Jangan Mingkrik-Mingkrik di Muhammadiyah!

Oleh:

Dr. AM Jumai

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

“Mingkrik-mingkrik”; sebuah istilah lokal, tiba-tiba menjadi sorotan penting dalam soliditas kepemimpinan Muhammadiyah.

Saat memberikan materi Capacity Building untuk elemen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang di Magelang, Sabtu (29/11/25), Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah KH Jumari Al-Ngluari menyebutkan, mulai adanya gejala “mingkrik-mingkrik’ di persyarikatan. Istilah ini merujuk pada sikap sebagian warga atau pimpinan Muhammadiyah yang tidak kokoh, mudah goyah, gampang terprovokasi, dan kurang memiliki pendirian dalam berorganisasi.

Pernyataan ini menjadi simbol evaluasi diri yang mendalam, menyerukan perlunya keteguhan di setiap tingkatan struktur persyarikatan.

Menjadi pimpinan Muhammadiyah haruslah bakoh, sebuah istilah Jawa yang bermakna kuat, teguh, dan tidak mudah “masuk angin” atau terpengaruh.

Kepemimpinan Muhammadiyah tidak boleh sensitif pada tekanan kelompok, mudah terbawa arus luar, apalagi gampang kecewa hingga menarik diri dari organisasi (mutungan).

Sikap kokoh adalah karakter dasar seorang pemimpin dakwah. Ini penting agar pimpinan mampu menjaga arah gerakan dan menjaga marwah Persyarikatan di tengah berbagai tantangan.

Tiga Pilar Penguatan Muhammadiyah

Penguatan internal Muhammadiyah harus berpusat pada tiga pilar utama: jamaah, jam’iyyah, dan amal jariyah.

Pertama, penguatan jamaah merupakan fondasi sosial gerakan. Jamaah yang kuat akan menciptakan kebersatuan, ukhuwah, dan loyalitas terhadap gerakan.

Kekokohan jamaah adalah kunci mencegah perpecahan dan menjaga soliditas umat, sejalan dengan firman Allah: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Kedua, penguatan jam’iyyah sebagai organisasi modern. Muhammadiyah memiliki struktur yang tertib, administratif, dan berbasis sistem.

Pimpinan di setiap level wajib bekerja sesuai dengan visi, misi, dan khittah persyarikatan, bukan didorong oleh kepentingan pribadi atau tekanan politik sesaat.

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa amanah kepemimpinan adalah ruang pertanggungjawaban, bukan sekadar kebanggaan.

Ketiga, penguatan amal jariyah sebagai bukti nyata dakwah Muhammadiyah. Dengan ribuan sekolah, rumah sakit, panti sosial, dan amal usaha lainnya, Muhammadiyah telah hadir sebagai kekuatan perubahan yang masif.

Amal usaha Muhammadiyah adalah bentuk sedekah jariyah dalam skala besar yang manfaatnya terus mengalir untuk umat, sebagaimana disabdakan Rasulullah: “… terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Prinsip Kemandirian Gerakan

Muhammadiyah harus berpegangan pada prinsip: dibantu karena maju, bukan maju karena dibantu. Ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an agar umat Islam memiliki kemandirian dan harga diri.

Kemandirian finansial, intelektual, dan organisasi adalah syarat mutlak bagi Muhammadiyah untuk tetap tegak. Hal ini untuk menghindari ketergantungan pada kekuatan luar, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah: “Dan Allah tidak akan memberikan jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 141).

Pada Milad ke-113 ini, Muhammadiyah terus menunjukkan peran strategisnya dalam pembangunan bangsa. Dengan tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa,” Muhammadiyah meneguhkan komitmennya sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang fokus pada kemajuan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

Kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa berpedoman pada ayat: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2).

Pada akhirnya, Sumber Daya Manusia (SDM) Muhammadiyah harus kokoh, baik secara ideologis, intelektual, maupun moral. Mereka tidak boleh mudah tersinggung, mudah diprovokasi, dan tidak boleh menjadi pimpinan “pinggiran” yang pasif. Mereka harus berorientasi pada pengabdian dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Dengan menghindari sikap “mingkrik-mingkrik” dan memperkuat tiga pilar gerakan, Muhammadiyah akan terus menjadi organisasi modern yang unggul, berkemajuan, dan memberikan manfaat luas bagi umat dan bangsa.

Baca juga:

Pimpinan Muhammadiyah Diwanti-wanti Jauhi Perilaku Pamer dan Kikir

Editor:

Agung S Bakti

Bagikan berita ini

Kabar Lainnya

Scroll to Top