Muhammadiyah dan NU mewakili organisasi keagamaan Islam arus utama di Nusantara. Faktanya, kedua organisasi ini sering berbeda dalam mengawali ibadah puasa Ramadan. Contohnya, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026. Sementara itu, NU dan pemerintah memutuskan tanggal satu Ramadan pada hari Kamis, 19 Februari 2026.
Perbedaan awal puasa tersebut lebih jauh berdampak pada pertanyaan publik. Di malam ganjil kapan malam Lailatul Qadar 2026 akan tiba? Sebab malam ganjil yang diyakini sebagai malam Lailatul Qadar pun tentu akan berbeda pula.
Perbedaan awal puasa ini tentu tidak bisa diselesaikan melalui logika murni. Sebab, secara logika, tidak mungkin kedua keputusan tersebut sama-sama benar. Tentu tidak benar pula jika keduanya kita anggap salah.
Pasti hanya ada satu hari yang paling tepat, entah itu hari Rabu atau Kamis. Oleh karena itu, umat Islam harus mengandalkan intuisi dan keyakinan hati masing-masing. Menurut Muhammadiyah, mereka sangat yakin bahwa awal puasa jatuh pada hari Rabu. Sebaliknya, NU juga meyakini dengan mantap bahwa awal puasa adalah hari Kamis.
Selanjutnya, Muhammadiyah tidak pernah memaksakan pendiriannya kepada siapa pun. NU pun bersikap sama, tidak memaksakan pendapatnya kepada publik atau jemaahnya. Faktanya, banyak warga Muhammadiyah yang ikut berpuasa bersama NU. Mereka beralasan bahwa hilal pada hari Rabu masih berada di bawah ufuk.
Di sisi lain, sebagian warga NU justru mengikuti keputusan hisab Muhammadiyah. Alhamdulillah, kedua organisasi Islam ini telah mencapai kedewasaan beragama. Keduanya sering menggunakan bahasa toleransi yang sangat netral di ruang publik. Intinya, kemauan untuk berpuasa Ramadan itu sudah sangat bagus dan patut kita syukuri.
Hadis Pencarian Malam Lailatul Qadar 2026
Kembali terkait Lailatul Qadar, setiap muslim yang beribadah sungguh-sungguh pasti ingin meraih berkah malam mulia ini. Baik Muhammadiyah maupun NU sepakat bahwa Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Berdasarkan sabda Nabi, malam istimewa ini pasti turun pada setiap bulan Ramadan. Namun, makna pasti serta tafsir waktu turunnya tetap menjadi misteri ilahi.
Nabi Muhammad saw. sangat menganjurkan umat untuk menjemput Lailatul Qadar. Beliau menyebutkan beberapa waktu khusus dalam berbagai hadis hasan dan sahih. Di antaranya adalah malam tanggal 7, 9, atau 5 (HR. Bukhari, 47, 1883, 5589). Ada juga riwayat yang menganjurkan pencarian pada malam 10 hari terakhir (HR. Bukhari 1880).
Hadis lain menyebutkan pencarian di malam tanggal 22 atau 23 (HR. Abu Dawud: 1171). Selain itu, malam tanggal ganjil pada 10 hari terakhir Ramadan juga sangat dianjurkan (HR. Bukhari: 1880). Termasuk malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29, dan akhir Ramadan (HR. Turmuzi: 722, Bukhari: 1878, 1895). Riwayat spesifik bahkan menunjuk tepat di malam tanggal 27 (HR. Bukhari: 1882, 4110, 6476).
Dari deretan keterangan waktu tersebut, rahasia kapan pastinya malam suci itu turun tetap tertutup. Nabi sendiri sengaja merahasiakannya agar umat terus giat beribadah. Memperoleh malam mulia tentu membutuhkan perjuangan dan ibadah yang konsisten. Kita tidak bisa hanya begadang semalam lalu berharap pas turun dan mendapatkannya.
Itulah alasan Imam Ahmad bin Hanbal tidak pernah tidur malam selama bulan Ramadan. Beliau memiliki iman yang bulat serta tekad beribadah yang sangat kuat. Kebiasaan mulia ini sangat jauh berbeda dengan sekadar main tebak-tebakan waktu. Di mana-mana, gerakan iktikaf untuk mencari malam ini selalu terfokus pada 10 malam terakhir.
Menyatukan Perbedaan Malam Ganjil
Masalahnya mulai muncul saat kita ingin menjawab kapan malam Lailatul Qadar 2026 di malam ganjil tiba. Ketika awal puasa Ramadan berbeda, penentuan kapan tanggal ganjil datang menjadi rumit. Muhammadiyah mulai iktikaf tanggal 21, tetapi NU masih bersantai karena menganggap baru tanggal 20. Sebaliknya, saat NU iktikaf tanggal 21, Muhammadiyah justru menganggapnya sudah tanggal 22.
Singkatnya, malam yang disebut ganjil oleh Muhammadiyah bertepatan dengan malam genap versi NU. Perbedaan keyakinan yang sulit didamaikan ini sebaiknya kita maklumi bersama. Solusi paling praktis adalah menerapkan anjuran Nabi untuk beribadah penuh pada 10 hari terakhir. Langkah jitu ini otomatis akan mengatasi perdebatan pencarian antara tanggal ganjil dan genap.
Andaikan meleset, selisihnya hanya dua hari, di awal dan di akhir 10 hari terakhir tersebut. Muhammadiyah mungkin sudah berlebaran, sementara NU masih menjalani puasa hari terakhir.
Mari kita sepakat untuk saling menghargai dalam keberbedaan atau agreement at disagreement ini. Prinsip persatuan ini tetap bertumpu pada pedoman Lana a’maluna walakum a’malukum.
Pada akhirnya, meraih Lailatul Qadar adalah wujud nyata dari ketakwaan kita masing-masing. Selanjutnya, baik Muhammadiyah maupun NU bisa menggelar acara halalbihalal bersama-sama.
Selamat merajut perdamaian sejuk antara kakak (Muhammadiyah) dan adik (NU) di bulan yang suci ini.
Baca juga:
Membayang Suasana Malam Lailatul Qadar dan Keistimewaannya di Alam Malakut
Malam Lailatul Qadar 2026, Momentum Mengubah Takdir dan Peradaban