Selamat kepada Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, atas diraihnya Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 untuk kategori Pemikiran Sosial.
Ada penghargaan yang datang kepada seseorang karena ia berdiri di panggung. Ada pula penghargaan yang, barangkali justru lebih bermakna, datang kepada seseorang karena ia telah lama berjalan di luar panggung. Haedar Nashir tampaknya termasuk yang kedua.
Pada 26 Agustus 2026, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Haedar Nashir menerima Penghargaan Achmad Bakrie bidang Pemikiran Sosial. Dewan juri menempatkannya sebagai “Intelektual Indonesia Penggerak Moderasi dan Islam Berkemajuan.”
Penghargaan tahun ini membawa tema “Aksi Nyata untuk Indonesia”, sebuah frasa yang terasa penting: pemikiran tidak cukup tinggal sebagai pikiran. Ia mesti turun menjadi tindakan, menjadi kelembagaan, menjadi pendidikan, menjadi pelayanan sosial, menjadi cara manusia hidup bersama.
Haedar sendiri agak terkejut. Ia bahkan mengaku sempat merasa penghargaan itu seperti “salah alamat”. Sebab, katanya, ia memang bergerak di bidang akademik, tetapi sebagian besar waktunya dicurahkan untuk Muhammadiyah. Mengurus organisasi, bagi Haedar, adalah sebuah “jalan sunyi”. Tetapi jalan sunyi bukan berarti jalan yang kosong. Di sanalah orang membebaskan, memberdayakan, memajukan, dan mendampingi masyarakat.
Barangkali justru di situlah kita menemukan alasan terdalam mengapa Penghargaan Achmad Bakrie tersebut layak diberikan kepadanya.
Haedar bukan sekadar seorang profesor sosiologi yang kebetulan menjadi pemimpin organisasi Islam besar. Ia berada di antara dua dunia yang sering dianggap berjauhan: dunia gagasan dan dunia gerakan. Ia membaca masyarakat sebagai seorang akademisi, tetapi juga menghadapinya sebagai seorang pemimpin organisasi. Ia berbicara mengenai moderasi bukan hanya sebagai konsep, melainkan sebagai kebutuhan hidup bersama.
Dan Indonesia, dengan segala keragamannya, memang membutuhkan pemikiran sosial semacam itu.
Negeri ini tidak hanya terdiri atas angka-angka statistik tentang jumlah penduduk, suku, agama, dan pulau. Ia terdiri atas perjumpaan. Di pasar, di sekolah, di kampus, di masjid, di kantor, di ruang digital—orang-orang yang berbeda harus berbagi sebuah ruang yang sama. Karena itu, gagasan tentang wasathiyah, tentang posisi tengah, menjadi penting. Bukan tengah sebagai sikap abu-abu, melainkan sebagai kemampuan untuk tidak terjerumus ke dalam ekstremitas.
Haedar berulang kali menekankan bahwa moderasi harus menjadi jalan untuk membangun kehidupan bersama. Ia memandang Indonesia mempunyai modal historis yang kuat untuk itu. Keberagaman agama, etnis, bahasa, dan budaya bukan alasan untuk memecah bangsa, melainkan kenyataan yang harus dikelola melalui keterbukaan dan persaudaraan. Ikatan Sosiologi Indonesia bahkan mengangkatnya sebagai anggota kehormatan, antara lain karena kontribusinya dalam pemikiran tentang moderasi beragama, bangsa, dan negara.
Di sini Islam Berkemajuan menjadi lebih dari sebuah semboyan.
Islam Berkemajuan adalah usaha untuk mempertemukan kesalehan dengan kemajuan, iman dengan ilmu, keberagamaan dengan kemanusiaan. Islam tidak berhenti di masjid. Ia masuk ke sekolah, universitas, rumah sakit, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, riset, kebudayaan, dan berbagai bentuk kerja kemanusiaan.
Itulah sebabnya capaian Haedar tidak bisa dihitung hanya dari berapa banyak pidato yang pernah ia sampaikan atau berapa banyak forum yang pernah ia hadiri. Ia harus dilihat melalui bagaimana gagasan itu bekerja dalam tubuh Muhammadiyah.
Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah sejak 2015, Haedar berada dalam posisi penting untuk menjaga sekaligus mendinamisasi gerakan yang telah berusia lebih dari satu abad. Muhammadiyah, dengan jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaannya, adalah salah satu contoh bagaimana gagasan keislaman dapat dilembagakan menjadi kerja nyata. Haedar sendiri menekankan bahwa Islam Berkemajuan bukan sekadar rumusan pemikiran, melainkan sesuatu yang dibuktikan melalui perjalanan Muhammadiyah sejak kelahirannya.
Tetapi seorang pemikir tentu tidak cukup hanya memimpin organisasi. Ia harus meninggalkan jejak dalam kata.
Dalam hal ini Haedar adalah seorang penulis yang produktif. Ia telah menghasilkan puluhan buku dan ratusan tulisan. Pada 2024, ia menyebut telah menulis sekitar 37 buku, sekitar 500 tulisan untuk Suara Muhammadiyah, serta secara rutin menulis Risalah di Republika sejak 2010. Salah satu karya pentingnya, Gerakan Islam Berkemajuan, terbit setebal sekitar 750 halaman dan berusaha menjelaskan Muhammadiyah secara teoritik sekaligus faktual sebagai contoh gerakan Islam berkemajuan.
Di sini tampak bahwa literasi bagi Haedar bukan pekerjaan sampingan. Ia adalah bagian dari dakwah intelektual.
Pada 2025, Haedar juga menerima penghargaan sebagai Tokoh Perbukuan Islam 2025 dari Ikatan Penerbit Indonesia melalui Islamic Book Fair Award. Penghargaan itu diberikan atas konsistensinya menghidupkan literasi sebagai bagian dari gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah.
Ada sesuatu yang menarik dari seorang pemimpin organisasi yang masih merasa perlu menulis.
Kekuasaan organisasi mempunyai batas masa jabatan. Jabatan memiliki tanggal mulai dan tanggal selesai. Tetapi buku dapat berjalan lebih jauh daripada jabatan. Ia dapat berpindah tangan, masuk perpustakaan, dibaca mahasiswa, diperdebatkan di ruang kelas, bahkan disanggah oleh generasi sesudah penulisnya. Dengan menulis, seorang pemimpin bersedia meninggalkan dirinya dalam ruang yang lebih terbuka: ruang kritik. Dan mungkin itulah salah satu ciri intelektualisme yang sehat.
Haedar juga menunjukkan perhatian terhadap persoalan-persoalan baru yang dihadapi umat dan masyarakat. Dalam gagasannya mengenai ekoteologi, misalnya, Islam ditempatkan dalam hubungan dengan tanggung jawab manusia terhadap bumi. Alam tidak semata-mata menjadi sumber daya yang boleh dieksploitasi, tetapi bagian dari amanah kekhalifahan manusia.
Ini penting karena zaman telah berubah.
Dulu persoalan umat mungkin dibicarakan dalam batas masjid dan madrasah. Kini persoalannya meluas: perubahan iklim, teknologi digital, ketimpangan ekonomi, politik identitas, krisis moral, polarisasi, hingga banjir informasi yang membuat manusia bisa merasa pintar hanya karena memiliki banyak data.
Dalam situasi semacam itu, agama dituntut bukan hanya untuk menjawab pertanyaan lama, tetapi juga pertanyaan yang belum pernah ada sebelumnya.
Di sinilah pemikiran sosial menjadi penting. Ia menjadi semacam jembatan antara teks dan kenyataan. Antara keyakinan dan masyarakat. Antara apa yang diyakini sebagai kebenaran dan bagaimana kebenaran itu diwujudkan dalam kehidupan bersama.
Maka, selamat kepada Haedar Nashir.
Tetapi mungkin ucapan selamat itu tidak hanya layak diberikan kepada seseorang yang namanya tertulis dalam piagam. Sebab ia sendiri telah mengatakan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata untuk dirinya. Ia memaknainya sebagai penghargaan bagi Muhammadiyah, bagi masyarakat, bagi bangsa, dan bagi Indonesia.
Ada kerendahan hati dalam sikap itu. Tetapi ada pula sebuah pelajaran.
Bahwa dalam kehidupan sosial, seseorang jarang benar-benar bekerja sendirian. Di belakang seorang pemimpin terdapat ribuan orang yang mungkin tak pernah disebut namanya: guru yang mengajar di pelosok, dokter yang melayani pasien, pengurus amal usaha, mahasiswa, relawan, mubalig, peneliti, pekerja sosial, dan warga yang setiap hari melakukan kebaikan tanpa kamera.
Mereka semua adalah bagian dari jalan sunyi itu.
Dan mungkin sebuah bangsa memang dibangun bukan hanya oleh mereka yang paling sering terlihat, tetapi oleh mereka yang terus bekerja ketika sorot lampu telah padam.
Penghargaan Achmad Bakrie kali ini mengingatkan kita kepada hal sederhana: pemikiran yang baik seharusnya tidak berakhir sebagai hiasan rak buku. Ia mesti menemukan tubuhnya dalam tindakan. Ia mesti menjadi sekolah yang mencerdaskan, rumah sakit yang menyembuhkan, lembaga sosial yang memberdayakan, dan sikap keberagamaan yang membuat manusia merasa aman berdampingan dengan manusia lain.
Selamat, Prof. Haedar Nashir.
Semoga penghargaan ini tidak menjadi titik akhir, melainkan jeda kecil di tengah perjalanan panjang. Sebab jalan yang Anda sebut sebagai jalan sunyi itu masih panjang. Indonesia masih membutuhkan pikiran yang jernih, agama yang mencerahkan, dan pemimpin yang mampu mempertemukan keduanya.
Mungkin itulah arti sebuah Penghargaan Achmad Bakrie bagi sosok Prof. Haedar Nashir: bukan sekadar sebuah benda yang diletakkan di atas meja, melainkan pengingat bahwa apa yang dikerjakan dalam kesunyian pun, suatu ketika, dapat menemukan cahaya.