Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Belajar dari Kopi Ngaji, Wajah Baru Dakwah yang Tak Lagi Kaku

10 Agustus 2026, 19:59 WIB • 2 menit baca
Penceramah Dr. Syakir Jamaluddin berdiri memaparkan materi di depan para peserta Sekolah Tabligh yang duduk rapi di ruangan bernuansa hijau.
Suasana hangat pemaparan materi cara dakwah humanis oleh Dr. Syakir Jamaluddin, M.Ag. di hadapan calon mubaligh Sekolah Tabligh Angkatan I PDM Kota Semarang.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Ajakan “ngopi yuk” ternyata bisa melangkah jauh lebih dalam dibanding imbauan formal datang ke pengajian. Di tengah riuk kehidupan masyarakat yang makin kompleks, cara mendekati manusia lewat cangkir kopi kini menjadi wajah baru dakwah yang menentramkan.

Semangat perubahan tersebut mengemuka kuat dalam agenda pembekalan Sekolah Tabligh Angkatan I PDM Kota Semarang pada Ahad (9/8/2026). Penceramah utama acara tersebut, Dr. Syakir Jamaluddin, M.Ag., mengajak para calon mubaligh untuk berani turun dari mimbar dan menyapa langsung kehidupan warga.

Kemudian, sosok yang menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengkaderan Mubaligh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini membeberkan kunci cara dakwah pendekatan humanis. Pihaknya meminta para da’i untuk segera melangkah menuju pasar, warung kopi, hingga pelosok kampung.

Sebab, masyarakat hari ini tidak sekadar membutuhkan sosok yang pandai bersilat kata di atas mimbar. Mereka justru merindukan pendakwah yang mau mendengar rintihan hati dan memberi jawaban atas kesulitan hidup.

Sentuh Hati Lewat Cangkir Kopi

Selanjutnya, dosen Ekonomi Syariah UMY tersebut membagikan pengalaman suksesnya mengelola gerakan Kopi Ngaji di Yogyakarta. Gerakan unik tersebut sanggup melipatgandakan jumlah jamaah dari 50 orang menjadi 500 orang dalam kurun dua tahun.

Rahasia keberhasilan tersebut ternyata bukan terletak pada pengeras suara yang nyaring atau gedung yang megah. Sebaliknya, pendekatan personal yang hangat dan tidak menggurui menjadi kunci utama dalam merangkul masyarakat luas.

Oleh karena itu, pendakwah hendaknya tidak terburu-buru mengajak warga untuk mendatangi pengajian yang kaku. Sebaliknya, ajakan sederhana untuk duduk santai sambil menikmati secangkir kopi justru sanggup membuka pintu hati yang tertutup.

“Masyarakat tidak sedang menunggu mubaligh yang paling keras suaranya. Mereka sedang menunggu orang yang mau mendengar ketika mereka menangis,” tutur Syakir di hadapan puluhan peserta.

Buka Lapak UMKM

Di samping itu, dakwah yang mencerahkan juga wajib memberikan solusi nyata bagi perekonomian warga sekitar. Pihaknya membuktikan hal tersebut lewat penyediaan lapak UMKM gratis bagi jamaah di sekitar lokasi pengajian.

Dampaknya, kegiatan keagamaan kini tidak hanya memuaskan dahaga spiritual semata. Tempat ibadah mendadak berubah menjadi ruang pemberdayaan ekonomi yang mengangkat harga diri umat.

Lalu, penggerak model Kopi Ngaji Yogyakarta ini menegaskan bahwa toga dan ijazah tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai mubaligh sejati. Sebab, keberhasilan dakwah diukur dari perubahan nyata pada kehidupan masyarakat, bukan dari tepuk tangan penonton.

“Jika dakwah hanya membuat mubaligh terkenal tetapi tidak membuat umat berubah, itu bukan keberhasilan dakwah. Itu hanya keberhasilan membangun panggung,” pangkas Dr. Syakir Jamaluddin, M.Ag. menutup pesan mendalamnya.

Kontributor: Imam S Abu Maulana
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: