Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Boleh Lelah Tapi Jangan Berhenti, Belajar Menangkal ‘Burnout’ Dalam Beribadah

30 Agustus 2026, 19:44 WIB • 3 menit baca
Seseorang mengenakan jaket cokelat duduk menunduk dan memeluk lututnya di sudut dinding marmer masjid di atas karpet Sajadah bermotif, menggambarkan fase futur atau lelah batin.
Ilustrasi rasa lelah batin dan kejenuhan (burnout) yang kerap melanda seseorang saat berproses; sebuah pengingat bahwa berhenti sejenak untuk menata niat merupakan bagian dari strategi menjaga kunci istiqomah beribadah.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Menjaga ketetapan hati dalam beribadah dan mengabdi sering kali membentur tembok kejenuhan serta rasa lelah yang mendalam. Oleh karena itu, Penasihat Korps Mubaligh Jawa Tengah, Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., membedah resep menjaga keteguhan jiwa dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Jawa Tengah pada Minggu (30/8/2026).

Di hadapan ratusan jamaah, akademisi terkemuka ini mengingatkan bahwa penurunan semangat atau fase futur merupakan hal alami pada diri manusia. Namun demikian, kunci keberhasilan seorang Muslim tidak terletak pada ledakan semangat sesaat, melainkan pada keberanian untuk terus konsisten melangkah meskipun pelan.

Melalui paparan bertajuk “Istiqomah dalam Beribadah dan Bermuhammadiyah Tanpa Kenal Lelah”, pencerah agama tersebut menegaskan pentingnya niat ikhlas sebagai energi utama perjuangan. Sebab, keterikatan pada pujian manusia hanya akan memicu rasa kecewa sewaktu pengorbanan tidak mendapat apresiasi.

“Katanya, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian beristiqomahlah. Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu meskipun sedikit,” ujar Dosen FITK UIN Walisongo tersebut saat mengutip pesan Rasulullah SAW.

Boleh Rehat Sejenak

Selanjutnya, penceramah Jawa Tengah ini meluruskan kekeliruan masyarakat mengenai makna ungkapan “tanpa kenal lelah” dalam berorganisasi dan beribadah. Tubuh manusia tetap membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar kesehatan fisik dan mental senantiasa terjaga secara seimbang.

Bahkan, sang akademisi mengartikan sikap pantang menyerah sebagai keteguhan dalam memegang prinsip, bukan memaksa tubuh bekerja tanpa henti. Berhenti sejenak untuk menata pikiran justru menjadi bagian penting dari penyusunan strategi perjuangan jangka panjang.

Di samping itu, keikhlasan niat membentengi seseorang dari jebakan sakit hati akibat konflik maupun perbedaan pendapat. Penasihat Korps Mubaligh ini mendorong setiap kader agar mengedepankan adab dan kelapangan dada sewaktu menghadapi dinamika dalam organisasi.

“Istirahat dapat menjadi bagian dari strategi perjuangan. Yang berbahaya bukanlah kelelahan fisik, melainkan kehilangan orientasi dan berhenti dari kebaikan karena kecewa,” tegas pengurus persyarikatan tersebut.

Melahirkan Generasi Berilmu dan Berakhlak Mulia

Sementara itu, pembahasan kajian semakin mendalam sewaktu pemateri menyoroti pentingnya keberlanjutan generasi penerus gerakan. Keberhasilan sebuah pengabdian tidak hanya diukur dari megahnya posisi kepemimpinan, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang melampaui usia seseorang.

Selain itu, Dosen FITK UIN Walisongo ini mengajak para senior untuk membuka ruang belajar yang luas bagi anak-anak muda. Pembinaan kader secara konsisten bakal melahirkan generasi masa depan yang menguasai ilmu pengetahuan sekaligus memiliki keteguhan moral yang kokoh.

Dengan demikian, pemaparan mengenai kunci istiqomah beribadah ini memberikan kesejukan baru bagi para aktivis dan umat Islam. Konsistensi dalam menjalankan amalan kecil secara terus-menerus bakal membuahkan kemenangan sejati yang diridhai Allah SWT.

Pada akhirnya, perjuangan hidup merupakan maraton panjang yang membutuhkan ketabahan ekstra. Terus melangkah walau perlahan menjadi kunci utama agar mampu menghadirkan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: