Lawan Bahaya Gadget, Koper Pustaka Bersama TK ABA 31 Semarang Perkuat Pendidikan Literasi Anak Usia Dini
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Menghadapi tantangan bahaya gadget pada anak, TK ABA 31 Semarang mengambil langkah nyata dengan memperkuat Pendidikan Literasi Anak Usia Dini pada Kamis (02/04/2026). Melalui kolaborasi bersama Koper Pustaka, sekolah ini menghadirkan ratusan buku bacaan bermutu yang berganti setiap bulan untuk menjaga antusiasme siswa.
Langkah strategis ini merupakan respons cepat terhadap fenomena anak-anak yang mulai jarang menikmati buku fisik. Kini, pihak sekolah ingin memastikan bahwa akses terhadap literasi menjadi lebih dekat dan menyenangkan bagi setiap murid.
Inovasi Lewat Metode Rolling Buku
Ketua Koper Pustaka, Yuli Kuswanti, S.I.Pust, menjelaskan bahwa ketersediaan bahan pustaka seringkali menjadi kendala utama di sekolah. Oleh sebab itu, Ia menawarkan solusi melalui metode rolling buku. Sistem ini memungkinkan koleksi buku di sekolah selalu segar karena berganti secara rutin setiap bulan.
“Kami memberikan pinjaman 100 eksemplar buku pilihan. Nanti setiap bulannya kami tukar dengan judul baru agar anak-anak tidak bosan. Ini menjadi trik efektif agar mereka lebih mencintai literasi,” ungkap Yuli saat menjelaskan teknis kerja sama tersebut.
Sosok yang juga aktif di MPI Kota Semarang ini menambahkan bahwa adanya MoU ini bertujuan agar sekolah tidak lagi bingung mencari sumber bacaan. Dengan dukungan penuh, sekolah kini memiliki fasilitas literasi yang berkelanjutan tanpa harus pusing memikirkan pengadaan buku secara mandiri.
Mengoptimalkan Budaya Membaca Nyaring
Dukungan koleksi dari Koper Pustaka ini langsung memicu kreativitas para pendidik. Guru-guru di TK ABA Semarang kini lebih aktif mempraktikkan Pentingnya Membaca Nyaring (Read Aloud) di dalam kelas. Aktivitas ini sangat krusial untuk membangun imajinasi serta mengalihkan perhatian anak dari layar digital.
Kepala TK ABA 31 Semarang, Sutarmi, S.Pd, merespons kolaborasi ini dengan sangat antusias. Bagi Sutarmi, sekolah literasi harus benar-benar terealisasi melalui aksi nyata, bukan sekadar menjadi slogan semata. Ia melihat guru-gurunya kini lebih semangat menceritakan berbagai kisah inspiratif kepada para siswa setiap harinya.
Harapan untuk Masa Depan Digital
Gerakan ini tidak berhenti di satu sekolah saja. Yuli berharap seluruh TK di bawah naungan Aisyiyah dan Muhammadiyah di Kota Semarang dapat mereplikasi langkah serupa. Tujuannya jelas, yakni mencetak generasi yang lebih suka membaca dan memiliki kecerdasan literasi yang kuat sejak usia emas.
“Harapannya anak-anak lebih banyak bersuka atau mencintai buku. Melalui fasilitas ini, kita sedang menyiapkan generasi masa depan yang lebih kritis dan cerdas,” tutup Yuli.
Baca juga :
Tantangan Umat Islam di Era Digital: Melawan Hoaks dengan Literasi
Seribu Kisah dalam Koper Pustaka, Gerakan Literasi Meriah dari Aktivis Muhammadiyah
Menggagas Masa Depan Literasi Anak Melalui Pesta Buku dan Dongeng
Gerakan Literasi Koper Pustaka : Membudayakan Minat Baca di Kalangan Anak-Anak