Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Khutbah 14 menit baca

Khutbah Jumat: Membangun Surga di Rumah, Keteladanan Nabi Sebagai Kepala Keluarga

Khutbah Jumat: Membangun Surga di Rumah, Keteladanan Nabi Sebagai Kepala Keluarga
Ilustrasi: Potret kehangatan keluarga muslim modern ketika seorang suami tak segan turun tangan membantu istri di dapur. Sikap saling melayani dan kehadiran emosional seorang ayah di rumah merupakan wujud nyata meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam membangun ketahanan keluarga. (Ilustrasi/AI Generated)

Di era modern ini, banyak rumah tangga yang rapuh meskipun secara finansial berkecukupan. Fenomena fatherless (ketiadaan peran ayah) dan suami yang sibuk dengan dunianya sendiri menjadi tantangan serius bagi ketahanan keluarga muslim. Sebagai panduan bagi para khatib dan kepala keluarga, redaksi menyajikan naskah khutbah Jumat pilihan bertema “Nabi Sebagai Kepala Keluarga: Kritik untuk Suami dan Ayah di Era Modern”.

Naskah ini adalah Khutbah ke-11 yang disadur secara utuh dari buku “Naskah Khutbah Jum’at Satu Tahun Sesuai Kalender Hijriah”. Karya sistematis ini disusun oleh Ustaz Kasmui, seorang akademisi sekaligus pengurus Majelis Tabligh Muhammadiyah.

Jika Anda membutuhkan referensi naskah khutbah lengkap untuk satu tahun, e-book ini dapat diunduh gratis melalui tautan: https://kasmui.cloud/khutbah/.

Berikut adalah naskah utuh khutbah tersebut:

Tema: Nabi Sebagai Kepala Keluarga: Kritik untuk Suami dan Ayah di Era Modern

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Amma ba’du. Ma’asyiral Muslimin wal Hadirin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa membasahi lisan dan hati kita dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta membuktikan syukur itu dengan peningkatan takwa. Takwa bukan sekadar ritual di atas sajadah, namun takwa adalah bagaimana kita memimpin diri dan keluarga kita agar selamat dunia dan akhirat.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau bukan hanya seorang Panglima Perang yang gagah atau Negarawan yang ulung, tetapi beliau adalah Suami yang paling romantis dan Ayah yang paling penyayang di muka bumi ini.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah, Hari ini kita hidup di era modern yang penuh paradoks. Teknologi mendekatkan yang jauh, namun seringkali menjauhkan yang dekat. Banyak rumah tangga muslim hari ini yang megah bangunannya, namun rapuh di dalamnya.

Kita menyaksikan fenomena “Fatherless Country” atau hilangnya sosok ayah dalam pengasuhan.

Banyak suami yang merasa tugasnya selesai hanya dengan mentransfer uang belanja, lalu sibuk dengan gadgetnya ketika di rumah, bisu terhadap istrinya, dan asing bagi anak-anaknya. Rumah tak ubahnya seperti hotel, hanya tempat singgah untuk tidur, miskin dari sentuhan kasih sayang dan pendidikan agama.

Padahal, Allah SWT telah menetapkan standar keteladanan yang agung dalam diri Rasulullah SAW. Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah dalil pokok tentang kewajiban meneladani Nabi dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan domestik (rumah tangga). Meneladani Nabi bukan hanya dalam shalat dan puasa, tapi bagaimana beliau memperlakukan istri dan anak-anaknya.

Jika kita mengaku pengikut Sunnah Nabi, namun kasar kepada istri dan abai kepada anak, maka pengakuan cinta kita kepada Nabi perlu dipertanyakan.

Ma’asyiral Muslimin, Bagaimana sebenarnya potret Nabi sebagai kepala keluarga? Apakah beliau otoriter? Apakah beliau gengsi membantu pekerjaan rumah?

Mari kita renungkan kritik Nabi SAW terhadap standar maskulinitas yang salah. Banyak laki-laki merasa hebat jika ditakuti di luar rumah, namun Nabi justru memberikan standar kebaikan laki-laki melalui sabdanya:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi no. 3895, Hadits Shahih)

Hadits ini adalah tamparan keras bagi para suami yang ramah, murah senyum, dan sabar kepada rekan kerjanya atau orang lain di media sosial, namun berubah menjadi pemarah, pelit senyum, dan kasar ketika berhadapan dengan istri dan anaknya di rumah. Kualitas keimanan seorang laki-laki diukur dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang di dalam rumahnya, bukan pencitraannya di luar rumah.

Lalu, apa tanggung jawab terbesar kita? Di era modern ini, banyak ayah yang menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah atau ibunya, sementara ia sibuk mengejar karir. Padahal, Al-Qur’an memberikan peringatan keras dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. menafsirkan ayat ini dengan kalimat: “Addibuhum wa ‘allimuhum” (Didiklah mereka dan ajarilah mereka).

Wahai para Ayah, gadget canggih yang Anda belikan tidak akan menyelamatkan anak Anda dari api neraka. Uang jajan yang banyak tidak akan membeli akhlak mereka. Kehadiran fisik dan emosional Andalah yang dibutuhkan untuk menanamkan tauhid dan adab. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi yatim piatu padahal ayahnya masih hidup, hanya karena sang ayah sibuk dengan dunianya sendiri.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Salah satu penyakit suami zaman sekarang adalah ego yang tinggi dan merasa pekerjaan rumah tangga itu merendahkan martabat lelaki.

Mari kita lihat bagaimana Nabi SAW di dalam rumahnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi di rumahnya, beliau menjawab:

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ – تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ – فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau (Rasulullah) biasa membantu pekerjaan keluarganya. Namun, jika waktu shalat tiba, beliau segera keluar untuk shalat.” (HR. Bukhari no. 676)

Rasulullah SAW, manusia paling mulia, pemimpin negara, dan Imam para Nabi, tidak segan menjahit bajunya sendiri yang robek, memerah susu kambing, dan melayani kebutuhan rumah tangga. Beliau tidak duduk manis bak raja yang minta dilayani. Ini kritik bagi suami modern yang enggan sekadar mencuci piring atau memandikan anak dengan alasan “lelah bekerja”. Kepemimpinan (Qawwam) dalam Islam adalah tentang pelayanan dan perlindungan, bukan penindasan.

Terakhir, mari kita perhatikan interaksi kita dengan istri. Seringkali setelah pernikahan berjalan lama, romantisme memudar, digantikan dengan celaan dan ketidaksabaran.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 19:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini memerintahkan Mu’asyarah bil Ma’ruf (berinteraksi dengan cara yang baik). Baik dalam tutur kata, nafkah, maupun sikap. Bahkan jika ada sifat istri yang tidak kita sukai, Allah meminta kita bersabar dan mencari sisi positifnya. Jangan mudah mencela fisik atau masakan istri, jangan membandingkannya dengan wanita lain di media sosial. Jadilah suami yang menenangkan, bukan yang menegangkan.

Sebagai penutup motivasi, lihatlah kelembutan Nabi kepada anak-anak. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ : إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ : مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sementara di sisi beliau duduk Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi. Al-Aqra’ berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kepadanya lalu bersabda: ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi’.” (HR. Bukhari no. 5997 & Muslim no. 2318)

Wahai para Ayah, peluklah anakmu, ciumlah mereka selagi mereka masih kecil, dengarkan cerita mereka. Jangan biarkan hati mereka kering dari kasih sayang ayah, sehingga mereka mencari kasih sayang yang salah di luar sana.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى مِنْ حَيْثُ كُنْتُمْ، وَرَاقِبُوهُ فَإِنَّهُ يَرَاكُمْ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, Sebagai ringkasan (Khulasah) dari khutbah ini: Menjadi kepala keluarga di era modern adalah jihad. Jihad melawan ego, jihad melawan kemalasan, dan jihad melawan godaan teknologi yang melalaikan.

Jadikanlah rumah kita sebagai madrasah pertama bagi anak-anak dan surga bagi pasangan kita. Terapkanlah kelembutan Rasulullah SAW, bantulah istri dalam pekerjaan rumah, dan hadirkanlah diri kita sepenuhnya (jasmani dan ruhani) untuk anak-anak kita.

Ingatlah, kesuksesan seorang laki-laki tidak hanya dilihat dari jabatannya di kantor, tetapi dari senyum bahagia istri dan anak-anak yang mendoakannya.

Marilah kita tutup khutbah ini dengan menundukkan hati, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah SWT.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ “Ya Allah, satukanlah hati-hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, dan jauhkanlah kami dari perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: