Jangan Paksa Mikir Saat Hati Kalut! Atasi Masalah Lewat Kekuatan Dzikir
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Kegelisahan seringkali muncul saat kita merasa harus menyelesaikan semua beban hidup sendirian. Pasalnya, paksaan akal untuk berpikir keras dalam kondisi batin yang sempit justru memicu stres berlebih. Fenomena ini menjadi bahasan utama dalam kajian PRM/PRA Pudakpayung, Banyumanik, pada Ahad (18/1/2026). Narasumber mengajak jamaah memahami cara mengatasi overthinking melalui rumus “Dzikir Dulu, Baru Mikir”.
Ustadz muda Jawahirul J. J., S.Ag., hadir sebagai pengisi kajian yang sangat inspiratif. Alumnus terbaik UIN Walisongo 2026 ini menjelaskan bahwa dzikir berfungsi menenangkan “badai” di dalam dada. Oleh karena itu, setiap Muslim sebaiknya mengembalikan kesadaran bahwa Allah-lah Sang Pemilik Kendali. Saat batin sudah tenang, barulah akal manusia bisa bekerja secara jernih dan solutif.
Antusiasme Tinggi dan Dampak Sosial Nyata
Selanjutnya, antusiasme warga mengikuti pengajian rutin ini terus meningkat secara signifikan. Sekitar 40 hingga 60 jamaah rutin memadati lokasi acara untuk menyerap ilmu agama.
Bahkan, dalam momen tertentu seperti bakti sosial, jumlah hadirin sanggup melonjak hingga 150 orang. Pengurus ranting secara cerdas memadukan siraman rohani dengan pembagian santunan setiap bulan.
Langkah ini tentu membantu warga menghemat pengeluaran bulanan di tengah tantangan ekonomi.
Maka dari itu, PRM Pudakpayung tidak hanya memberikan nutrisi bagi jiwa, tetapi juga solusi nyata bagi kebutuhan fisik.
Sosok Ustadz Irul sangat mendukung integrasi antara dakwah intelektual dan aksi sosial kemasyarakatan ini.
Materi Beragam Mulai Fiqh Hingga Bisnis
Selain itu, panitia menyusun materi pengajian secara beragam agar sesuai dengan kebutuhan jamaah. Pekan pertama biasanya fokus pada pembahasan fiqh harian yang sangat praktis.
Kemudian, pada pekan ketiga, narasumber membawakan tema lain seperti Bisnis Islami, Hadits Arbain, hingga Tasawuf Modern. Variasi tema ini membuat warga tidak merasa bosan dan terus mendapatkan ilmu baru.
Pihak penyelenggara juga sering mengangkat isu-isu terkini untuk dikupas dari sudut pandang Islam. Dampaknya, jamaah mendapatkan wawasan yang luas dalam menghadapi problematika dunia modern.
Keterbukaan materi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota maupun simpatisan Muhammadiyah di Pudakpayung.
Mimpi Membangun Markas Dakwah di Lahan Wakaf
Akhirnya, para pegiat dakwah di Pudakpayung menyimpan mimpi besar untuk memiliki pusat kegiatan resmi. Saat ini, kegiatan masih menumpang di sebuah halaman milik anggota dengan kapasitas yang terbatas.
Ternyata, pertumbuhan jamaah yang pesat membuat area parkir sering tidak muat dan harus meminjam lahan tetangga. Rencana pembangunan “markas” dakwah di atas lahan wakaf Muhammadiyah pun mulai mereka siapkan secara matang.
Sebab, kehadiran fasilitas yang representatif akan semakin memperkuat jangkauan dakwah di wilayah Semarang Selatan. Kita dukung langkah mulia ini agar dakwah Islam yang mencerahkan terus berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga :
Menjemput Tenang Lewat Muhasabah: Rahasia Hidup yang Tak Pernah Salah Alamat