Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Awas Mesin Dosa! Kenali Bahaya Dosa Jariyah dari Satu Klik Viral

10 April 2026, 22:38 WIB 2 menit baca
Foto seorang pria (Mukti Warso, M.M.) mengenakan jas hitam, kemeja biru muda, dan peci hitam sedang berdiri di atas mimbar kayu yang dihiasi ukiran khas Islami. Pria tersebut menggunakan mikrofon headset dan kedua tangannya memegang naskah di atas meja mimbar. Di sisi kiri mimbar, tampak sebuah papan informasi dengan teks Arab dan di dinding belakang terdapat saklar lampu serta kabel mikrofon yang menjuntai. Suasana foto menunjukkan momen penyampaian khutbah atau tausiyah di dalam ruangan masjid.
WASPADAI JEJAK DIGITAL: Mukti Warso, M.M. saat menyampaikan peringatan keras mengenai bahaya dosa jariyah dari unggahan konten negatif di media sosial dalam khutbahnya di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Semarang, Jumat (10/4/2026). Beliau menekankan bahwa setiap video, komentar, dan status dapat menjadi "saksi abadi" yang terus mengalirkan konsekuensi ukhrawi meskipun raga pengunggahnya sudah tiada.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Setiap ketukan jari di ponsel kini memiliki konsekuensi ukhrawi yang abadi. Buktinya, Mukti Warso, M.M. menyampaikan peringatan keras mengenai fenomena jejak digital di Masjid At-Taqwa Ngaliyan (10/04/2026). Alhasil, pesan mengenai bahaya dosa jariyah ini sukses menyentuh kesadaran mendalam para jamaah.

Khatib menekankan bahwa kematian fisik bukanlah akhir dari segalanya di era internet. Pasalnya, unggahan berupa video, komentar, hingga status akan menjadi saksi yang terus berbicara. Kehadiran konten negatif bisa memicu bahaya dosa jariyah yang terus mengalir meski raga sudah tiada.

Saksi Abadi: Konten Digital yang Melampaui Usia

Selanjutnya, Mukti Warso menjelaskan ada hal yang tetap hidup meskipun nafas kita terhenti. Buktinya, gambar maksiat yang pernah diunggah akan menjadi ladang dosa jika terus disebarkan orang lain. Dampaknya, peringatan bahaya dosa jariyah ini menjadi alarm bagi pemburu konten viral yang tidak beretika.

Ia pun memberikan analogi keras melalui kisah Qabil yang menanggung beban dosa pembunuhan dunia.

“Ada yang justru hidup setelah kita mati dalam bentuk kata, video, komentar, bahkan status,” tegas Mukti Warso.

Ternyata, setiap tindakan memulai tren buruk akan membuat pelakunya menanggung dosa seluruh pengikutnya. Dampaknya, pemahaman mengenai bahaya dosa jariyah ini mendorong warga untuk lebih selektif dalam berbagi konten. Hal ini membuktikan bahwa tanggung jawab di media sosial jauh lebih berat dari yang dibayangkan.

Ambil Jeda: Lindungi Diri dari Lubang Dosa Digital

Kemudian, jamaah diajak untuk selalu mengambil jeda sebelum membagikan informasi apa pun. Buktinya, tidak semua hiburan ringan di dunia akan terasa ringan saat ditimbang di akhirat. Alhasil, kesadaran menghindari bahaya dosa jariyah wajib menjadi landasan utama setiap individu saat menggunakan gawai.

Khatib menutup pesannya dengan ajakan menjadikan ponsel sebagai ladang dakwah yang subur.

“Renungkanlah, apakah kita sedang menanam pahala jariyah atau sedang menggali lubang dosa?” pungkas Mukti Warso.

Suasana Masjid At-Taqwa tampak hening saat jamaah meresapi setiap kata dari mimbar. Sejatinya, jejak digital yang baik adalah sedekah jariyah terbaik bagi generasi mendatang setelah kita tiada. Mari pastikan setiap jejak jempol kita di dunia maya selalu menuntun menuju ridha Allah SWT!

Baca Juga :

Jalur Langit! Temukan Cara Hapus Dosa Antar Manusia Lewat HalalBihalal

Etika Halal Bihalal Digital di Era Hoaks: Panduan Hindari Dosa Universal

Kontributor: Tim Media Masjid At Taqwa Wates
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: