Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Awas! Pahala Puasa Bocor di Jalur Medsos

21 Februari 2026, 22:55 WIB 3 menit baca
Ustadz Imam Santoso Abu Maulana memberikan ceramah tarawih peringatan bahaya medsos bagi pahala puasa di Masjid At-Taqwa Nurul Huda, Muhammadiyah Semarang.
Ustadz Imam Santoso Abu Maulana menyampaikan ceramah tarawih terkait bahaya ghibah online yang dapat merusak pahala puasa di Masjid At-Taqwa Nurul Huda, PCM Semarang Timur, Sabtu (21/2/2026).

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Kebiasaan sepele bermedia sosial ternyata sangat mengancam ibadah kita. Aktivitas harian ini bahkan bisa membuat pahala puasa menguap tanpa sisa. Oleh karena itu, umat Islam harus ekstra waspada saat memakai gawai.

Peringatan tegas tersebut meluncur langsung dari lisan Ustadz Imam Santoso Abu Maulana. Ia menyampaikannya dalam agenda ceramah tarawih Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Semarang Timur. Acara ibadah ini berlangsung khusyuk di Masjid At-Taqwa Nurul Huda, Sabtu (21/2/2026) malam.

Dalam kesempatan itu, penceramah dari Muhammadiyah Semarang Timur ini menyoroti bahaya lisan digital. Ia mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan kembali esensi puasa. Selanjutnya, ia mengutip pesan mendalam dari Surah Al-Baqarah ayat 183.

“Allah memanggil ‘Yā ayyuhalladzīna āmanū’—wahai orang-orang yang beriman. Bukan ‘Yā ayyuhannās’. Artinya, yang diperintah berpuasa adalah mereka yang benar-benar beriman,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ujian Keimanan dan Ancaman Batal Puasa Esensial

Ayat tersebut menegaskan sebuah pesan penting bagi umat Islam. Ibadah puasa jelas bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus semata. Lebih dari itu, puasa adalah bentuk ujian keimanan yang sangat komprehensif.

Jika seseorang berhasil melewatinya, Allah menjanjikan derajat takwa atau la‘allakum tattaqūn. Selain itu, Allah juga menyiapkan pintu surga Ar-Royyan secara eksklusif bagi mereka. Namun, jamaah sering melupakan ancaman hilangnya pahala puasa secara diam-diam.

Ustadz Imam lantas menyebut lima perkara utama penghancur nilai puasa. Kelima hal itu meliputi ghibah, adu domba, dusta, pandangan bersyahwat, serta sumpah palsu. Sayangnya, masyarakat sering meremehkan ancaman nyata ini.

“Banyak orang berpuasa, tapi pahala puasanya bocor ke mana-mana,” katanya dengan nada mengingatkan.

Hukum Ghibah Saat Puasa di Era Media Sosial

Godaan tersebut ternyata semakin terasa kuat di era digital saat ini. Percakapan ringan di grup komunikasi sering berubah wujud menjadi ajang menyebar aib. Akibatnya, banyak orang tanpa sadar melanggar hukum ghibah saat puasa secara online.

Pelanggaran siber ini tentu berisiko memicu batal puasa secara maknawi. Seseorang bisa menghancurkan amalan puasanya sendiri hanya melalui ujung jari. Oleh sebab itu, kewaspadaan dalam bermedia sosial menjadi sangat krusial selama puasa Ramadan 2026 ini.

“Jangan sampai kita kuat menahan lapar seharian, tetapi gagal menjaga lisan, jari, dan pandangan,” pesannya.

Sebagai penutup, momen ibadah suci ini harus menjadi ajang muhasabah diri. Kita wajib menjaga etika bermedia sosial layaknya menjaga lisan dari makanan. Tujuannya sangat jelas, yakni agar pahala puasa kita tetap utuh dan berbuah ketakwaan.

Baca juga:

Etika Bermedia Sosial dalam Islam: Jihad Digital Melawan Deepfake dan Hoaks

Mengapa Gosip Digital Lebih Menakutkan dari Ghibah Biasa?

Mending Diam Kalau Gak Penting! Ini Alasan Menjaga Lisan dalam Islam

Kontributor: MPI Semarang Timur
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: