Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Terjebak Ritual Kosong? Pastikan Puasa Anda Tidak Sia-Sia di Hadapan Langit

20 Februari 2026, 22:26 WIB 3 menit baca
Foto still life di atas meja kayu yang berisi satu mangkuk kurma, segelas air putih, tasbih berwarna biru, Al-Qur'an yang terbuka, tumpukan buku, dan sebuah lampu lentera putih yang menyala di latar belakang.
LEBIH DARI SEKADAR LAPAR: Selain kurma dan air untuk membatalkan puasa fisik, Prof. Djamaluddin Darwis menekankan pentingnya mengisi waktu dengan tadabbur Al-Qur'an dan membaca buku untuk meningkatkan kualitas spiritual.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Inginkah Anda memastikan bahwa puasa tahun ini benar-benar membuahkan hasil dan bukan sekadar menahan lapar yang sia-sia? Buktinya, Prof. Dr. KH Djamaluddin Darwis memberikan peringatan keras mengenai fenomena “puasa kosong” saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid At Taqwa Semarang (20/2/2026). Tokoh ini menegaskan bahwa tanpa perbaikan akhlak, ritual menahan makan hanyalah rutinitas fisik yang kehilangan ruh spiritualnya.

Menjaga lisan dan hati dari perilaku negatif menjadi syarat mutlak agar kualitas iman meningkat drastis selama bulan suci. Alhasil, setiap jamaah harus menyadari bahwa musuh terbesar saat berpuasa bukanlah rasa haus, melainkan kegagalan dalam mengendalikan emosi. Pasalnya, Allah tidak memerlukan pengorbanan fisik dari hamba-Nya yang masih gemar menebar ghibah atau mengolok-olok sesama manusia.

Takwa Sejati: Melampaui Ritual Menahan Lapar dan Dahaga

Selanjutnya, sang khatib membedah makna mendalam dari Surah Al-Baqarah ayat 183 sebagai fondasi utama perintah berpuasa bagi orang beriman. Buktinya, tujuan akhir dari madrasah Ramadan adalah membentuk pribadi yang memiliki integritas takwa dalam setiap ucapan dan tindakannya. Tokoh pimpinan ini mengajak jamaah untuk melampaui sekadar menahan lapar dengan mulai memperbaiki kualitas lisan secara total.

Khatib mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan pahala apa pun karena gagal menjaga perilaku.

“Banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga karena tidak menjaga lisan dan akhlak,” tegas Djamaluddin di hadapan jamaah.

Dampaknya, puasa wajib berfungsi sebagai filter otomatis yang menyaring segala bentuk fitnah dan kebencian dari dalam diri setiap muslim. Ternyata, membangun kesadaran untuk selalu menaati perintah Allah di luar masjid jauh lebih menantang daripada sekadar berdiam diri saat lapar.

Al-Qur’an dan Ilmu Sebagai Senjata Melawan Keputusasaan

Kemudian, ulasan berlanjut pada pentingnya mengisi waktu Ramadan dengan memperdalam ilmu pengetahuan serta mentadabburi ayat-ayat suci Al-Qur’an. Buktinya, membaca buku dan Al-Qur’an menjadi investasi terbaik untuk meningkatkan kualitas diri baik secara intelektual maupun spiritual. Sosok pendidik ini mengingatkan bahwa ilmu yang bermanfaat akan menguatkan iman sekaligus menjauhkan seseorang dari rasa putus asa.

Tokoh agama ini mengajak jamaah untuk tetap optimis menjalani kehidupan karena pintu rahmat Allah selalu terbuka sangat lebar bagi hamba-Nya.

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena ilmu akan menguatkan iman dan memperkokoh semangat hidup,” papar sang khatib memberikan motivasi.

Sejatinya, kecerdasan yang berbalut ketakwaan akan melahirkan kebangkitan umat yang lebih kuat dan bermartabat setelah masa Ramadan usai nanti. Mari kita manfaatkan sisa bulan suci ini sebagai momentum untuk memperdalam ilmu, menjaga lisan, dan meraih derajat takwa yang sesungguhnya!

Baca Juga :

Waspada! Ini Penyebab Puasa Tidak Diterima di Bulan Ramadhan

Waspada ‘Lapar Mata’ Hari Pertama Puasa: Jaga Pahala dan Dompet

Kontributor: Halim Junior Tim Media Masjid At Taqwa PDM
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: