NGALIYAN,muhammadiyahsemarangkota.org- Hiruk pikuk duniawi pekerjaan, target karier, ambisi menumpuk aset mungkin masih berdengung di kepala para jamaah. Namun di dalam, Ust. Mustofa S.E, mengajak mereka berhenti sejenak di bawah naungan kubah Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, Pada sholat Jumat (07/11/25), merenungkan kembali “aset” yang seringkali terlupakan di tengah kesibukan itu: wajah-wajah kecil yang menunggu mereka di rumah.
“Bayangkan Anda memiliki sebidang kebun buah,” suaranya memecah keheningan, mengajak jamaah berimajinasi. “Anda mengolahnya sungguh-sungguh, pohonnya tumbuh besar, buahnya matang, bunganya bermekaran. Lalu tiba-tiba, Anda mengabaikannya. Tidak menyiramnya, membiarkannya diserang hama,” ujarnya.
Ust. Mustofa memberi jeda sejenak, membiarkan metafora itu meresap. “Bukankah itu bentuk kebodohan terbesar? Lantas bagaimana mungkin kita tega melakukan itu pada anak-anak kita, belahan jiwa kita sendiri?”
Menggali Kedalaman Emosional
Siang itu, mimbar Jumat bukan lagi sekadar tempat penyampaian dalil, melainkan ruang kontemplasi tentang kerapuhan sebuah keluarga di akhir zaman. Ust. Mustofa menyentuh kecemasan terdalam setiap orang tua: ketakutan akan perpisahan abadi.
Mengutip peringatan keras dalam Surah At-Tahrim ayat 6 tentang menjaga keluarga dari api neraka, beliau menegaskan bahwa mendidik anak bukanlah tugas sambilan. Itu adalah misi penyelamatan. Banyak orang tua modern terjebak dalam ilusi bahwa tugas mendidik telah selesai saat mereka membayar mahal biaya sekolah atau pesantren.
“Para guru di sekolah, madrasah, ataupun majelis ilmu, hanyalah mitra,” tegasnya, nadanya sedikit meninggi untuk memberi penekanan. “Mereka hanya membantu. Penanggung jawab hakiki di hadapan Allah tetaplah pundak kedua orang tuanya.”
Pernyataan ini menohok realitas banyak keluarga urban saat ini, di mana pendidikan moral seringkali “di-alihdaya-kan” sepenuhnya kepada institusi, sementara rumah hanya menjadi tempat transit untuk tidur dan makan.
Koneksi Spiritual yang Tak Terlihat
Lebih dalam lagi, Ust. Mustofa membuka sebuah rahasia spiritual yang sering terlewatkan: adanya “tali ghaib” antara kesalehan orang tua dan nasib anak-anaknya.
Ia membawa jamaah menyelami kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam Surah Al-Kahfi.
Tentang sebuah dinding yang ditegakkan kembali hanya untuk melindungi harta dua anak yatim di bawahnya. Alasannya sederhana namun menggetarkan: wakaana abuuhuma shoolihan karena ayah mereka dulu adalah orang saleh.
“Renungkanlah,” ujarnya lirih. “Kesalehan orang tua seringkali menjadi asbab, penyebab utama datangnya penjagaan Allah kepada keturunan-keturunannya, bahkan lama setelah orang tua itu tiada.”
Ini adalah sebuah pesan harapan yang kuat: bahwa setiap sujud, setiap doa malam, dan setiap kebaikan yang dilakukan seorang ayah atau ibu hari ini, sesungguhnya mereka sedang menabung “perisai” perlindungan untuk masa depan anak-anak mereka yang tak terduga.
Menutup khutbahnya, Ust. Mustofa tidak menjanjikan kekayaan duniawi bagi mereka yang mendidik anaknya dengan baik. Ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih mahal: sebuah reuni keluarga yang abadi.
Ia melukiskan sebuah adegan di hari akhir nanti, di mana Allah dengan kasih sayang-Nya mengumpulkan kembali keluarga-keluarga mukmin di dalam surga. Sebuah “reuni agung” di mana tidak ada lagi perpisahan setelahnya.
Baca juga : Bukan Cuma Mengaji, Santri Muhammadiyah di Semarang Juga Dilatih Menguasai AI


