Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Benarkah Muhammadiyah Anti Tradisi? Fakta Ziarah Kubur Muhammadiyah di Semarang Ini ‘Menampar’ Kesadaran

9 Mei 2026, 21:02 WIB 3 menit baca
Kader Aisyiyah Semarang Timur sedang mendoakan ahli kubur dengan khidmat di Pemakaman Patemon.
Menjaga kemurnian tauhid: Kader Aisyiyah Semarang Timur memanjatkan doa dengan khidmat saat berziarah ke makam tokoh persyarikatan di Komplek Pemakaman Muslim Aisyiyah Patemon.

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org – Fitnah bahwa warga persyarikatan anti tradisi telah lama hidup di tengah masyarakat. Namun, aksi nyata warga Aisyiyah di Pemakaman Patemon akhir pekan ini menjadi tamparan telak, membongkar fakta sebenarnya tentang praktik ziarah kubur Muhammadiyah yang mengedepankan adab sesuai sunnah tanpa kesyirikan.

“Jangan dekat-dekat dengan orang Muhammadiyah, mereka anti ziarah kubur.” Kalimat itu kerap terdengar ringan di lisan, tetapi diam-diam menikam. Menjadi cap buruk yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari tongkrongan ke pengajian, hingga dari generasi ke generasi tanpa pernah benar-benar diperiksa kebenarannya.

Begitulah cara sebuah fitnah hidup. Pelan, tapi menghancurkan.

Tak sedikit warga dipandang sinis hanya karena memilih beragama sesuai tuntunan yang mereka pahami. Dicap keras, dituduh anti tradisi, bahkan dianggap tidak menghormati orang tua yang sudah meninggal. Mirisnya, sebagian masyarakat lebih mudah percaya kabar burung daripada mau duduk membaca dan memahami.

Padahal, ziarah kubur Muhammadiyah bukanlah sesuatu yang dimusuhi. Yang diperangi dengan tegas adalah penyimpangan di atas kuburan.

Ina Farida Patahkan Framing

Pada Sabtu, 8 Mei 2026, suasana di Komplek Pemakaman Muslim Aisyiyah Patemon, Gunungpati, Semarang mendadak menjadi jawaban hidup bagi semua tuduhan tersebut. Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Karang Tempel bersama Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Semarang Timur, di bawah komando Ina Farida, datang berziarah ke makam tokoh-tokoh persyarikatan.

Kehadiran mereka bukan pencitraan, apalagi sekadar drama agama. Ini adalah tamparan telak bagi stigma yang terlalu lama dipelihara oleh masyarakat.

Di hadapan para peserta, Ina Farida menegaskan bahwa anjuran ziarah kubur Muhammadiyah tetap ada dan dihidupkan. Namun, praktik ziarah harus kembali kepada ajaran Rasulullah SAW, yakni mendoakan ahli kubur dan sebagai sarana mengingat kematian. Sesederhana itu.

Pasalnya, kuburan bukanlah tempat untuk meminta nasib, menggantungkan harapan hidup, atau mencari berkah dari tanah dan batu. Manusia sering kali sulit membedakan antara menghormati dan mengkultuskan. Dari situlah semuanya bergeser. Kuburan dibangun megah, makam diselimuti mitos, air dianggap keramat, dan orang datang menangis bukan untuk mendoakan mayit, melainkan meminta urusan dunia.

Lalu, ketika diingatkan akan bahaya tersebut, mereka justru dituduh anti ziarah. Betapa ironisnya negeri ini.

Adab dan Fikih Ziarah Sesuai Sunnah

Oleh karena itu, sebelum memasuki area pemakaman, para peziarah terlebih dahulu dibekali kajian fikih dan adab ziarah kubur yang disampaikan oleh Ustadz Jazuli.

Dalam ceramahnya, tokoh dari Majelis Tabligh PCM Gayamsari ini menjelaskan bahwa Rasulullah memang pernah melarang ziarah kubur di masa awal Islam demi menjaga kemurnian akidah. Setelah iman umat kuat, ziarah kembali disunnahkan, tetapi dengan niat yang lurus. Karena niat yang salah dipastikan akan melahirkan ibadah yang salah.

Itulah sebabnya makam KH Ahmad Dahlan dibuat sangat sederhana. Tidak megah, tidak dikeramatkan, dan tidak dijadikan tempat berburu berkah. Sebab, orang besar tidak membutuhkan bangunan mewah untuk dimuliakan. Yang membuat seseorang mulia adalah amalnya, perjuangannya, dan tauhidnya.

Di tengah suasana hening makam, para peserta diajarkan sunnah-sunnah ziarah yang benar: melepas alas kaki, tidak duduk di atas kuburan, tidak melangkahi nisan, mengucapkan salam kepada ahli kubur, lalu mendoakan mereka dengan tulus. Sederhana, namun justru kesederhanaan itulah yang hari ini terasa asing.

Jangan Meminta pada Ahli Kubur

Hadir pula dalam kajian pagi itu para mubaligh dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang seperti Ustadz Gunarto Muchsin, Ustadz Kasmui, dan Ustadz Fauroni yang mengingatkan satu hal yang sangat menusuk hati: “Jangan meminta macam-macam kepada penghuni kubur.”

Kalimat pendek, tetapi seperti petir yang menyambar kesadaran. Sebab, terlalu banyak manusia yang datang ke makam dengan tubuh yang hidup, tetapi tauhidnya perlahan mati.

Lebih menyedihkan lagi, orang yang berusaha menjaga kemurnian ajaran Nabi melalui adab ziarah kubur Muhammadiyah justru sering dituduh macam-macam.

Mungkin masalah terbesar umat hari ini bukanlah karena mereka tidak mengenal agama. Tetapi karena mereka terlalu marah saat tradisinya disentuh, namun sama sekali tidak pernah takut ketika akidahnya mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Kontributor: Iman Abu Maulana (Semarang Timur)
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: