Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 2 menit baca

Hari Ibu Bukan ‘Mother’s Day’: Menggugat Pendangkalan Makna 22 Desember

Imam Abu Maulana

Jurnalis

Hari Ibu Bukan ‘Mother’s Day’: Menggugat Pendangkalan Makna 22 Desember

Setiap tanggal 22 Desember, ruang digital kita mendadak riuh. Lini masa dipenuhi unggahan manis: pelukan hangat, buket bunga, hingga narasi kasih sayang anak kepada sang bunda. Namun, di balik selebrasi domestik yang serba puitis tersebut, ada sebuah ironi besar. Kita kerap merayakan Hari Ibu dengan semangat Mother’s Day ala Barat, sembari perlahan melupakan akar Sejarah Hari Ibu 22 Desember yang sebenarnya bersifat politis dan intelektual.

Sejarah Hari Ibu 22 Desember

Hari Ibu di Indonesia tidak lahir dari tradisi komersial atau sekadar apresiasi peran domestik perempuan di dapur dan sumur. Sejarah mencatat, 22 Desember 1928 adalah momentum ketika perempuan-perempuan Nusantara berhenti menjadi objek sejarah dan mulai menulis takdirnya sendiri.

Dalam Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta, lebih dari 30 organisasi perempuan berkumpul. Mereka tidak sedang membicarakan resep masakan atau teknik mencuci pakaian. Di bawah atap Joyodipuran, mereka bersuara lantang mengenai hak pendidikan, penolakan pernikahan dini, hingga posisi perempuan dalam struktur perjuangan kemerdekaan. Ini adalah gerakan politik pertama yang menyatukan identitas perempuan lintas etnis dan agama di Indonesia.

Melawan Lupa: Dari Yogyakarta untuk Bangsa

Mengapa lokasi dan tanggal ini penting? Karena melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, pemerintah menetapkan hari pembukaan kongres tersebut sebagai Hari Ibu Nasional. Tujuannya jelas: untuk merayakan semangat kebangkitan perempuan sebagai warga negara yang berdaulat.

Makna Hari Ibu yang sejati adalah pengakuan bahwa perempuan adalah tulang punggung peradaban. Ketika para tokoh seperti Ny. Sukanto, Maria Ulfah, dan kawan-kawan berhimpun dalam Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), mereka sedang meletakkan fondasi bagi kesetaraan yang kita nikmati hari ini. Merayakan 22 Desember tanpa memahami esensi Kongres 1928 adalah bentuk pendangkalan sejarah yang sistematis.

Mengembalikan Marwah Hari Ibu di Era Digital

Tentu, memberikan bunga dan ungkapan cinta kepada Ibu di rumah adalah hal mulia. Namun, jangan biarkan kebisingan konten media sosial menenggelamkan substansi perjuangan. Di tengah tantangan zaman—mulai dari kekerasan terhadap perempuan hingga ketimpangan akses ekonomi—semangat Kongres Perempuan I seharusnya menjadi bahan refleksi.

Sudah saatnya kita menggeser narasi. Hari Ibu adalah momentum untuk menagih komitmen bangsa terhadap perlindungan hak-hak perempuan. Mari jadikan Sejarah Hari Ibu 22 Desember sebagai hari untuk memperkuat literasi dan keberdayaan perempuan, sebagaimana yang dicita-citakan para pendahulu kita 97 tahun silam.

Karena pada akhirnya, Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan kita ke dunia, tetapi juga sosok yang melalui pemikirannya, melahirkan kesadaran bagi bangsa ini untuk merdeka.

Baca juga:

Pilar Utama Peradaban: Menguatkan Peran Ibu sebagai Madrasatul Ula

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: