Stop Perundungan! Ketua PDM Semarang Minta Pelajar Bijak Bermedia Sosial
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Kejujuran gaya bicara generasi muda di media sosial mendapat sorotan tajam pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP Muhammadiyah 3 Mrican Semarang pada Senin (24/8/2026) pagi. Ratusan siswa dan tenaga pendidik memadati halaman sekolah untuk mendengarkan tausiyah menohok.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. KH. Fachrurrozi, M.Ag., hadir langsung membawakan materi pencegahan perundungan (anti-bullying). Fachrurrozi menyoroti kebiasaan pelajar yang kerap asal mengucap kata kasar atau melempar tuduhan di dunia nyata maupun media sosial.
Fachrurrozi mengingatkan bahwa ucapan yang salah sanggup menjebak seseorang dalam perbuatan ghibah atau fitnah. “Kalau benar namanya ghibah, kalau enggak benar namanya fitnah. Dua-duanya tidak baik,” tegas Dr. KH. Fachrurrozi, M.Ag. di hadapan ratusan siswa pada Senin (24/8/2026).
Menyentil Istilah ‘Koncomu Ruwet’ dan Etika Komunikasi Digital
Dalam liputan langsung di lokasi, suasana pengajian makin hidup saat Fachrurrozi menirukan umpatan khas remaja yang kerap terlontar. “Woy, kui koncomu ruwet. Nah, itu mohon maaf. Mungkin itu ruwet betul, tapi kemudian kalau benar namanya ghibah, kalau salah namanya fitnah. Maka anak-ku sekalian, mari jaga komunikasi kita dengan sebaik-baiknya,” tambah Fachrurrozi.
Sikap komunikatif atau tabligh menjadi benteng utama dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang ramah anak. Oleh sebab itu, para pelajar harus menjadikan media sosial sebagai ruang belajar yang sehat, bukan sarana merundung teman.
Selanjutnya, Fachrurrozi meminta siswa agar tidak membiasakan diri menyebar rumor di ruang digital. Mengamalkan akhlak Rasulullah berarti menjaga lisan dan jemari dari tindakan saling menjatuhkan sesama teman.
Tiga Sifat Kenabian Demi Menang Melawan Lelahnya Belajar
Selain etika komunikasi, Ketua PDM Kota Semarang menekankan pentingnya sifat fathonah (cerdas) dan amanah (terpercaya). Fachrurrozi mengajak siswa mengutip nasihat Imam Syafi’i tentang pentingnya menahan lelah saat menuntut ilmu.
Siapa yang tidak kuat menahan lelahnya belajar saat muda, maka orang tersebut harus siap menanggung perihnya penderitaan di masa tua. Maka dari itu, proses belajar di sekolah membutuhkan kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan spiritual.
“Pinter juga buat diri sendiri. Kita ini bukan generasi simsalabim yang disembunyikan kemudian disulap jadi apapun yang kita inginkan. Tapi semua itu ada proses, makanya kita harus menjaga amanah dari orang tua yakni ya harus sekolah,” tegas Fachrurrozi.
Dengan demikian, penanaman akhlak Rasulullah di SMP Muhammadiyah 3 Semarang berhasil mengikis potensi perundungan secara nyata. Semangat ukhuwah islamiyah hari ini siap membimbing para siswa menjadi pribadi cerdas yang beradab.