Belajar Menjadi Manusia Berkemajuan
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Apa jadinya jika seseorang memiliki banyak identitas, banyak potensi, tapi tidak pernah benar-benar diarahkan? Inilah pertanyaan yang menjadi kunci dalam Kajian Ahad Pagi PCM Tembalang 1. Ketika ratusan jamaah diajak memahami bahwa menjadi “diri berkemajuan” bukan sekadar wacana, tetapi perjalanan sadar untuk terus memperbarui kompetensi dan meninggalkan kebiasaan yang menghambat. Tema ini mengisi hangatnya Milad ke-113 Muhammadiyah pada Ahad 30/11/2025 di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah.
Menata Diri, Menata Kompetensi
Dalam materinya, narasumber Bambang Nugroho mengajak jamaah melihat manusia sebagai makhluk dengan multi identitas dan justru karena itulah setiap orang memiliki peluang besar untuk tumbuh.
Ia menegaskan, “Indikator utama dari Diri Berkemajuan adalah menambah kompetensi baru, memperbarui kompetensi yang telah ada, dan membuang kompetensi yang tidak baik,”
Bambang menjelaskan bahwa kompetensi tidak datang dengan sendirinya. Ia harus “diinstal” melalui pengulangan dan kemauan kuat, bukan sekadar menunggu bakat bawaan. Jamaah diajak menyadari bahwa kualitas hidup sangat bergantung pada kualitas kompetensi yang terus dibangun.
Materi ini sukses membuat suasana kajian lebih reflektif. Banyak jamaah mengangguk, seolah menemukan cermin baru untuk melihat sejauh mana diri ini sudah bergerak menuju kemajuan.
Momentum Milad & Pelantikan PCPM
Kajian ini menjadi semakin meriah karena digelar sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-113 Muhammadiyah, sekaligus menjadi saksi pelantikan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Tembalang 1.
Azhar Rama Surya Negara resmi dilantik sebagai ketua baru untuk periode Muktamar XVIII sebuah momen yang disambut hangat oleh seluruh jamaah.
Para tokoh hadir memberikan dukungan, mulai dari Wakil Ketua PDM Kota Semarang, Ketua PCM Tembalang 1, Ketua PDPM Kota Semarang, perwakilan Polsek, hingga Takmir Masjid At-Taqwa.
Generasi muda kembali diberi amanah untuk membawa visi Muhammadiyah ke masa depan, selaras dengan pesan tentang penguatan identitas dan kompetensi yang tadi digarisbawahi.
Dalam kajian ini menjadi pengingat bahwa kesadaran diri adalah pondasi bagi umat yang ingin tumbuh. Ketika seseorang mampu membaca potensi dirinya, memperbarui kompetensi, dan menyingkirkan hal-hal yang tidak relevan lagi, maka di situlah letak berkemajuan yang sesungguhnya.
Baca Juga : Ternyata Rezeki Itu Dekat Asal Tahu Kuncinya