Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Tabligh 4 menit baca

Piknik dan Kuliner: Seni Beragama dengan Mudah dan Bahagia

Drs. H. Danusiri, M.Ag.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Dosen Al Islam dan Kemuhammadiyahan Unimus

Piknik dan Kuliner: Seni Beragama dengan Mudah dan Bahagia
enerapkan prinsip beragama dengan mudah melalui keseimbangan antara ibadah ritual dan menikmati karunia Allah lewat wisata serta kuliner.

Dewasa ini, banyak orang mencari cara agar bisa beragama dengan mudah di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin kompleks. Namun, kenyataannya kita masih sering menjumpai model keberagamaan yang terasa sangat kaku dan membebani bagi sebagian muslimin.

Ada kelompok yang memilih jalan zuhud dengan tampilan melankolis dan berpakaian lusuh. Mereka cenderung memandang dunia secara pesimistis karena merasa kiamat sudah sangat dekat.

Di sisi lain, muncul pula model beragama yang serba formalistik tanpa mau mengenal budaya lokal. Kelompok ini sering kali mengharamkan banyak hal hanya karena dianggap tidak sesuai dengan zaman Nabi.

Anehnya, mereka yang berpikiran kaku ini terkadang justru diam terhadap kedhaliman penguasa. Mereka cenderung mengabaikan kemungkaran nyata yang terjadi tepat di depan mata.

Selain itu, terdapat model beragama madzhabiah yang sangat eksklusif. Sebagian mubaligh bahkan dengan mudah menyesatkan mereka yang tidak mengikuti madzhab Syafi’iyyah.

Padahal, klaim tersebut terkadang bertentangan dengan pendapat asli Imam Syafi’i sendiri. Hal ini terlihat pada perbedaan praktik tradisi lokal hingga penggunaan cadar bagi Muslimah.

Meskipun sering menyerukan moderasi beragama, kelompok ini terkadang masih membubarkan pengajian sesama Muslim. Hal ini tentu sangat kontras dengan semangat persaudaraan Islam.

Sikap mereka terasa ironis karena dapat tampil sangat toleran terhadap ritual nonmuslim. Mereka bahkan sering terlibat langsung dalam acara perayaan besar agama lain.

Panduan Al-Qur’an untuk Beragama dengan Mudah

Sesungguhnya, cara beragama yang terlalu ekstrem dan kaku akan terasa sangat melelahkan bagi jiwa. Sejarah membuktikan bahwa paham yang memberatkan umat biasanya tidak akan bertahan lama.

Oleh karena itu, kita perlu kembali pada prinsip untuk beragama dengan mudah sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Beliau selalu menekankan kemudahan dalam setiap urusan ibadah.

Rasulullah SAW bersabda: يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِرُوا وَلَا تُنَفِّرُوْا Artinya: “Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari [dari kebenaran]” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau juga menegaskan bahwa agama Islam pada dasarnya tidaklah memberatkan: إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ Artinya: “Sesungguhnya agama itu mudah… hendaklah pertengahan, bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan dengan amal-amal pada waktu kalian bersemangat.” (HR. Bukhari).

Bahkan, Allah SWT sangat senang jika hamba-Nya mengambil keringanan yang telah disediakan: إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya dikerjakan.” (HR. Ahmad).

Ketiga hadis di atas menunjukkan bahwa beragama dengan mudah adalah inti dari Islam Wasathiyah. Kita sebaiknya berislam secara berkemajuan tanpa harus kehilangan kegembiraan dalam hidup.

Wisata dan Kuliner Sebagai Bentuk Syukur

Secara spiritual, kita harus menjaga keseimbangan hidup antara rasa syukur dan sabar. Jangan sampai kita hanya mampu bersabar saat susah, namun gagal bersyukur saat senang.

Setelah menuntaskan kewajiban ibadah rutin, kita berhak mengapresiasi diri melalui aktivitas yang menyenangkan. Menikmati wisata religi dan kuliner halal adalah salah satu jalan mensyukuri nikmat-Nya.

Al-Qur’an secara eksplisit mengajak kita untuk menjelajahi bumi: هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ Artinya: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS. al-Mulk: 15).

Ayat tersebut menjadi landasan bahwa piknik dan menikmati kuliner adalah bagian dari ibadah syukur. Kita bisa mengunjungi masjid-masjid agung yang indah di berbagai penjuru daerah hingga mancanegara.

Saat kita memadukan kegembiraan wisata dengan ibadah di masjid, kita sedang mempraktikkan cara beragama dengan mudah. Kita tetap mengagungkan asma Allah sambil menikmati indahnya ciptaan-Nya.

Sebagai penutup, marilah kita menjalankan agama dengan hati yang ringan dan penuh nikmat. Dengan beragama dengan mudah, kita akan menemukan kedamaian spiritual yang sejati dan berkelanjutan.

Baca juga:

Muhammadiyah dan Wasathiyah

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: