Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.
Opini 6 menit baca

Problem dan Tantangan Muhammadiyah

Gunoto Saparie

Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah

Problem dan Tantangan Muhammadiyah

Di sebuah ruang kelas milik sekolah Muhammadiyah, seorang guru menjelaskan tentang pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Sementara itu, di luar ruang, dunia bergerak dengan kecepatan cahaya: Google menjawab semua soal dalam hitungan detik, TikTok mengajarkan tafsir agama dalam potongan tiga puluh detik, dan kebenaran tak lagi datang dari teks, melainkan dari jumlah like dan pengikut.

Dalam guncangan zaman seperti itu, Muhammadiyah tetap berdiri. Ia telah membuka sekolah bahkan sebelum Indonesia merdeka. Ia mendirikan rumah sakit ketika negara masih berdebat tentang bentuknya.

Tetapi seperti semua lembaga yang lahir dari semangat pembaruan, ia pun harus terus bergulat dengan pertanyaan lama: Bagaimana menjaga jati diri sambil mengikuti zaman?

Problem pendidikan Muhammadiyah bukan semata problem fasilitas. Di balik gedung yang tegak dan ruang kelas yang ramai, terdapat dua luka dalam yang tak selalu tampak: luka filosofis dan luka manajerial.

Yang pertama adalah pertanyaan yang belum selesai dijawab: Untuk apa pendidikan Islam itu ada? Apakah ia harus menyiapkan generasi yang saleh secara spiritual, ataukah generasi yang siap bersaing secara global? Ataukah keduanya? Tetapi bagaimana mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an dan sekaligus menguasai coding?

Filsafat pendidikan Muhammadiyah, sejak K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan Al-Ma’un dengan tindakan sosial, selalu menyimpan semangat untuk menyatu dengan dunia nyata. Tapi dunia itu kini semakin rumit. Sains bergerak terlalu cepat, agama ditarik ke ranah identitas politik, dan anak-anak belajar lebih banyak dari reel Instagram daripada dari guru mereka. Dalam situasi seperti itu, pendidikan memerlukan orientasi ulang. Tapi siapa yang berani menulis ulang peta jalan itu?

Problem manajemen dan kepemimpinan pun tak kalah pelik. Sebagian pengelola sekolah lebih nyaman mengurus administrasi ketimbang merumuskan visi. Birokrasi menyelimuti banyak inovasi. Di beberapa tempat, loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi. Profesionalisme guru kerap terjebak dalam ritus formal, bukan dalam refleksi substansial. Strategi pembelajaran masih sering meniru masa lalu, bukan menciptakan masa depan.

Tentu, Muhammadiyah bukan diam. Ia membangun sekolah bertaraf internasional. Ia menyusun kurikulum integratif. Tetapi pertarungan utama bukan hanya pada kurikulum, melainkan pada pemaknaan. Pendidikan Muhammadiyah, di tengah laju globalisasi, media sosial, dan multikulturalisme, ditantang untuk tetap menjadi jalan tengah: tidak kehilangan identitas, tapi juga tidak tertinggal dari zaman. Sebuah posisi yang sukar, tetapi mungkin. Karena itulah posisi para mujaddid sepanjang sejarah.

Pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah sesungguhnya tak pernah kecil. Ia membarui lembaga pendidikan, ia membarui metode, ia membarui cara pandang terhadap ilmu dan agama.

Di masa lalu, ini terlihat ketika sekolah-sekolah Muhammadiyah menerima pelajaran eksakta dan bahasa Belanda. Hari ini, pembaruan itu tampak ketika Muhammadiyah mulai membuka program digitalisasi pendidikan, membangun sistem belajar daring, bahkan mengembangkan pendidikan karakter berbasis Al-Ma’un.

Tetapi semangat pembaruan bukan hanya perkara inovasi teknis. Ia adalah teologi. Ia adalah ideologi. Ia adalah karakter yang memandang kemajuan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai amanat.

Dalam kerangka itu, pendidikan Muhammadiyah tidak hanya mendidik untuk dunia, tapi juga untuk keadaban. Ia mengajarkan bahwa Islam bukan hanya soal doktrin, tetapi juga aksi: mengangkat anak jalanan, merawat orang miskin, menggerakkan perempuan untuk tak hanya berada di belakang dapur.

Di tengah semua itu, Muhammadiyah tetap memikul warisan berat: menjadi pelopor. Pelopor pendidikan Islam modern. Pelopor rumah sakit rakyat. Pelopor gerakan sosial keagamaan. Tetapi pelopor selalu sendiri di depan. Ia akan pertama kali diterpa angin kencang. Maka bukan aneh jika ia sering goyah, lelah, bahkan mungkin salah.

Namun seperti Ahmad Dahlan yang tetap mengajarkan Al-Ma’un meski dicemooh sebagai pembaru aneh, pendidikan Muhammadiyah akan terus berjalan, menghadapi problem filosofis dan manajerialnya, menyesap tantangan zaman, dan terus bertanya: Untuk siapa ilmu ini? Untuk siapa sekolah ini?

Dan mungkin, seperti semua jawaban penting, jawabannya tidak ditemukan di seminar atau rapat kerja, tetapi di ruang kelas yang sederhana. Di sana, seorang guru tetap mengajar, dengan suara lembut, sambil mengisi papan tulis putih yang perlahan penuh.

Tantangan Regenerasi

Di Muhammadiyah sendiri, waktu adalah sesuatu yang datang dan tidak pergi. Ia seperti cahaya subuh yang diam-diam menyapu musala kampung. Ia muncul pelan-pelan di pelipis generasi tua, dalam bisikan kajian, dalam nada-nada bergetar ketika berbicara tentang amar ma’ruf nahi munkar. Tetapi juga dalam kegamangan, ketika harus menjawab pertanyaan paling sunyi: kepada siapa tongkat ini akan berpindah?

Problem regenerasi di Muhammadiyah bukanlah sekadar persoalan struktural. Ia bukan hanya soal siapa yang duduk di Pimpinan Pusat atau siapa yang kelak akan menggantikan Ketua Umum. Lebih dari itu, ia adalah perihal pewarisan cara berpikir, cara merasa, dan cara mengabdi. Dan itu, kadang-kadang, lebih sulit dari sekadar menetapkan nama dalam Musyawarah Wilayah.

Ada kerinduan yang sering kali membeku dalam diam. Kerinduan akan kader-kader muda yang tak hanya cakap membaca kitab, tetapi juga mampu membaca zaman. Yang tidak hanya paham tafsir, tetapi juga bisa menafsirkan algoritma media sosial, isu perubahan iklim, atau kegamangan identitas urban.

Tetapi regenerasi seperti ini membutuhkan tanah yang subur dan langit yang lapang. Ia tak bisa tumbuh dalam kepemimpinan yang terlalu sibuk mengurus administrasi, atau dalam organisasi yang lebih menyukai rutinitas ketimbang refleksi.

Maka yang terjadi sering kali adalah paradoks: para pimpinan Muhammadiyah, dengan ketulusan yang tak diragukan, tetap bekerja tanpa henti di usia senja. Namun, di sisi lain, para pemuda justru sibuk mencari ruang lain yang lebih cair, lebih mendengar, dan lebih memungkinkan mereka berekspresi tanpa terlalu banyak batas formalitas. Lalu lahirlah jurang; bukan karena niat buruk, namun karena komunikasi yang membeku dalam birokrasi.

Barangkali yang luput dari banyak forum adalah bahwa regenerasi bukan hanya soal pelatihan kader, bukan pula sekadar memperbanyak Madrasah Mu’allimin atau perkaderan Baitul Arqam. Ia adalah bagaimana Muhammadiyah menciptakan ruang yang membuat anak-anak muda merasa dibutuhkan, bukan hanya ditugaskan. Merasa diajak berpikir, bukan hanya disuruh mengerjakan.

Di titik ini, saya teringat pada K.H. Ahmad Dahlan yang mengajar kepada murid-muridnya tidak lewat ceramah panjang, melainkan lewat ajakan menjemput anak yatim dan memberi mereka makan. Mungkin, regenerasi itu lebih mirip seperti itu: bukan sekadar mengisi formulir keanggotaan, namun menyalakan nyala empati dan keberanian bertindak.

Tetapi, sebagaimana semua hal yang hidup, Muhammadiyah juga punya harapan. Di ruang-ruang kecil yang tak banyak disorot, anak-anak muda masih mendiskusikan Islam dan kemanusiaan. Di pojok kampus, di warung kopi, atau di lini masa, mereka mencari wajah Muhammadiyah yang sanggup bicara tentang Palestina dan juga tentang krisis iklim. Yang sanggup berdiri untuk pluralisme, tetapi juga tak kehilangan akar dari akidah.

Dan mungkin, itulah regenerasi yang sesungguhnya: bukan mengganti orang, tetapi menyalakan kembali semangat. Seperti subuh yang tak pernah datang tiba-tiba, namun perlahan-lahan mengusir gelap.

Editor: Agung S Bakti
Isi artikel adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.
Bagikan: