Harta Melimpah Tapi Ketenangan Batin Hilang? Ini Akar Masalahnya
SEMARANG SELATAN, muhammadiyahsemarangkota.org – Banyak orang terus mencari cara mengatasi kegelisahan hidup saat hartanya justru makin bertambah. Padahal, hilangnya ketenangan batin sering kali bermula dari penyakit hati. Penyakit ini merusak nurani manusia secara diam-diam.
Ustadz Syaifullah mengungkap realitas ini pada khutbah Jumat di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang, Jumat (3/7/2026). Ia menyoroti fenomena hilangnya integritas di tengah kehidupan masyarakat modern. Menurutnya, praktik culas tersebut merupakan akar masalah kesehatan mental. Tentu saja, masalah serius ini mengancam banyak pekerja.
Oleh karena itu, kita tidak boleh memandang sebelah mata tindakan korupsi. “Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit dari rusaknya hati nurani,” tegas Ustadz Syaifullah. Lebih lanjut, ia menyebut penyakit ini sangat cepat menular. Penularan terjadi melalui kebiasaan buruk di lingkungan sekitar.
Akar Penyebab Hati Gelisah
Saat menelusuri penyebab hati gelisah, kita harus melihat cara seseorang memperlakukan amanah. Idealnya, jabatan publik menjadi sarana utama untuk melayani kepentingan rakyat. Namun, posisi strategis ini sering berubah wujud. Banyak oknum menjadikan jabatan sebagai alat pemuas keserakahan pribadi.
Di sisi lain, Islam sangat tegas melarang segala bentuk perampasan hak orang lain. Surah Al-Baqarah ayat 188 jelas melarang manusia memakan harta melalui jalan batil. Terkait hal ini, Ustadz Syaifullah menyoroti kondisi akal pelakunya. “Seseorang yang melakukan korupsi sebenarnya sedang mengalami kerusakan pada hati dan akalnya,” ungkapnya.
Faktanya, manusia dengan nurani sehat pasti memiliki alarm alami. Alarm ini otomatis berbunyi saat ia berbuat sebuah kesalahan. “Setiap manusia yang masih memiliki hati nurani sehat akan merasa gelisah ketika melakukan kesalahan,” ujarnya. Selaras dengan sabda Rasulullah, dosa memang selalu memunculkan keraguan di dalam dada pelakunya.
Menjaga Kesehatan Mental dalam Islam
Sayangnya, alarm jiwa ini perlahan mati. Kondisi ini terjadi ketika seseorang terlalu sering memakan uang haram. Akibatnya, pelaku kecurangan mulai merangkai berbagai argumen logis. “Pelaku korupsi sering kali membuat berbagai alasan untuk membenarkan tindakannya,” jelas Ustadz Syaifullah.
Bahkan, koruptor sering berdalih melakukan penyelewengan demi keluarga atau kelompoknya. Pastinya, mencari pembenaran atas dosa sangat bertentangan dengan ajaran agama. Padahal, Surah An-Najm ayat 32 melarang keras manusia menganggap dirinya paling suci. Karena itu, praktik menjaga kesehatan mental dalam Islam menuntut kejujuran total.
Selanjutnya, siklus pembenaran diri ini memicu kecanduan yang mematikan. Keserakahan mendorong pelaku untuk terus menumpuk kekayaan haram tanpa henti. Pada titik kritis inilah, kebiasaan mengambil hak orang lain makin parah. Akhirnya, perilaku buruk tersebut menjadi sangat sulit berhenti.
Kejujuran Memulihkan Ketenangan Batin
Tanpa disadari, kecanduan berbuat curang memastikan hidup pelakunya penuh rasa ketakutan. “Harta dari jalan tidak halal tidak akan pernah membawa keberkahan,” tegas Ustadz Syaifullah. Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pelaku akan terus merasakan ketakutan. Mereka cemas rahasianya terungkap dan menanggung tekanan batin berkepanjangan.
Sebenarnya, kehidupan penuh ketakutan ini selaras dengan Surah Thaha ayat 124. Ayat tersebut menegaskan hukuman bagi orang yang berpaling dari kebenaran. Mereka pasti menjalani kehidupan yang sangat sempit. Kehidupan sempit ini berarti dada yang selalu terasa sesak menahan beban mental.
Oleh sebab itu, kita harus menjauhi kecurangan sekecil apa pun. Langkah ini sangat penting demi memulihkan kondisi jiwa. Selain itu, pencegahan kejahatan harus bermula dari pembiasaan sikap jujur. Dengan menjaga amanah secara konsisten, kita pasti sanggup meraih ketenangan batin sejati.