Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Pulang Haji Cuma Bawa Koper dan Ego? Ujian Penentu Haji Mabrur yang Sebenarnya

22 Mei 2026, 15:50 WIB 3 menit baca
Foto Wakil Ketua PWM Jawa Tengah Dr. H. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag. sedang menyampaikan khutbah Jumat dari atas mimbar kayu ukir di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Semarang. Beliau mengenakan baju koko putih, peci hitam, dan mikrofon bando (headset mic). Di latar belakang dinding putih, tampak hiasan kaligrafi Arab berbingkai emas yang estetik.
Dosen UIN Walisongo yang juga Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag., saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At-Taqwa Wates, Ngaliyan, Kota Semarang, Jumat (22/5/2026). Dalam petuahnya, beliau menegaskan bahwa ciri haji mabrur tidak diukur dari gelar sosial, melainkan dari pembuktian nyata berupa kepedulian sosial dan kesantunan lisan setelah kembali ke tanah air.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Ratusan ribu jemaah haji asal Indonesia kini tengah memadati tanah suci untuk menyambut puncak ibadah wukuf di Arafah. Di balik deru doa yang membumbung ke langit Makkah, seluruh jemaah tentu mendambakan satu hadiah tertinggi: pulang membawa predikat haji mabrur. Sebuah gelar spiritual yang menyajikan garansi luar biasa dari Rasulullah berupa balasan surga.

Namun, masyarakat seringkali salah kaprah dalam menilai ukuran kemabruran ibadah sakral ini. Wakil Ketua PWM Jawa Tengah, Dr. H. Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i, M.Ag., mengupas tuntas kekeliruan tersebut saat mengemban tugas sebagai khatib Jumat di Masjid At-Taqwa Ngaliyan, Semarang. Dosen UIN Walisongo ini menegaskan bahwa ciri haji mabrur yang asli justru tidak terlihat saat jemaah berada di depan Kakbah.

Hasan Asy’ari menyatakan bahwa esensi mabrur mustahil diukur hanya dari seberapa fasih jemaah melafalkan rukun dan sunnah haji selama di tanah suci. Ujian yang sesungguhnya baru akan dimulai ketika kaki para jemaah kembali menginjakkan kaki di tanah air. Pola perilaku sosial di tengah lingkungan bertetangga menjadi mesin pemindai utama untuk melihat kualitas ibadah mereka.

“Indikator haji mabrur itu sederhana. Mau berbagi makanan dengan yang lapar (it’amut tho’am) dan menebarkan kedamaian (ifsya’us salam),” ujar Hasan Asy’ari dengan lugas di hadapan para jemaah Jumat.

Bahaya Pulang Haji Hanya Bawa Koper dan Status Sosial

Dalam khutbahnya yang menggetarkan jemaah, Hasan Asy’ari melayangkan kritik keras terhadap fenomena ibadah yang egois. Pasalnya, Islam tidak pernah membenarkan seseorang yang hanya mengejar kesalehan individu namun menutup mata pada realitas sosial sekitar. Sebagai contoh, sang khatib menunjukkan bagaimana Al-Qur’an menghardik orang shalat yang mengabaikan anak yatim dan memberi makan orang miskin.

Hal serupa juga berlaku pada ibadah puasa dan haji yang berpotensi kehilangan makna esensinya jika pelakunya masih gemar menebar dusta. Oleh sebab itu, Hasan Asy’ari menyayangkan jika ada jemaah yang pulang dari Makkah hanya membawa koper berisi oleh-oleh dan ego status sosial baru. Sebab, gelar “Haji” di depan nama akan menjadi hampa jika kepedulian terhadap lingkungan sekitar tetap nol besar.

Tidak hanya itu, transformasi spiritual pasca-haji harus melahirkan karakter baru yang jauh lebih peka dan dermawan terhadap penderitaan sesama. Akibatnya, keberhasilan ritual tahunan tersebut wajib berdampak linier pada penurunan angka kelaparan di radius tempat tinggal sang haji. Jika tidak, perjalanan ke Mekkah kemarin terancam turun kelas hanya menjadi sekadar wisata spiritual biasa.

“Sangat disayangkan jika seseorang pulang haji hanya membawa koper berisi oleh-oleh dan ego status sosial yang baru, sementara kepeduliannya pada lingkungan sekitar tetap nol besar,” tegas pakar tafsir tersebut mengingatkan.

Jangkar Kedamaian di Akar Rumput: Menjaga Lisan dari Komentar Provokatif

Tantangan berikutnya yang wajib dihadapi oleh para alumni tanah suci adalah urusan menjaga lisan dan sikap di masyarakat. Di Indonesia, orang yang sudah menyandang gelar haji otomatis menempati posisi sosial yang terhormat dan setiap ucapannya didengar warga. Posisi strategis ini menuntut konsekuensi moral yang sangat besar dari masing-masing individu.

Hasan Asy’ari menantang arah lisan para haji ketika terjadi gesekan, konflik, atau perbedaan pendapat di lingkungan tempat tinggal mereka. Seorang pemilik ciri haji mabrur sejati harus mampu menempatkan diri sebagai jangkar kedamaian yang mendinginkan suasana. Mereka harus menahan diri agar tidak ikut memperkeruh keadaan melalui komentar-komentar yang provokatif di media sosial maupun dunia nyata.

Sang ulama menutup refleksi mendalamnya dengan mengutip sabda nabi yang paling mendasar mengenai esensi manusia terbaik, yakni yang paling bermanfaat bagi orang lain. Ibadah haji yang menggetarkan jiwa harus mampu mencetak pribadi yang mengutamakan kedamaian komunal di atas kepentingan pribadi. Nilai kemanusiaan inilah yang akan meloloskan jemaah dari jebakan kesalehan semu.

“Seorang haji mabrur harus menjadi jangkar kedamaian. Lisan dan tindakannya harus menjadi teladan di tengah masyarakat,” pungkas Hasan Asy’ari mengakhiri khutbahnya.

Kontributor: Tim Media Majid At Taqwa Wates
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: