «فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الخَطَايَا
Artinya: Bagaimana pendapat kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu rumah salah seorang dari kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotoran tubuhnya walau sedikit? Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau bersabda, “Maka itulah perumpamaan salat Lima waktu, dengannya Allah menghapus dosa-dosa.” (HR Bukhari: 497, Muslim: 1071, Turmuzi: 2794, Nasa’i: 458, Ibnu Majah: 1387, Darimi: 1160, Ahmad: 487, 1452, 8569, 9315, Ibnu Khuzaimah: 310, Ibnu Hibban: 1726).
Dari kedua hadis ini, dapat disimpulkan bahwa mereka yang menjaga shalatnya hingga akhir hayat, terlepas dari kualitas khusyuknya yang masih berjuang, tetap berpeluang meraih husnul khatimah. Atas rahmat Allah, dosa-dosa mereka terhapus melalui wasilah salat lima waktu tersebut.
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
Baca juga:
Shalat yang Tertolak: Kenali Kriteria dan Kesalahan yang Membatalkan Ibadah