Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Banjir Mengancam! Gerakan ‘Ibu Jaga Bumi’ Jadi Senjata Baru Lawan Krisis Lingkungan

10 Februari 2026, 15:21 WIB 3 menit baca
Foto close-up seorang perempuan (Monica Subastia) yang mengenakan kacamata, kerudung kuning gading (kuning muda), dan seragam batik senada. Beliau berdiri di belakang podium kayu berukir dan sedang berbicara menggunakan mikrofon hitam. Latar belakangnya adalah spanduk berwarna biru toska dengan tulisan putih berbunyi 'KERJA WILAYAH', 'YAH JAWA TENG', dan 'Muda & Ekologi Berk...'. Pencahayaan terfokus pada subjek utama dengan ekspresi yang serius dan bersemangat.
Garda terdepan penyelamat alam: Ketua PWNA Jawa Tengah, Monica Subastia, saat memberikan pidato kunci mengenai peran strategis perempuan dalam membangun kesadaran lingkungan melalui gerakan 'Ibu Jaga Bumi' di Semarang (07/02/2026). Inisiatif ini menekankan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci utama untuk melawan krisis lingkungan dan memastikan masa depan generasi yang lebih hijau

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Bencana ekologi yang belakangan sering melanda wilayah Jawa Tengah memicu kekhawatiran serius bagi banyak pihak. Buktinya, Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Tengah bergerak cepat meluncurkan inisiatif luar biasa bernama gerakan Ibu Jaga Bumi.

Langkah strategis ini mencuat dalam forum Musykerwil II di Semarang sebagai jawaban nyata atas ancaman banjir hingga kekeringan yang kian meresahkan (07/02/2026). Pasalnya, kesadaran menjaga lingkungan kini menjadi kebutuhan mendesak yang harus bermula dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.

Ibu Sebagai Garda Terdepan Penyelamat Alam

Selanjutnya, Ketua PWNA Jawa Tengah, Monica Subastia, menegaskan bahwa krisis lingkungan sangat berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup keluarga. Buktinya, kaum perempuan seringkali menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung saat bencana ekologis menghantam stabilitas ekonomi rumah tangga. Monica ingin mengajak para ibu untuk tidak lagi tinggal diam melihat kerusakan alam yang semakin parah di depan mata.

Ketua wilayah tersebut memandang peran strategis perempuan dalam menanamkan nilai kepedulian lingkungan sejak dini.

“Perempuan, khususnya ibu, memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran menjaga lingkungan sejak dari rumah demi keberlangsungan hidup,” ungkap Monica penuh keyakinan.

Tujuannya, agar setiap kader perempuan mulai melakukan praktik ramah lingkungan secara konsisten dan berkelanjutan. Ternyata, pengelolaan sampah rumah tangga dan penghematan energi menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar jika kita lakukan bersama-sama.

Pemberdayaan Perempuan Kunci Kebijakan Ekologi

Menariknya, dukungan terhadap gerakan ini juga datang dari Casytha Kathmandu selaku Ketua DPD KNPI Jawa Tengah sekaligus anggota DPD RI. Buktinya, Casytha menyoroti betapa pentingnya ruang partisipasi bagi perempuan dalam setiap pengambilan kebijakan lingkungan. Sosok senator muda ini menilai bahwa gerakan lingkungan akan jauh lebih kuat jika perempuan memiliki pengetahuan dan kapasitas yang mumpuni.

Casytha menegaskan bahwa keterlibatan aktif perempuan akan menyentuh akar persoalan karena kedekatan mereka dengan isu pangan dan kesehatan.

“Pemberdayaan perempuan adalah kunci bagi lahirnya gerakan lingkungan yang kuat dan berkelanjutan baik di keluarga maupun ruang publik,” tegas Casytha.

Alhasil, gerakan Ibu Jaga Bumi bukan sekadar slogan, melainkan upaya memutus mata rantai eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab. Dampaknya, perempuan yang berdaya akan mampu memimpin perubahan nyata demi masa depan generasi yang lebih hijau.

Membangun Masa Depan Hijau dari Komunitas

Kemudian, Musykerwil II ini juga menjadi ajang konsolidasi bagi pimpinan daerah untuk merumuskan program kerja yang lebih sistematis. Tujuannya, agar isu ketahanan keluarga dan kesejahteraan perempuan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan. Maka dari itu, kolaborasi antar sektor menjadi fondasi utama bagi Nasyiatul Aisyiyah dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis.

Dalam gerakan Ibu Jaga Bumi ini menjadi ikhtiar jangka panjang untuk menjaga keseimbangan alam yang mulai goyah. Sejatinya, setiap tetes air dan setiap pohon yang kita selamatkan hari ini adalah warisan paling berharga untuk anak cucu kelak. Mari kita dukung penuh aksi nyata para perempuan muda ini demi memastikan bumi tetap menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi semua.

Baca Juga :

“Ibu Jaga Bumi” PDNA Kota Semarang: Ubah Sampah Jadi Berkah, Hijaukan Lingkungan!

Bukan Aktivis Biasa! Perempuan Muda Jateng Pasang Badan Lawan Krisis Lingkungan

Kontributor: Tim Media Nasyiatul Aisyiyah
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: