Dalam visi Pendidikan Islam Berkemajuan, pentingnya ilmu menempati posisi sentral, bukan sekadar alat meraih gelar. Melalui integrasi nalar dan wahyu, Muhammadiyah menjawab tantangan pendidikan era digital dengan melahirkan intelektual yang ulama dan ulama yang intelektual.
Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 1912, selalu menekankan pentingnya ilmu sebagai pondasi kehidupan beragama dan berbangsa. Dari perspektif Muhammadiyah, kata-kata emas yang dikutip Imam Al-Ghazali—berasal dari atsar sahabat Mu’adz bin Jabal r.a.—bukan sekadar motivasi rohani. Kalimat “Menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad” adalah panggilan nyata untuk membangun peradaban.
Gerakan ini mewarisi semangat salafush shalih melalui amal usaha pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Hal ini selaras dengan visi Muhammadiyah untuk mencerdaskan umat agar taat kepada Allah sekaligus berkontribusi pada kemajuan bangsa.
Menuntut Ilmu sebagai Taqwa: Fondasi Akidah Muhammadiyah
Dalam ajaran Muhammadiyah, pentingnya ilmu terlihat jelas dalam konsep taqwa. Menuntut ilmu adalah taqwa sejati, yakni menjaga diri dari murka Allah melalui pemahaman mendalam tentang syariat. Tanpa ilmu, taqwa hanyalah rutinitas kosong. Al-Qur’an menegaskan “Innamal a’malu binniyat” (amal tergantung niat), dan niat benar lahir dari ilmu.
Muhammadiyah menerapkan penguatan akidah dan akhlak ini secara nyata melalui ortom seperti ‘Aisyiyah dan Hizbul Wathan. Mereka mendidik anak muda memahami fiqih, tauhid, dan akhlak sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Di era digital penuh godaan bid’ah dan paham sesat, Muhammadiyah menyerukan pentingnya ilmu untuk menolak penyimpangan. Gerakan ini membangun ribuan sekolah dari MI hingga PTM untuk melunakkan hati, sehingga umat tak terjebak hoaks atau sekularisme.
Menyampaikan Ilmu sebagai Ibadah: Tradisi Pengajian Muhammadiyah
Menyampaikan ilmu adalah ibadah utama bagi Muhammadiyah, yang mengadopsi sabda Rasulullah SAW: “Khairukum man ta’allamul Qur’an wa ‘allamahu.” Ilmu yang dipendam sia-sia, seperti harta karun terkubur. Muhammadiyah merealisasikan pentingnya ilmu ini melalui pengajian rutin di masjid, majelis taklim, dan platform digital, mengajak keluarga dan tetangga keluar dari kegelapan kebodohan.
Seperti kata Imam Syafi’i, pengajar ibarat orang yang beramal shaleh berlipat ganda. Di Muhammadiyah, setelah pengajian, ilmu didiskusikan di rumah atau komunitas. Hal ini menghasilkan pahala berlipat dan memperkuat ukhuwah Islamiyah, sebuah praktik ibadah syar’iyyah yang membangun umat mandiri.
Mengulang-Ulang Ilmu sebagai Zikir: Tadarus Harian Muhammadiyah
Mengulang ilmu adalah zikir yang menghidupkan hati, bukan hafalan mati. Ini adalah inti dari adab menuntut ilmu Imam Al-Ghazali. Rasulullah SAW bersabda: “Innamal ‘ilmu bi ta’lim,” dan pengulangan adalah inti belajar. Muhammadiyah mengajarkan ini melalui tadarus Al-Qur’an harian dan review hadits, menyatukan zikir lisan (lafzhi) dengan hati (tafakkur).
Mengingat pentingnya ilmu, praktik sederhana seperti membaca kitab setelah shalat atau menghafal satu hadits per hari menjadi lebih utama daripada tasbih semata. Hal ini karena ilmu menyentuh akal, hati, dan amal sekaligus. Ini membersihkan dosa seperti hujan pada tanah kering, menenangkan jiwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Mencari Ilmu sebagai Jihad: Perjuangan Berkemajuan Muhammadiyah
Mencari ilmu adalah jihad akbar melawan kejahilan yang menjadi akar kemungkaran. Sabda Rasulullah SAW: “Thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin” menjadi landasan bahwa mencari ilmu adalah jihad fi sabilillah bagi warga Muhammadiyah. Jihad ini berlangsung dari masa melawan kolonialisme hingga kini melawan hoaks digital dan materialisme.
Karena pentingnya ilmu, jihad ini tak kenal usia: anak ke TPA, pemuda kuliah di UMY atau UMS, hingga orang tua ikut kajian. Kita harus melawan kemalasan (kasal) dan kebosanan (futur) dengan istiqamah. Rumah harus menjadi madrasah kecil dan masjid sebagai pusat pengajian sebagaimana wasiat Rasulullah. Muhammadiyah mengamalkan ilmu untuk dunia akhirat, membangun umat cerdas, sehat, dan sejahtera.
Kesimpulan
Pada hakikatnya, Muhammadiyah mewujudkan empat pilar tersebut dalam perjuangan nyata membangun umat cerdas dan beradab. Dari fondasi akidah yang kokoh hingga amal usaha pendidikan modern, gerakan ini menolak kejahilan sebagai musuh utama. Dengan semangat tajdid K.H. Ahmad Dahlan, mari kita hayati kembali pentingnya ilmu sebagai jihad abadi yang membawa keberkahan dunia-akhirat bagi seluruh umat.
Baca juga:
Rahasia Keseimbangan Spiritual: Saat Ilmu Syaraf Bertemu Iman
Sambut Isra Miraj 2026: Jangan Biarkan Ilmu Menguap Tanpa Amal Nyata!