Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tarjih 4 menit baca

Hukum Puasa Asyura, Panduan Sahih Sesuai Sunnah Rasulullah

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Komisi Dakwah MUI Kota Semarang, Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Hukum Puasa Asyura, Panduan Sahih Sesuai Sunnah Rasulullah
Mempelajari keutamaan dan sejarah bulan Muharram: Sebuah kitab agama yang memuat teks Arab dan terjemahan bahasa Indonesia diletakkan di atas rehal berukir, melambangkan studi dan refleksi spiritual pada waktu fajar atau senja.

Memasuki bulan Muharam, umat Islam sedunia kembali menyambut momen pelaksanaan ibadah puasa Asyura. Banyak kaum muslimin terus mencari kepastian mengenai hukum puasa Asyura agar ibadah mereka terarah dengan baik.

Tentu saja, kita wajib merujuk pada panduan sahih sesuai sunnah Rasulullah yang benar-benar berlandaskan sumber tepercaya. Oleh karena itu, artikel ini menyajikan ulasan mendalam beserta hadis sahih puasa Asyura untuk membimbing kita meraih keutamaan ibadah secara sempurna

Prinsip Hukum dan Syariat Ibadah

Secara mendasar, agama melarang keras umat Islam menciptakan ritual ibadah yang baru. Kita hanya boleh menjalankan suatu ibadah ritualistik apabila Allah dan Rasulullah telah mensyariatkannya secara eksplisit. Mengingat hal krusial ini, Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan amat tegas melalui sabdanya yang mulia:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌ

“Barangsiapa yang mengada-ada suatu dalam urusan [agama] kami yang tidak termasuk darinya maka ia tertolak.” (HR Bukhari: 2499, Riwayat semakna: Muslim: 3242, 3243, Abu Dawud: 3990, Ibnu Majah: 14, Ahmad: 2498, 24840, 24995, 25124, Daruquthni: 4488, 4491, 4492, Ibnu ibban: 26, 27). 

Bertolak dari dalil kuat tersebut, para ulama merumuskan kaidah ushuliyah (perbandingan) yang sangat krusial. Kaidah pedoman ini mengikat umat Islam dalam mengatur tata cara beribadah:

 صْلُ فِي الْعِبَادَةِ اَلْمَنْعُ (أَوِ الْحَظْرُ) إِلَا مَا شَرَعَهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ

“Asal-usul ibadah itu dilarang, kecuali Allah dan utusannya mensyariatkannya.”

Berdasarkan panduan baku ini, setiap ritual ibadah tanpa dasar syariat pasti berakhir sia-sia belaka.

Hukum dan Hadis Sahih Puasa Asyura

Nah, setelah menelaah prinsip hukum tersebut, mari kita membahas secara langsung kedudukan puasa Muharam.

Menariknya, banyak masyarakat masih keliru dalam membedakan hadis sahih dan riwayat yang terbukti palsu. Kita harus senantiasa berpegang teguh pada hadis sahih berikut ini untuk menimbang hukum puasa Asyura:

عن عائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَانَ عَاشُوْرَاءَ يُصَامُ قَبْلَ رَمَضَانَ فَلَمَا نَزَلَ رَمَضَانُ قَالَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dari ‘Aisyah RA, dahulu hari Asyura’ adalah hari-hari yang dipergunakan orang-orang jahiliyyah untuk melakukan puasa, tatkala datang bulan Ramadan, beliau bersabda, Barangsiapa yang ingin berpuasa Asyura’ hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, maka berbukalah.” (HR Bukhari: 4142).

Melalui hadis sahih puasa Asyura ini, kita memahami bahwa hukum puasa tersebut sekadar berstatus mubah (boleh). Kita sama sekali tidak memikul dosa apabila meninggalkan amalan sunnah ini. Sebaliknya, puasa istimewa ini menawarkan ganjaran luar biasa berupa ampunan dosa setahun yang telah berlalu (HR.Turmuzi: 683).

Hadis lain yang membolehkan puasa atau tidak cukup banyak. Antara lain: HR. Bukhari nomor 1489, 1759, 1760, 1861, 1862, 1863, 1864, 3544, 4141, 4142, 4143, 4144, Muslim: 1897, 1989 (setelah datang Islam, pasca jahiliyah, jadi tidak menunggu datangnya ketetapan Ramadan), 1899, 1900, 1901, 1904, 1907, 1909, Turmuzi: 684). Dan masih banyak lagi hadis semakna dengan daftar hadis di atas.

Meskipun mengandung keutamaan besar, kita sebaiknya menjalankan anjuran ini sewajarnya dan tidak membesar-besarkannya secara berlebihan.

Menata Niat dan Menghindari Hadis Palsu

Masalahnya adalah banyak orang menyandarkan ibadah asyura mereka pada dasar keyakinan yang keliru. Segelintir pihak menyebarkan hadis palsu yang menjanjikan pahala teramat fantastis untuk memikat umat.

Berikut ini adalah contoh teks palsu yang wajib Anda hindari sedini mungkin:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ  

“Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura bulan Muharam, niscaya Allah memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 haji dan umrah, dan 10.000 pahala syuhada’.”

Sebagai langkah rasional, kita harus menata kembali niat puasa Asyura secara tulus. Kita cukup melafalkan niat singkat nawaitu shauma ghaddin lillahi Ta’ala untuk mengawali ibadah tersebut.

Pastikan kita menunaikan ketaatan mulia ini semata-mata demi meraih rida Allah. Akhirnya, kepatuhan kita pada hukum puasa Asyura melalui panduan sahih sesuai sunnah Rasulullah akan menyempurnakan kualitas amal kebaikan secara keseluruhan.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: