“Semarang Kaline Banjir”. Potongan syair campursari ini begitu melekat dengan kondisi ibu kota Jawa Tengah, baik saat musim hujan maupun kemarau (banjir rob). Bulan Oktober 2025 lalu, Semarang dilanda banjir yang berlangsung hingga delapan hari.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Semarang menunjukkan, bencana ini merendam 24 kelurahan di lima kecamatan, menyebabkan lebih dari 63.400 jiwa terdampak di Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari, serta tiga orang meninggal dunia.
Namun, di balik genangan air dan data kerugian yang masif, ada fakta sosiologis yang menarik: Banjir tak hanya membawa dampak kerugian, melainkan juga menumbuhkan resiliensi sosial (daya tahan sosial) yang kuat. Inilah bentuk semangat gotong royong warga yang membanggakan di tengah masyarakat kota yang sering dicap individualis.
Lantas, bagaimana fenomena penerimaan bencana ini terbentuk di masyarakat Semarang?
Masyarakat Kota Semarang seakan sudah terbiasa. Pemahaman umum di kalangan warga perihal banjir umumnya mencakup dua aspek utama: penerimaan kondisi geografis sebagai kota langganan banjir dan rob, serta penghargaan yang tinggi dengan munculnya solidaritas sosial yang kuat di tengah musibah.
Menerima Takdir Geografis, Menuntut Solusi Komprehensif
Penulis mencoba sedikit mengurai penerimaan masyarakat terhadap banjir yang terjadi hampir tiap tahun. Sebagian warga Kota Semarang memahami bahwa banjir, termasuk rob (banjir air pasang laut), adalah bagian dari tantangan hidup di kota dengan topografi bervariasi (dataran rendah dan pesisir).
Hal ini diperparah dengan pergeseran tata kelola lahan di Semarang atas atau hulu, yang sering disebut-sebut sebagai faktor penyebab limpasan air deras ke pesisir karena berkurangnya lahan resapan air.
Melihat kondisi tersebut, kita tentunya memiliki banyak harapan akan adanya solusi yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Masyarakat berharap adanya solusi transformatif, integratif, dan komprehensif dari pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan untuk menangani banjir secara permanen.
Upaya seperti pembangunan waduk dan sistem drainase yang lebih baik diapresiasi, namun warga juga menyadari perlunya partisipasi aktif masyarakat dalam pencegahan, seperti tidak melakukan pembangunan dan penggundulan lahan secara berlebihan.
Solidaritas Spontan: Menepis Cap Individualisme Kota
Peristiwa banjir memiliki dampak sosial ekonomi yang nyata. Mulai dari terhambatnya aktivitas (jalanan macet), risiko kesehatan seperti diare, hingga kerugian ekonomi dan sulitnya akses air bersih terganggu.
Namun, menurut pandangan Sosiologi, rentetan bencana banjir dari tahun ke tahun terbukti mampu menumbuhkan dan membangkitkan rasa solidaritas sosial yang cukup kuat antar warga Kota Semarang, bahkan di masyarakat perkotaan yang cenderung individualis. Tipikal masyarakat Indonesia secara umum memiliki semangat gotong royong yang muncul secara spontan ketika ada musibah. Aksi ini melibatkan warga, relawan, komunitas, institusi pendidikan, hingga berbagai organisasi keagamaan dan sosial politik.
Sebagai contoh nyata, Tim Gabungan Muhammadiyah Semarang tidak hanya menyediakan logistik dan dapur umum, tetapi juga mengerahkan tim medis dari RS Roemani untuk layanan pengobatan gratis bagi ratusan warga di Genuk yang terendam banjir selama berhari-hari. Ini membuktikan bahwa bencana tidak menenggelamkan semangat kemanusiaan.
Solidaritas yang terlihat melalui berbagai cara. Mulai dari penggalangan dana, penyaluran bantuan logistik (makanan, pakaian, kebutuhan pokok), penyediaan tempat pengungsian dan pemantauan kesehatan.
Kolaborasi erat ini, yang terjadi tidak hanya antar warga tetapi juga dengan pemerintah daerah dan pihak swasta (perusahaan di Semarang), menunjukkan ekosistem bantuan bencana yang terkoordinasi dan efektif.
Banjir memang membawa kerugian sosial ekonomi yang besar. Namun, rentetan bencana kronis justru terbukti menumbuhkan dan membangkitkan rasa solidaritas sosial yang kuat antar warga Semarang. Yang pasti, semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang muncul spontan ini membuktikan resiliensi sosial masyarakat Semarang, yang tidak akan ditenggelamkan oleh genangan air.