Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Ramadan Sebentar Lagi, Rahasia Perkuat Iman Sejak Bulan Sya’ban

23 Januari 2026, 17:56 WIB 3 menit baca
Suasana dalam Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang yang dipenuhi jamaah pria mengenakan batik dan koko. Terlihat khatib Ustadz Prof. Dr. KH. Masrukhi, M.Pd., berdiri di atas mimbar kayu berwarna cokelat yang megah, memberikan pesan khutbah Jumat mengenai persiapan spiritual bulan Sya'ban
Menjemput Ramadan dengan iman tangguh: Prof. KH. Masrukhi saat memberikan tausiyah mengenai pentingnya bulan Sya'ban sebagai jembatan menuju Ramadan di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang (23/01/2026). Beliau menekankan agar jamaah menjadikan Sya'ban sebagai waktu terbaik untuk muhasabah dan memperbanyak amal saleh agar siap menjalani madrasah kerohanian di bulan suci nanti

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Bulan suci yang penuh keberkahan kini tinggal menghitung hari, dan gairah spiritual mulai terasa di setiap sudut kota. Pasalnya, kesuksesan ibadah saat berpuasa sangat bergantung pada seberapa matang kita melakukan persiapan menyambut bulan Ramadan sejak dini. Ustadz Prof. Dr. KH. Masrukhi, M.Pd., menekankan hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang (23/01/2026). Tokoh intelektual ini mengajak jamaah untuk tidak sekadar menunggu, melainkan menjemput Ramadan dengan kualitas iman yang lebih tangguh.

Rektor sekaligus cendekiawan Muslim ini menjelaskan bahwa takwa merupakan bekal paling utama bagi setiap hamba. Oleh karena itu, momen sebelum memasuki bulan suci harus menjadi waktu terbaik untuk melakukan introspeksi diri atau muhasabah. Ternyata, persiapan spiritual yang matang sejak bulan Sya’ban akan memudahkan kita dalam menggapai puncak keberkahan saat Ramadan tiba nanti.

Menjadikan Sya’ban Sebagai Pemanasan Spiritual

Selanjutnya, sang khatib menguraikan peran penting bulan Sya’ban sebagai jembatan menuju bulan suci.

Bahkan, sosok pendidik ini menyarankan jamaah untuk mulai memperbanyak amal saleh, seperti memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW sesuai arahan Surat Al-Ahzab ayat 56.

Maka dari itu, peningkatan ritme ibadah di bulan Sya’ban berfungsi sebagai “pemanasan” agar fisik dan mental tidak kaget saat menjalani rutinitas puasa yang padat.

Narasumber kharismatik ini juga mengingatkan kembali tentang keutamaan puasa-puasa sunnah, seperti Ayyamul Bidh atau puasa putih.

Kemudian, narasumber ini menilai bahwa kebiasaan berpuasa sunnah akan memperkuat ketahanan diri sebelum memasuki kewajiban puasa fardu.

Dampaknya, kedisiplinan beribadah akan terbentuk secara alami dan membuat hati lebih siap menerima pancaran rahmat Allah SWT.

Ramadan Sebagai Madrasah Pengendalian Diri

Selain itu, Prof. KH. Masrukhi menggambarkan Ramadan sebagai sebuah “madrasah kerohanian” yang sangat luas. Di dalamnya, umat Islam belajar mengenai seni mengendalikan hawa nafsu, mengasah kesabaran, hingga menumbuhkan empati sosial.

Ternyata, ibadah puasa bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki hubungan horizontal dengan sesama manusia melalui kepedulian nyata.

Kualitas kepatuhan terhadap perintah Allah akan terlihat dari perubahan akhlak seseorang setelah melewati proses pendidikan jiwa ini.

Sebab, Ramadan yang sukses adalah Ramadan yang mampu mengubah pribadi menjadi lebih lembut, jujur, dan ikhlas dalam beramal.

Dampaknya, setiap detik yang kita lalui di bulan suci akan memiliki bobot pahala yang jauh lebih besar dan berdampak panjang bagi kehidupan.

Menjemput Berkah dengan Persiapan Ilmu dan Amal

Narasumber mengajak seluruh jamaah untuk melengkapi persiapan dengan ilmu yang memadai mengenai tata cara puasa.

Ternyata, niat yang tulus saja tidak cukup tanpa pemahaman yang benar agar ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Persiapan yang komprehensif, mulai dari kesehatan fisik hingga kemantapan hati, menjadi kunci utama untuk meraih gelar takwa yang sesungguhnya.Semoga Ramadan tahun ini membawa perubahan besar bagi setiap pribadi Muslim menuju arah yang lebih baik.

Kita tata kembali niat dan perkuat ketaatan kita mulai hari ini agar tidak kehilangan momen emas yang hanya datang setahun sekali.

Sebab, siapa pun yang merugi di bulan Ramadan adalah mereka yang membiarkan waktu berlalu tanpa ada peningkatan kualitas iman di dalam dadanya.

Kontributor: Tim MPI PDM Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: