Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Bukan Sekadar Gerakan: Perbaikan Kualitas Shalat sebagai Spiritual Healing Masa Kini

18 Januari 2026, 18:52 WIB 3 menit baca
Ustadz Raad Noor Fattah memberikan materi kajian perbaikan kualitas shalat sebagai spiritual healing di PRM Pandean Lamper Semarang.
Ustadz Raad Noor Fattah, M.Ag., membedah pentingnya kualitas ibadah shalat untuk kesehatan mental dalam Kajian Fastabiqul Khairat, Ahad (18/1/2026).

SEMARANG TIMUR, muhammadiyahsemarangkota.org Menghadapi stres tingkat tinggi di tahun 2026, perbaikan kualitas shalat sebagai spiritual healing kini menjadi tren utama bagi warga Semarang dalam menjaga kesehatan mental. Langkah ini menjadi sorotan utama dalam Kajian Fastabiqul Khairat yang berlangsung di TK ABA 26 Pandean Lamper pada Ahad (18/1/2026).

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM Pandean Lamper) sengaja mengemas tema Isra Miraj kali ini dengan sudut pandang yang lebih segar. Mereka memfokuskan pembahasan pada bagaimana ibadah shalat mampu menjadi jawaban atas kegelisahan masyarakat modern.

Menemukan Kedamaian di Atas Sajadah

Ustadz Raad Noor Fattah, M.Ag., tampil sebagai pembicara yang membawa suasana kajian menjadi sangat interaktif. Beliau menegaskan bahwa shalat seringkali hanya dianggap sebagai gugur kewajiban semata. Padahal, esensi sejati dari ibadah ini adalah pemulihan batin secara menyeluruh.

“Kita harus memulai perbaikan kualitas shalat sebagai spiritual healing agar setiap sujud mampu mengurai beban pikiran,” jelas Ustadz Raad. Menurutnya, shalat yang berkualitas membantu seseorang meraih kondisi mindfulness yang hakiki.

Selain itu, beliau juga mengaitkan hal ini dengan konsep kesehatan mental dalam Islam. Beliau berpendapat bahwa jiwa yang tenang lahir dari hubungan yang intens dengan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, teknik pernapasan dan kekhusyukan dalam shalat menjadi kunci utama untuk meredakan kecemasan.

Membentengi Keimanan di Era Digital

Tantangan zaman terus berkembang, terutama saat teknologi mulai mengambil alih banyak ruang kehidupan manusia. Di sinilah pentingnya menjaga keimanan di era digital. Kehadiran algoritma yang masif seringkali mengalihkan perhatian manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Ketua PRM Pandean Lamper memberikan penekanan menarik dalam sambutannya. Ia menyebutkan bahwa program rutin ini bertujuan membangun masyarakat yang tangguh secara spiritual. “Kami ingin mengajak jamaah melihat shalat sebagai waktu istirahat terbaik dari hiruk-pikuk dunia digital,” tuturnya.

Melalui upaya perbaikan kualitas shalat sebagai spiritual healing, jamaah diharapkan mampu menyaring dampak negatif teknologi. Kesadaran spiritual yang tinggi akan membentuk filter alami dalam menghadapi berbagai disrupsi informasi saat ini.

Transformasi Diri melalui Kekhusyukan

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB ini berlangsung sangat khidmat. Para jamaah tampak antusias mencatat tips praktis mengenai cara meningkatkan konsentrasi saat beribadah. Mereka menyadari bahwa spiritual healing yang paling dekat dan mudah adalah melalui perbaikan shalat mereka sendiri.

Sebagai penutup, kajian ini meninggalkan pesan reflektif yang kuat bagi seluruh peserta. Di tahun 2026 ini, kesuksesan bukan lagi sekadar pencapaian materi, melainkan kemampuan menjaga hati agar tetap tenang.

“Mari kita jadikan setiap pertemuan dengan Allah dalam shalat sebagai momen penyembuhan. Sebab, hanya dengan hati yang tenang kita bisa melangkah dengan bijak,” pungkas Ustadz Raad sebelum menutup sesi kajian.

Baca juga :

Temukan Cara Islam Mengatasi Masalah Hidup Lewat Konsep Allah

Menjemput Hikmah Isra Mi’raj 2026: Mengupas Tuntas Makna Shalat bagi Generasi Alpha

Lelah Mental? Perkuat Kesehatan Mental Spiritual dengan Manajemen Ikhlas

Kontributor: MPI PCM Gayamsari
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: