Stop Fanatik Buta! Kenali Ciri Muslim Moderat yang Bikin Hidup Tenang
Jepara, muhammadiyahsemarangkota.org — Ribuan warga memadati Alun-Alun 1 Jepara dengan balutan pakaian putih bersih untuk merayakan kemenangan pada Jumat (20/3/2026). Buktinya, suasana khidmat begitu terasa saat jemaah menyimak pesan mendalam mengenai pentingnya menjadi muslim moderat di tengah gempuran zaman yang serba ekstrem. Alhasil, momen Idul Fitri 1447 H ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang refleksi diri untuk kembali ke jalan tengah yang penuh rahmat.
Prinsip hidup yang seimbang atau wasathiyyah merupakan kunci utama agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap berlebih-lebihan. Pasalnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan sempurna tentang bagaimana menjaga harmoni antara urusan duniawi dan ukhuwah keagamaan. Khotib mengajak setiap individu untuk menanggalkan sikap fanatisme buta dan mulai mengedepankan kebijaksanaan dalam setiap interaksi sosial.
Ciri Utama: Menebar Manfaat Tanpa Harus Ekstrem
Selanjutnya, Komandan Kokam PDM Kota Semarang, Ust. Yuliansah Masyhar, S.T., memaparkan lima identitas penting bagi seorang muslim moderat. Buktinya, identitas pertama adalah menjadi pribadi terbaik yang paling banyak memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Dampaknya, kehadiran umat Islam akan selalu menjadi penyejuk dan pemberi solusi di tengah berbagai kekacauan atau kemaksiatan yang terjadi.
Seorang muslim yang bijak harus mampu menempatkan segala sesuatu pada porsinya dengan bantuan penguasaan ilmu pengetahuan yang mumpuni.
“Muslim yang moderat itu adil dalam bersikap, karena keadilan hanya bisa kita raih melalui penguasaan ilmu pengetahuan yang benar,” tegas Ust. Yuliansah Masyhar.
Ternyata, konsep hidup moderat juga menuntut adanya keseimbangan antara mengejar sukses di dunia dan mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dampaknya, umat tidak akan terjebak pada sifat materialisme yang rakus maupun spiritualisme yang menjauh dari realitas sosial kemasyarakatan. Sikap proporsional dalam beribadah sesuai sunnah namun tetap inovatif dalam urusan sosial menjadi ciri khas yang harus terus melekat.
Esensi Wasatha: Menjaga Keadilan di Tengah Perbedaan
Kemudian, khotib menjelaskan bahwa makna wasatha dalam Al-Qur’an mencakup aspek keadilan, pilihan terbaik, dan paling bijaksana. Buktinya, kajian kitab suci menunjukkan bahwa berada di posisi tengah bukan berarti lemah, melainkan posisi paling strategis untuk melihat kebenaran secara utuh. Alhasil, pemahaman ini membekali jemaah agar tetap konsisten menjaga waktu sholat dan amanah sebagai wakil Tuhan di muka bumi.
Umat Islam wajib memahami bahwa perbedaan pandangan merupakan kekayaan khazanah keilmuan yang tidak perlu memicu perpecahan atau permusuhan.
Ust. Yuliansah Masyhar berharap momentum Idul Fitri menjadikan umat Islam sebagai penyebar rahmat yang gigih menghalau setiap kemudaratan bagi bangsa.
Rangkaian sholat ied tersebut ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian seluruh rakyat Indonesia. Sejatinya, menjadi muslim moderat adalah panggilan jiwa untuk terus menebar nilai kejujuran dan tanggung jawab di mana pun kaki berpijak. Mari kita jadikan semangat hari fitri ini sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih adil dan peduli terhadap sesama sepanjang tahun!
Baca Juga :
Wasatiyyat Islam, Diplomasi Muhammadiyah di Panggung Global
Toleransi Natal 2025: Menjaga Akidah dan Etika Moderasi Beragama