Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Simak Tips Haji Mabrur Dahnil Anzar : Hindari Rafats, Fusuq, Jidal dan Taati Petugas

22 Mei 2026, 20:41 WIB 3 menit baca
Suasana antusias jemaah haji wanita Kloter SOC 28 mengenakan seragam biru dan jilbab putih mengerumuni Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak untuk berswafoto (selfie) menggunakan smartphone di lobi hotel Makkah.
Antusiasme jemaah haji wanita Indonesia dari Kloter SOC 28 saat menyapa dan berswafoto bersama Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak di sela kunjungan silaturahim di Makkah, Arab Saudi. (Foto: Dok. TPIHI Kloter 28 SOC/Ustadz Nurbini)

MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org Wakil Menteri Haji Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa kepatuhan terhadap regulasi serta pengelolaan emosi jemaah merupakan kunci kemabruran ibadah haji. Oleh karena itu, jemaah haji Indonesia wajib fokus mengendalikan diri dan menjauhi perbuatan terlarang selama di tanah suci. Pesan penting tersebut Ia sampaikan secara langsung saat mengunjungi akomodasi jemaah di Hotel Kloter 28 SOC, Makkah, Jumat (22/5/2026).

Berdasarkan laporan resmi dari Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 28 SOC, Ustadz Drs. H. Nurbini, M.Si., kunjungan silaturahim pejabat negara tersebut berlangsung pada pagi hari. Dalam kegiatan yang berjalan mulai pukul 07.00 hingga 08.45 WAS itu, Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) hadir bersama Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana serta Kepala Sektor 4 Makkah.

Kehadiran jajaran kementerian ini bertujuan untuk memberikan motivasi secara langsung kepada jemaah sekaligus mematangkan manajemen pergerakan jemaah Armuzna. Selain itu, pemerintah kini memperketat pengawasan di lapangan demi mengantisipasi perubahan regulasi di Arab Saudi. Langkah antisipasi ini sangat krusial mengingat tantangan cuaca ekstrem menuntut kedisiplinan yang tinggi dari seluruh pihak.

Arti Rafats Fusuq Jidal dalam Kehidupan Berjamaah

Terkait aspek ibadah, Dahnil Anzar menegaskan bahwa kemurnian ritual haji sangat bergantung pada kontrol diri jemaah. Maka dari itu, jemaah harus memahami dengan baik arti rafats fusuq jidal demi menjaga kedamaian bersama. Ketiga larangan tersebut meliputi perkataan kotor, perbuatan fasik, serta tindakan berbantah-bantahan yang rentan memicu konflik di area padat.

“Kunci utama dari kemabruran haji bukan hanya terletak pada selesainya rukun-rukun fisik. Namun, bagaimana jemaah mampu menjaga kesabaran, mengendalikan emosi (tidak rafats, fusuq, dan jidal), serta menunjukkan kepatuhan penuh terhadap aturan syariat dan regulasi petugas lapangan,” ujar Dahnil Anzar.

Petunjuk spiritual ini menjadi semakin krusial mengingat mayoritas jemaah Indonesia melaksanakan ibadah Haji Tamattu’. Sistem tersebut mengharuskan jemaah menyelesaikan ibadah umrah wajib terlebih dahulu sebelum mengenakan pakaian ihram kembali pada 8 Dzulhijjah. Oleh sebab itu, selama masa tunggu berlangsung, pembimbing ibadah terus mengingatkan larangan ihram haji tamattu agar tidak mencederai keabsahan haji.

Aturan Ketat Tenda Mina dan Sanksi KBIH

Di samping aspek spiritual, ketertiban fasilitas di lapangan juga menjadi sorotan tajam dari pihak pemerintah. Wamenhaj bahkan memberikan instruksi keras kepada Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIH) untuk menaati hukum. Sesuai arahannya, pemerintah tidak akan menoleransi segala bentuk keegoisan kelompok yang merugikan jemaah lain.

“Di tenda Mina jangan ada KBIH yang mengkavling tenda dan memasang identitas KBIH,” cetus Dahnil Anzar dengan nada tegas.

Oleh karena itu, pemerintah menerapkan aturan ketat tenda Mina untuk mengantisipasi kepadatan di area Armuzna. Jika ada KBIH yang nekat melanggar aturan dan terbukti memonopoli ruang publik, mereka akan menghadapi konsekuensi berat. Saat ini, otoritas terkait telah menyiapkan sanksi KBIH haji berupa teguran keras hingga pencabutan izin operasional bagi lembaga yang membandel.

Komitmen Petugas Haji Simpatik dan Tri Sukses

Langkah penertiban ini merupakan bagian dari perwujudan visi Tri Sukses Haji yang sedang diusung oleh pemerintah. Pilar pertama fokus pada sukses ritual untuk memastikan seluruh jemaah beribadah dengan aman, lancar, dan nyaman. Selanjutnya, pilar kedua menyasar sukses ekosistem ekonomi melalui rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi. Melalui program tersebut, pemerintah berkomitmen menyuplai segala kebutuhan logistik langsung dari tanah air. Sementara itu, pilar ketiga menargetkan sukses peradaban guna menjaga citra positif bangsa di mata dunia.

Guna menyokong ekosistem tersebut, jajaran promotor dan pelayan jemaah wajib memegang teguh komitmen petugas haji simpatik. Dengan demikian, seluruh petugas dapat menerapkan pola kerja yang responsif dan menyentuh hati jemaah di setiap sektor penugasan.

“Tugas petugas haji harus berkomitmen pada tiga hal utama, yaitu fast response, simpati, dan empati,” pungkas Dahnil Anzar di hadapan jemaah Kloter 28 SOC sebelum mengakhiri kunjungannya.

Kontributor: Tim Pembimbing Ibadah Haji Kota Semarang
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: