Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 4 menit baca

Paradoks Milad Muhammadiyah: AUM Kaya, Kesejahteraan Kadernya Bagaimana?

Dr. AM Jumai

Mantan Kepala Kantor PWM Jawa Tengah

Paradoks Milad Muhammadiyah: AUM Kaya, Kesejahteraan Kadernya Bagaimana?
Dr. H. AM Jumai, S.E., M.M., Wakil Ketua PDM Kota Semarang

Di usianya yang ke-113 tahun, Muhammadiyah berdiri megah. Gedung-gedung kampus dan rumah sakitnya menjulang, menjadi mercusuar peradaban bangsa. Namun, di balik kemajuan fisik ini, ada pertanyaan menggelitik: Mengapa Amal Usaha (AUM) bisa sebegitu kayanya, sementara banyak pejuang di dalamnya, para guru, dosen, dan pegawai yang bekerja dengan ikhlas, masih berjuang dengan isu dapur dan kesejahteraan?

Milad Muhammadiyah kali ini, dengan tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa,” harus menjadi momen jujur untuk menatap ke dalam: Gerakan besar ini tidak boleh hanya menjadi lilin yang menerangi orang lain, sementara dirinya sendiri melebur dalam kelemahan ekonomi struktural.

Tema Milad Muhammadiyah tersebut tidak hanya menegaskan tanggung jawab persyarikatan sebagai elemen bangsa, tetapi juga menjadi cermin ke dalam diri sendiri.

Paradoks Milad Muhammadiyah

Faktanya, ada kesenjangan yang mencolok antara kemajuan pesat amal usaha dengan kesejahteraan sebagian kader, warga, bahkan pegawai Muhammadiyah. Amal usaha boleh tumbuh megah, tetapi kesejahteraan para pelaku gerakan tidak serta-merta merata. Inilah paradoks keorganisasian yang harus dibaca secara jujur.

Gerakan dakwah Muhammadiyah dikenal mencerahkan, mencerdaskan, menggerakkan, dan menggembirakan, namun belum semua warga merasakan empat dimensi dakwah tersebut secara utuh. Banyak kader yang bekerja dalam diam dengan penuh dedikasi, tetapi kehidupan ekonominya masih jauh dari kata sejahtera.

Ujian moral dan organisatoris Muhammadiyah memasuki abad kedua adalah memastikan bahwa pegiat dakwah tidak menjadi lilin yang menyinari sekitar, tetapi membiarkan dirinya sendiri melebur tanpa pertolongan.

Muhammadiyah tidak boleh menjadi gerakan yang besar secara kelembagaan tetapi menyisakan warga yang lemah secara ekonomi. Penguatan kesejahteraan internal bukanlah tindakan egois, melainkan bagian integral dari misi dakwah itu sendiri.

Kader yang kuat ekonominya akan lebih merdeka dalam berpikir, lebih luas dalam berperan, serta lebih mantap dalam memajukan umat dan bangsa. Sebaliknya, kelemahan ekonomi akan melemahkan daya juang dan kualitas kontribusi gerakan.

Ekonomi Umat sebagai Arus Utama Gerakan

Memasuki usia 113 tahun, Muhammadiyah perlu mempertegas orientasi ekonomi umat sebagai arus utama gerakan, bukan sekadar program tambahan. Prioritas utama haruslah menciptakan solusi riil atas ketimpangan, dimulai dari transformasi Amal Usaha (AUM) sebagai lokomotif kesejahteraan, yang diwujudkan melalui reformasi manajemen agar lebih adil dalam distribusi kesejahteraan. Langkah konkretnya bisa berupa minimalisasi gap gaji antara pimpinan tertinggi dan staf pelaksana, serta alokasi profit AUM yang terstruktur untuk program pemberdayaan ekonomi warga, bukan hanya pembangunan fisik.

Langkah strategis kedua adalah membangun ekosistem bisnis terintegrasi dengan mendirikan Holding Bisnis Muhammadiyah yang profesional. Holding ini harus dipimpin oleh manajer ahli dan mengintegrasikan potensi ekonomi lintas struktur, dari pusat hingga ranting. Strategi ini juga harus menggerakkan budaya ekonomi internal yang kuat, seperti belanja sesama warga (buying power) dan jaringan bisnis antarkader.

Selanjutnya, diperlukan penguatan kewirausahaan kader berbasis digital, yang difasilitasi melalui pendampingan intensif dan akses modal ventura syariah.

Selain itu, pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) harus diubah dari pola konsumtif menjadi produktif. Hal ini bisa dilakukan dengan mendirikan Badan Wakaf Produktif yang fokus pada pengembangan aset wakaf tunai dan tanah menjadi sumber modal untuk pemberdayaan ekonomi warga.

Amal usaha harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong kesejahteraan warga, bukan hanya menara gading yang berdiri sendiri.

Muhammadiyah juga harus memastikan bahwa budaya ikhlas yang menjadi ciri utama gerakan tidak menjelma menjadi pembiaran struktural terhadap ketimpangan.

Milad Muhammadiyah ke-113 ini adalah ruang refleksi penting bagi seluruh komponen persyarikatan. Gerakan besar ini telah memberikan kontribusi luar biasa bagi bangsa, namun kini saatnya menatap ke dalam dan memastikan kesejahteraan warga sendiri mendapatkan perhatian yang serius dan berkeadilan.

Pepatah bijak mengatakan, “Kekuatan sebuah bangunan bukan terletak pada megahnya menara, melainkan pada kokohnya fondasi.” Dengan tekad kolektif dan langkah strategis yang terencana, Muhammadiyah akan memasuki abad kedua dengan lebih kuat, mandiri, dan berkemajuan.

Ini bukan hanya tentang membuktikan bahwa dakwah menggembirakan adalah realitas, tetapi tentang menjawab tantangan sejarah: Menjadikan kesejahteraan umat sebagai tanda keberkahan gerakan.

Baca juga:

Setelah Bank Syariah Muhammadiyah Lahir

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: