SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Jam pasir Ramadhan kini semakin menipis. Memasuki fase sepuluh malam terakhir, suasana batin kita biasanya mulai terbelah antara persiapan hari raya dan keinginan untuk beribadah maksimal. Namun, jangan sampai kita terlena. Justru di garis finish inilah, Rasulullah SAW memberikan teladan untuk semakin mempererat “ikat pinggang” dan meningkatkan intensitas ibadah hingga akhir.
Agar tidak kehilangan momentum emas ini, menjaga ritme amalan sunnah di waktu pagi dan petang adalah strategi jitu untuk menjemput kemuliaan Lailatul Qadar. Berikut adalah panduan praktis amalan harian yang bisa Anda terapkan berdasarkan tuntunan yang shahih:
Pagi Hari: Menabung Keberkahan Usai Subuh
Pagi hari di penghujung Ramadhan bukan waktu yang tepat untuk tidur kembali setelah shalat Subuh. Rasulullah SAW secara khusus mendoakan keberkahan bagi umatnya yang menghidupkan waktu pagi, sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Riwayat Abu Dawud, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Merujuk pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) mengenai tuntunan ibadah, isilah pagi Anda dengan Dzikir Pagi. Selain menenangkan jiwa, terdapat keutamaan besar bagi mereka yang menetap di tempat shalatnya untuk berdzikir hingga matahari terbit, lalu melaksanakan shalat dua rakaat (Isyraq). Berdasarkan Hadits Riwayat Tirmidzi, pahala amalan ini setara dengan ibadah haji dan umrah yang sempurna. Gunakan pula waktu ini untuk tadabbur Al-Qur’an agar iman semakin menguat menjelang perpisahan dengan bulan suci.
Petang Hari: Menjemput Ampunan Sebelum Berbuka
Saat energi mulai menurun menjelang berbuka (iftar), pintu langit justru terbuka lebar bagi mereka yang terus mengetuknya dengan doa. Di waktu petang, fokus utama kita adalah memburu ampunan Allah SWT.
Sesuai wasiat Rasulullah kepada Aisyah RA dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah, doa yang paling dianjurkan di hari-hari terakhir ini adalah memohon maaf secara tulus: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii” (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku).
Membaca doa ini di sela-sela Dzikir Petang akan menjernihkan hati dari sisa-sisa dosa. Selain itu, pertebal catatan amal Anda dengan kedermawanan. Sebagaimana dicatat dalam Hadits Riwayat Muslim, Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya memuncak di bulan Ramadhan. Memberi sedekah iftar atau bantuan kepada yang membutuhkan di penghujung bulan adalah wujud nyata kepedulian sosial yang sangat dicintai-Nya.
Strategi Meraih Pahala Maksimal
Mengapa amalan pagi dan petang ini begitu krusial? Karena Lailatul Qadar bisa datang kapan saja di malam-malam ganjil. Dengan menjaga konsistensi dzikir dan doa sejak matahari terbit hingga terbenam, kita memastikan bahwa setiap detik di sisa Ramadhan ini bernilai ibadah.
Sesuai dengan semangat tajdid (pembaruan) dalam beragama, mari kita jadikan akhir Ramadhan ini sebagai momentum transformasi diri. Ramadhan akan segera berlalu, namun bekas sujud dan untaian doa yang konsisten akan menjadi bekal terbaik kita untuk menjalani bulan-bulan berikutnya.