Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 7 menit baca

Panduan Ziarah Kubur: Contoh-contoh Doa Ziarah Kubur dari Rasulullah (Bagian 2)

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Panduan Ziarah Kubur: Contoh-contoh Doa Ziarah Kubur dari Rasulullah (Bagian 2)

Benarkah membangun monumen megah di atas pusara tokoh besar adalah cara terbaik untuk mengenangnya? Sebagian orang mungkin berpendapat demikian. Mereka meyakini, untuk mencegah agar sosok kharismatik tidak mudah dilupakan, diperlukan penanda abadi seperti batu nisan, cungkup, atau bangunan yang indah di atas kuburannya.

Namun, jalan pikiran semacam ini sebenarnya kurang sejalan dengan tuntunan syariat Islam. Kharisma dan kebaikan sejati seseorang yang semasa hidupnya bermanfaat bagi umat tidak akan pudar hanya karena ketiadaan bangunan megah.

Mengenang Jasa, Bukan Memuja Pusara

Jika seseorang memiliki rekam jejak yang baik dan memberikan manfaat bagi banyak orang, kebaikannya akan dikenang sepanjang masa. Bukan kuburan yang membuatnya abadi, melainkan sejarah objektif dan peran positifnya.

Lihatlah nama-nama besar dalam sejarah Islam dan pergerakan di Indonesia. Sebut saja Sa’ad bin Abi Waqqas, Fatimah, Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid, hingga Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari. Nama mereka tetap menjadi inspirasi kaum Mukminin hingga kini.

Menariknya, pusara para tokoh besar tersebut tidak dibangun secara indah atau megah. Kebesaran nama mereka bersumber dari amal saleh, bukan kemewahan makam.

Fenomena Mengagungkan Kuburan Palsu

Sangat disayangkan, banyak orang baru memiliki nama besar setelah mereka wafat karena memang dibesar-besarkan oleh generasi berikutnya. Kebiasaan mengagungkan kuburan, kadang disertai dengan merekayasa biografi bergaya manaqib (mengeksplorasi hal-hal yang bersifat adikodrati), justru menjadi masalah.

Dalam kenyataannya, banyak umat yang kecolongan. Mereka menghormati dan mencari berkah pada kuburan yang padahal palsu atau bahkan bukan makam seorang waliyullah yang mereka yakini. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran agama.

2. Berdoa kepada yang Diziarahi

Menurut tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ziarah kubur, fokus doa ziarah kubur adalah seputar keselamatan, peringatan diri tentang kematian, memohon rahmat dan ampunan bagi ahli kubur, termasuk mendoakan bagi yang masih hidup.

Berikut adalah contoh-contoh doa ziarah kubur dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut pemahaman Muhammadiyah:

Contoh Pertama: Salam, Rahmat, dan Mengingat Kematian

السَّلَامُ علَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينخِرِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ

Artinya: Salam (kesejahteraan) atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang Mukminin dan Muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. (HR Muslim: 1619, Nasai: 2010, Ahmad: 24671).

Contoh Kedua: Doa Selamat dan Ingat Kematian

السَّلَامُ عَلَيْكُم دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

Artinya: Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai penghuni kuburan dari kaum mukmin, dan insya Allah kami akan menyusul kalian. (HR Muslim: 367, Abu Dawud, No: 2818, Nasa’i, No: 150, Ibnu Majah, Ahmad, No: 23657, Malik, No: 53, Ibnu Khuzaimah: 6, Ibnu Hibban, No: 1046).

Contoh Ketiga: Permohonan Ampunan untuk Ahli Kubur

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ القُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ، أَنْتُمْ سَلَفْنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ

Artinya: Semoga keselamatan terlimpah kepada kalian, wahai ahli kubur. Semoga Allah SWT mengampuni kami dan kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami akan menyusul kalian. (HR Tirmidzi, dari Ibnu Abbas, no: 976).

Contoh Keempat: Permohonan Afiat (Kesehatan) di Alam Sana

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بكُمْ لَلَاحِقُونَ، أسألُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُم العَافِيَةَ

Artinya: Salam atas kamu wahai penghuni pemukiman yang terdiri dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin, dan sungguh kami Insya Allah benar-benar akan menyusul kamu. Aku mohon kepada Allah untuk kami dan kamu afiat. (HR Muslim: 1620, Ibnu Majah: 1536, 4296, Ahmad: 7652, 8523, 8924, 21961).

Contoh Kelima: Mendoakan Satu Komplek Kuburan (Contoh Baqi’)

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوْعَدُوْنَ غَدًا مُؤَجِّلُوْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بِقِيْعِ الْغَرْقَدِ

Artinya: Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni (kuburan) dari kaum mukminin. Apa yang dijanjikan Allah kepada kalian niscaya akan kalian dapati esok (pada hari kiamat), dan kami Insya Allah akan menyusul kalian. Ya Allah ampunilah penduduk Baqi’ yang mati tenggelam. (HR Muslim, No: 1618, Nasai, No: 2012, Ahmad, No: 24297).

Contoh Keenam: Permohonan Afiat Bagi yang Meninggal dan yang Masih Hidup

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارْ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطَ وَنَحْنَ لَكُمْ تَبِعَ أَسْأَلُ اللهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ

Artinya: (Beliau berdoa): Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kalian wahai penghuni kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin, dan kami insya Allah akan bertemu kalian, kalian bagi kami sebagai pendahulu dan kami bagi kalian sebagai pengikut. Aku memohon keselamatan kepada Allah bagi kami dan kalian. (HR Nasai, No: 2013, Ahmad, No: 21961).

Redaksi lain yang serupa:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ أَنْتُمْ فَرَطَنَا وَنَحْنُ لَكُمْ تَبِعَ وَنَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Artinya: Keselamatan semoga terlimpah pada kalian wahai penghuni kubur dari kalangan mu`minin dan muslimin. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul kalian, kalian adalah pendahulu kami dan kami akan mengikuti kalian, kami memohon keselamatan untuk kami dan kalian. (HR Ahmad, No: 2907).

Contoh Ketujuh: Agar Tidak Diharamkan Pahala dan Terkena Fitnah

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطَ وَإِنَّا بِكُمْ لَاحِقُوْنَ اَلَّلهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ

Artinya: Semoga kesejahteraan untuk kalian semua, kampung kaum mukminin. Kalian telah mendahului kami. Dan kami akan menyusul kalian insya Allah. Ya Allah, janganlah Engkau haramkan kami dari pahala mereka dan jangan timpakan fitnah kepada kami setelah mereka. (HR Ibnu Majah, No: 1535, Ahmad, No: 23288, 23335).

Intisari dan Etika Berziarah

Singkatnya, lebih dari 28 hadis Nabi tentang doa ziarah kubur menunjukkan bahwa materi doanya bersifat singkat, padat, dan mengena—baik untuk penduduk kubur maupun bagi yang masih hidup. Meskipun ada perbedaan redaksi doa ziarah kubur, esensinya tetap sama: mendoakan dan mengambil pelajaran.

Saat berdoa, peziarah hendaknya berdiri. Tidak harus menghadap kiblat, dan waktunya hanya sebentar.

Berlama-lama berdiri tentu akan menimbulkan rasa capek. Terlalu lama mengingat kematian juga bisa menyebabkan kesedihan dan ketakutan yang berlebihan. Oleh karena itu, peziarah disarankan untuk segera keluar dari kuburan.

Tujuan utama ziarah adalah mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Kuburan bukanlah tempat wisata atau tempat untuk mencari berkah (ngalap berkah). Mengapa? Karena secara umum, umat Islam tidak mengetahui secara pasti bagaimana nasib orang yang diziarahi di alam sana, apakah ia bernasib baik atau sebaliknya.

(Bersambung)

Baca juga:

Panduan Ziarah Kubur: Batasan-batasan Ziarah Kubur yang Dilarang Nabi (Bagian 1)

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: