Membangun keluarga sejahtera dunia akhirat merupakan tujuan utama pernikahan, tetapi banyak pasangan gagal mencapainya. Tingginya angka perceraian saat ini menjadi peringatan keras bagi kita semua.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total perceraian sepanjang tahun 2025 sangat tinggi, contohnya mencapai 98.903 kasus di Jawa Barat dan 67.500 di Jawa Tengah. Oleh karena itu, setiap pasangan wajib mencari solusi yang tepat demi mewujudkan keluarga bahagia dalam Islam.
Menerapkan Enam Fungsi Utama Rumah Tangga
Setiap keluarga harus berusaha sekuat tenaga mengoptimalkan enam fungsi keluarga guna mencegah perceraian. Pertama, pasangan harus menguatkan aspek keagamaan dalam rumah mereka. Rumah memiliki dimensi fisik (ekstosomah) dan dimensi spiritual (indosomah). Pasangan dapat menghias dinding dengan kaligrafi serta menghidupkan suasana melalui tadarus Al-Qur’an dan salat tahajud.
Selain itu, fungsi perekonomian juga memegang peranan krusial bagi rumah tangga harmonis. Meskipun hidup sederhana, kecukupan ekonomi sangat penting untuk mendukung berbagai amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda bahwa kefakiran sangat dekat dengan kekafiran: كاد الفقر أن يكون كفراً (kâdal faqru an yakûna kufran) .
Selanjutnya, setiap anggota keluarga memerlukan pendidikan yang layak untuk membangun karakter positif. Pendidikan ini bisa berupa jalur formal maupun pengajian rutin yang mendidik moralitas keluarga. Di samping itu, fungsi sosialitas memastikan setiap individu memahami peran masing-masing tanpa tumpang tindih.
Perlindungan dan Rekreasi dalam Islam
Fungsi proteksionalitas menjadi pilar kelima untuk menjaga keamanan serta kehormatan seluruh anggota keluarga. Alih-alih menggunakan jimat yang mengarah pada syirik, Islam mengajarkan sedekah sebagai benteng perlindungan. Hubungan baik dengan tetangga melalui sedekah menciptakan rasa aman yang efektif.
Nabi bersabda: اِتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ (Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan sedekah separuh dari buah kurma. HR al-Bukhari: 1324, 1328, 3328, 5564, Muslim: 1687) .
Islam juga menekankan pentingnya kasih sayang antar sesama sebagai bentuk perlindungan batin. Terkait hal ini, Rasulullah SAW bersabda: مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَم (Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi – Bukhari: 5538, 5554, Muslim: 4282, Turmuzi: 1834) .
Lebih lanjut, fungsi rekreasi melengkapi upaya mewujudkan keluarga sejahtera dunia akhirat. Rekreasi tidak selalu berarti liburan mahal ke luar negeri, melainkan menciptakan suasana rumah yang asri. Jika setiap anggota merasa nyaman, maka rumah tersebut benar-benar menjadi surga mereka. Nabi bersabda: Baitî jannatî (rumahku adalah surgaku).
Menjaga Keseimbangan Menuju Kebahagiaan Hakiki
Membangun keluarga bahagia dalam Islam menuntut keseimbangan antara keenam fungsi tersebut. Dominasi satu aspek saja, seperti ekonomi atau proteksi, justru bisa merusak tatanan sosial keluarga. Misalnya, pengabaian hubungan sosial dapat menjauhkan keluarga dari tetangga sekitar. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai hak tetangga:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ. (Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman. Ditanyakan, Siapa yang tidak berimannya wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” HR Bukhari: 5557) .
Sebagai penutup, proses membentuk keluarga sejahtera dunia akhirat ini harus berlangsung terus-menerus. Setiap keluarga pasti memiliki profil kesejahteraan unik sesuai dengan usaha dan doa mereka.
Mari kita terus berupaya memperkuat fondasi rumah tangga demi kebahagiaan yang abadi.
Baca juga:
10 Poin Membangun Keluarga Qur’ani Menurut Tarjih Muhammadiyah
Solusi Keluarga Harmonis Menurut Islam: Cara Ampuh Mengatasi Konflik Rumah Tangga
Bahaya Menyimpan Rahasia dalam Rumah Tangga, Sebuah Kisah Nyata