Tokoh Dakwah Komunitas Semarang Ir H Pudjo Koesworo Tutup Usia, Tinggalkan Teladan Pengabdian dan Literasi
SEMARANG. muhammadiyahsemarangkota.org– Suasana pagi yang tenang di Kota Semarang pada Ahad (12/7/2026) ini menjadi saksi berpulangnya seorang pejuang akar rumput yang tak pernah lelah. Udara kota seolah ikut menahan napas, melepas kepergian H. Ir. Pudjo Koesworo Juliarso, MSA.. Sang tokoh dakwah komunitas Semarang yang mengembuskan napas terakhirnya di usia 71 tahun.
Sebuah papan pengumuman sederhana berbingkai merah di kediamannya, di kawasan Lamper Krajan RT 05/RW 02, Kelurahan Lamper Lor, menjadi penanda duka yang menyelimuti warga Persyarikatan hari ini. Namun, di balik kabar lelayu tersebut, tersimpan jejak keteladanan dari sang tokoh dakwah komunitas Semarang yang akan terus berdegup di hati umat. Ia adalah sosok yang menaruh konsentrasi penuh pada isu-isu sosial kemasyarakatan hingga akhir hayatnya.
Sebelum mendedikasikan masa purnatugasnya untuk persyarikatan, Pudjo Koesworo merupakan akademisi, peneliti, dan ahli arsitektur lanskap lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga mengabdi sebagai dosen senior. Alih-alih membanggakan gelar akademik, sang tokoh dakwah komunitas Semarang justru meleburkan keilmuannya ke dalam gerakan Muhammadiyah.
Ilmu arsitektur dan tata ruang ia wujudkan secara nyata melalui inisiasi pelestarian bangunan kuno bersejarah di Semarang. Ia akttif mengamoanyekan konsep green building, hingga turun tangan langsung mendesain pembangunan masjid dan gedung-gedung dakwah. Tata ruang duniawi keahliannya ia konversi menjadi penataan “ruang-ruang” spiritual umat.
Berdayakan Kaum Marginal Lewat LDK
Kiprah emasnya semakin bersinar ketika ia diamanahi menjadi Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PDM Kota Semarang pada tahun 2023. Di bawah arahannya, LDK tidak menanti jamaah di dalam masjid, melainkan bergerak menjemput mereka di ruang-ruang yang kerap terlupakan.
Sebagai tokoh dakwah komunitas Semarang, ia berani mengambil jalan tak biasa. Almarhum secara aktif menggandeng Lembaga Pemasyarakatan, membawa cahaya spiritual ke balik jeruji LP Wanita dan LP Kedungpane. Tidak berhenti di situ, kepeduliannya pada kaum marginal dibuktikan lewat program pemberdayaan warga kampung di sekitar area pemakaman Bergota.
Bersama Lembaga Mualaf Center (MCA) dan PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia), mantan Ketua Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Jawa Tengah ini juga ikut menguatkan aqidah para mualaf. Salah satu puncaknya adalah menginisiasi rencana pembangunan Masjid Cheng Ho di Semarang.
Relawan Kemanusiaan dan Aktivitas Literasi Media
Napas perjuangan almarhum juga terekam kuat di Lazismu Kota Semarang. Ia terjun sebagai relawan yang mengawal berbagai program vital, mulai dari pengajian dan donasi kemanusiaan lintas batas (lokal, nasional, hingga Palestina), distribusi qurban untuk pemberdayaan, hingga sunatan gratis bagi warga tidak mampu.
Di sisi lain, ada sebuah pemandangan ikonik yang selalu melekat pada almarhum. Ia tampil penuh kebanggaan mengenakan rompi dan ID Card sebagai relawan media Lazismu sekaligus jurnalis Muhammadiyah. Bagi sang tokoh dakwah komunitas Semarang, literasi dan media massa adalah mimbar dakwah era baru. Ketulusannya merangkai narasi liputan adalah strategi cerdas untuk menyuarakan napas kemanusiaan menembus ruang digital.
Kini, sang aktivis dakwah komunitas dan pengayom umat itu telah beristirahat untuk selamanya. Dari rumah duka di Lamper Krajan, jenazah almarhum akan dihantarkan menuju tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Bergota pada Ahad siang nanti pukul 12:30 WIB, tepat di dekat kawasan warga yang selama ini tak luput dari sentuhan pemberdayaannya.
Kepergian H. Ir. Pudjo Koesworo Juliarso, M.SA., meninggalkan lubang besar bagi persyarikatan. Rompi jurnalis kebanggaannya mungkin kini telah terlipat rapi, namun dedikasi sosialnya memastikan namanya terukir abadi sebagai tokoh dakwah komunitas Semarang yang paripurna. Selamat jalan, pejuang kemanusiaan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Husnul khatimah.