Transformasi digital sekolah dasar kini sering kali terjebak pada euforia pengadaan perangkat keras semata. Padahal, esensi dari kemajuan pendidikan terletak pada pemberdayaan manusianya, bukan pada tumpukan gawai di atas meja siswa.
Studi kasus di SD Muhammadiyah Plus Semarang menyingkap sebuah dinamika yang menjadi potret mikro dari masalah pendidikan nasional. Di sana, terlihat jelas adanya ketimpangan antara ketersediaan alat digital dan kapasitas pedagogis para penggunanya.
Sekolah ini membuktikan bahwa teknologi informasi memang mampu mendongkrak motivasi siswa melalui media interaktif yang personal. Namun, potensi besar tersebut sering kali layu karena praktik pengajaran sehari-hari belum mampu mengimbangi kecanggihan alat yang ada.
Kita perlu menyadari bahwa transformasi digital sekolah dasar bukanlah sekadar urusan membagikan laptop atau memasang Wi-Fi. Masalah di lapangan jauh lebih kompleks dan menyentuh ranah manajerial serta kesiapan mental para pendidik.
Tantangan Literasi Digital Guru
Data nasional menunjukkan angka yang sangat kontras dan menjadi alarm bagi kita semua. Berdasarkan laporan Indonesia Educational Statistics in Brief 2023/2024 dari Kemendikbudristek, penetrasi infrastruktur digital memang mencapai 97,6%.
Namun, riset menunjukkan hanya sekitar 20% guru di Indonesia yang mendapatkan akses pelatihan literasi digital memadai. Statistik ini menunjukkan bahwa mayoritas guru kita masih dibiarkan berjuang sendirian tanpa panduan kompetensi di tengah lautan teknologi.
Kesenjangan ini tercermin nyata di SD Muhammadiyah Plus Semarang, di mana infrastruktur tersedia, namun baru 55% guru yang aktif menggunakannya. Kondisi ini menegaskan bahwa belanja komputer bukanlah solusi tunggal untuk memajukan kualitas pendidikan.
Salah satu solusi taktis untuk mengatasi gap kompetensi ini adalah pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI). Bagi guru yang belum terlatih, AI dapat membantu memproduksi konten pembelajaran dan materi visual secara otomatis serta instan sehingga beban administrasi berkurang.
Anggaran Pembangunan SDM Guru
Namun, implementasi teknologi tetap membutuhkan pondasi berupa pelatihan guru yang berkelanjutan dan terstruktur. Kebijakan sekolah juga harus didukung dengan SOP yang jelas agar penggunaan teknologi tidak melenceng dari tujuan edukasi.
Pemangku kebijakan harus segera mengubah paradigma dari sekadar “membeli barang” menjadi “membangun orang”. Investasi pada sumber daya manusia wajib mendapatkan porsi anggaran yang setara, bahkan lebih besar, daripada belanja fisik.
Oleh karena itu, pemerintah perlu berani mengalihkan minimal 20 hingga 30 persen anggaran pengadaan gawai untuk insentif pelatihan guru. Langkah ini krusial agar transformasi digital sekolah dasar tidak hanya menjadi proyek fisik yang kehilangan ruhnya.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah sebuah katalis, sementara manusialah yang menjadi kunci utama kesuksesan. Tanpa guru yang kompeten dan berdaya, komputer tercanggih di dunia sekalipun hanyalah kotak plastik tak bernyawa yang gagal membangun peradaban.
Baca juga: