Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bukan Dengan Racun Kimia, Inovasi RUBUHA Jadi Solusi Alami Hama Tikus

3 September 2026, 13:57 WIB • 3 menit baca
Empat mahasiswa KKN Unimus rompi cokelat dan seorang petani lokal kaos hijau berdiri di bawah tiang panggung Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di tengah hamparan sawah Sukorejo, Grobogan, sambil berpose mengacungkan jempol.
Mahasiswa Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15 berfoto bersama petani lokal di bawah tiang inovasi RUBUHA (Rumah Burung Hantu) yang dipasang di tengah persawahan Desa Sukorejo, Tegowanu, Grobogan, sebagai solusi alami pembasmi hama tikus.

GROBOGAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Di tengah hamparan persawahan Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, berdiri sejumlah panggung kayu sederhana yang mencuri perhatian warga. Seanyak 11 mahasiswa Kelompok 13 KKN Unimus Angkatan 15 mendirikan Rumah Burung Hantu (RUBUHA) tersebut selama masa pengabdian 29 Juli hingga 27 Agustus 2026.

Langkah ini lahir sebagai jawaban nyata atas ancaman hama tikus yang kerap mengintai produktivitas panen warga setempat. Oleh karena itu, para mahasiswa memilih penyelesaian masalah berbasis keseimbangan ekosistem alih-alih mengandalkan bahan kimia yang merusak lingkungan. Selain itu, strategi memfasilitasi burung hantu sebagai predator alami ini hadir menjadi solusi jangka panjang yang ramah alam.

Tim KKN menyebar panggung kayu ini di sejumlah titik strategis persawahan Sukorejo, meliputi area Sedayu, Grajegan, Jati, hingga Jetak. Sebab, pemilihan lokasi tersebut mempertimbangkan tingkat kerawanan serangan hama dan kebutuhan para petani lokal. Bahkan, kegiatan pemasangan ini berjalan lancar berkat dukungan penuh Kepala Desa Sukorejo, Sriyono.

Solusi Sederhana Berbasis Ekosistem Tanpa Alat Mahal

Inovasi pengabdian ini membawa pesan kuat bahwa solusi pertanian tidak selalu membutuhkan perangkat teknologi yang rumit atau berbiaya tinggi. Pendekatan tepat guna justru hadir dari kepekaan mahasiswa dalam membaca mekanisme alam dan merangkul kebutuhan lokal.

Keberadaan rumah buatan ini mengundang burung hantu untuk bersarang di sekitar lahan pertanian warga. Kehadiran predator malam tersebut secara otomatis menekan populasi tikus tanpa merusak rantai makanan maupun kualitas tanah sawah.

“Kami tidak ingin KKN hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan. Kami ingin ada sesuatu yang tetap dapat dimanfaatkan masyarakat setelah kami kembali ke kampus,” tegas Ketua Kelompok 13 KKN Unimus, Khairul Umam, saat menjelaskan latar belakang program.

Khairul Umam menambahkan bahwa nilai utama fasilitas ini terletak pada gagasan keberlanjutannya. Manfaat pengabdian kampus akan terus hidup dan berputar selama ekosistem alami tersebut terjaga dengan baik di persawahan desa.

Warisan Manfaat Berkelanjutan Usai Masa KKN Berakhir

Keberhasilan langkah ekologis ini turut memicu respons positif dari pihak akademisi. Bahkan, para dosen menganggap pendekatan ini sangat tepat sasaran karena langsung menjawab permasalahan para petani di lapangan.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unimus Semarang, Prima Trisna Aji, mengapresiasi kejelian mahasiswa dalam merancang program kerja yang kontekstual. Sebab, ia menilai ukuran keberhasilan pengabdian masyarakat terletak pada keberlanjutan manfaat yang warga rasakan secara mandiri.

“KKN bukan tentang seberapa banyak program yang dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan, tetapi seberapa tepat program tersebut menjawab kebutuhan desa,” tutur Prima Trisna Aji saat memberikan evaluasi program.

Namun, Prima Trisna Aji mengingatkan agar masyarakat Sukorejo terus merawat serta memantau keberadaan sarang predator alami tersebut. Dengan demikian, pengabdian mahasiswa berhasil menanamkan pola pikir pertanian adaptif yang selaras dengan alam.

Kontributor: Prima Trisna Aji
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: