Setiap pasangan tentu mendambakan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Namun, badai ujian pasti datang silih berganti seiring berjalannya waktu. Temukan panduan praktis dan solusi keluarga harmonis menurut Islam untuk mengatasi konflik rumah tangga agar ikatan pernikahan Anda kembali erat, penuh cinta, dan diberkahi Allah SWT.
Pasangan pengantin baru sering merasa dunia ini hanya milik berdua bagaikan Adam dan Hawa. Masyarakat Jawa juga mengibaratkan rukunnya suami istri seperti sepasang ikan mimi lan mintuno. Bahkan, kita sering mengidolakan keluarga islami yang harmonis layaknya pasangan Bathara Kumojoyo dan Bathari Kumorante dalam perumpamaan Hindu. Akan tetapi, hari demi hari berlalu, cekcok bisa memicu gonjang-ganjing yang berujung pada furqah atau perceraian.
Meskipun perceraian itu halal menurut hadis riwayat Abu Dawud nomor 2178, kita harus ingat bahwa Allah sangat memurkai hal tersebut. Rasulullah bersabda: أَبْغَضُ الْحَلاَ لِ إِ لَي اللهِ الطَّلاَقُ.
Oleh karena itu, kita wajib menyadari bahwa hakikat pernikahan adalah miṡâqan ghalîḍâ (perjanjian yang amat berat, QS an-Nisa’: 21) layaknya janji para utusan Allah.
Pernikahan dalam Islam bukan memprioritaskan soal ganteng, cantik, atau kebutuhan seksual semata. Lebih dari itu, pernikahan bertujuan meneruskan sunnah guna mencetak generasi khalifatullah fil arḍ yang mengemban amanah memakmurkan bumi (Wasta’marakum fîhâ, QS. Hud: 61).
12 Penyakit Penghalang Keluarga Sakinah
Banyak pasangan mengalami masalah karena tidak mengetahui hakikat pernikahan. Akibatnya, mereka terkena berbagai penyakit pernikahan yang merusak keluarga harmonis menurut Islam. Setidaknya, terdapat 12 kiasan penyakit yang mengancam keutuhan rumah tangga, yaitu:
- Kutilan: kurang tahu ilmu nikah, padahal nikah merupakan Sunnah Rasul.
- Kutuan: kurang tahu tujuan nikah untuk meneruskan agama. Nabi bersabda: “Barangsiapa ingin berjumpa dengan Allah dalam keadaan suci lagi disucikan maka nikahlah dengan wanita-wanita merdeka (HR. Ibnu Majah: 1852)”.
- Kusta: kurang sabar meraih cita-cita sehingga marah melulu.
- Kudis: kurang tahu ngurus duit sehingga menjadi boros yang merupakan teman setan (QS al-Isra’: 27).
- Kanker: kantong kering. Nabi mengingatkan: كَادَ اْلفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا.
- Sembelit: sedekah dan memberi sangat pelit layaknya pendusta agama (QS al-Ma’un).
Selain enam hal di atas, pasangan juga sering terkena penyakit berkelanjutan:
- Meriang: menengok istri atau suami jarang.
- Tipes: tidak peduli perasaan, saling egois, dan mau menang sendiri.
- Malaria: mencari lain pria (selingkuh) yang mendatangkan azab di akhirat.
- Kurap: kurang rapi, padahal pasangan ingin tampil necis.
- Mual: mengabaikan urusan halal dalam makanan maupun penghasilan.
- Jerawat: jarang berdoa lewat ibadah shalat karena terbiasa dengan fasilitas tidak halal.
Jika satu penyakit saja hinggap, keluarga pasti hancur atau broken. Suami bisa selingkuh mencari WIL (Wanita Idaman Lain). Sementara istri bisa melakukan nusyûz (ngambek), syiqâq (terus membantah suami), hingga mencari PIL (Pria Idaman Lain).. Puncak dari silent treatment ini adalah furqah yang menyisakan dendam di hati masing-masing.
Solusi Mengatasi Konflik Rumah Tangga
Untuk mengatasi konflik rumah tangga, perta kita harus memenuhi kebutuhan minimal finansial keluarga terlebih dahulu. Pasangan wajib berkomitmen kuat untuk memperbaiki sikap dan mentoleransi kekurangan masing-masing.
Selanjutnya, kita perlu memperbanyak bumbu canda dan acara santai bersama. Suasana rumah harus kita jadikan tempat rekreasi agar terwujud semboyan Baiti jannati (rumahku adalah surgaku).
Humor dan rayuan sangat kita perlukan untuk menghidupkan suasana keluarga. Sebuah kisah menyebutkan, sehabis perang, Nabi SAW membagikan ghanimah bersama para istri. Saat Umar bin Khattab tiba-tiba masuk, para istri berlarian ke balik hijab.
Umar kaget karena mereka ternyata lebih takut kepadanya. Lalu Nabi menimpali bahwa setan pun pasti akan mencari jalur lain jika bertemu Umar. Mendengar humor itu, para istri Nabi tertawa dan suasana kembali cair (al-Baihaqi: 1833, al-Hakim: 2080).
Selain itu, suami harus mengingat bahwa watak umum istri sangat senang jika mendapat pujian. Pujilah istri agar hatinya berbunga, misalnya dengan mengatakan “Kamu cantik bener hari ini. Ayo cepetan dikit”.
Efeknya, istri pasti tersenyum dan dengan senang hati mempercepat persiapan. Kisah Rasulullah yang selalu bercanda dengan para istri membuktikan pentingnya hal ini.
Sebagai penutup, merawat keluarga harmonis menurut Islam memang membutuhkan komitmen, ilmu, dan kesabaran. Dengan mengamalkan hakikat pernikahan dalam Islam dan menerapkan solusi-solusi di atas, insyaallah cita-cita mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah dapat kita capai dengan rida Allah. Wallâhu a’lamu bi ṣawâb.
Baca juga:
Relasi Hubungan Suami Istri Dalam Hadits
“Kafaah” Kunci Anti-Perceraian, Solusi Masalah Perselisihan dalam Rumah Tangga
Dosa Besar! Suami yang Paksa Istri Patungan Biaya Pokok Keluarga
Pentingnya Dukungan Istri untuk Suami: Belajar dari Hikmah Isra Mikraj dan Khadijah