Risiko Nyata Dakwah Nahi Mungkar, Dr. AM Jumai: Ini Harga Sebuah Iman
SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Di balik kenyamanan mimbar, terdapat dakwah nahi mungkar yang penuh risiko, mulai dari pengucilan hingga pembatasan peran publik bagi mereka yang berani menyuarakan kebenaran pahit. Hal ini menjadi tantangan besar bagi para pendakwah yang ingin menjaga integritas moral di tengah dinamika sosial saat ini.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Dr. AM Jumai, menegaskan hal tersebut kepada muhammadiyahsemarangkota.org pada hari ini, Sabtu (3/1/2026). Ia menekankan bahwa umat Islam tidak boleh hanya fokus pada seruan kebaikan yang bersifat populer dan aman saja.
Tantangan Dakwah Nahi Mungkar Jauh Lebih Berat
AM Jumai menilai praktik mencegah kemungkaran menuntut keberanian ekstra. Hal ini terjadi karena aktivis harus bersentuhan langsung dengan kritik kebijakan, perlawanan terhadap kesewenang-wenangan, serta peringatan atas arogansi kekuasaan. Oleh karena itu, tantangan dakwah nahi mungkar jauh lebih berat daripada sekadar mengajak masyarakat pada kebaikan.
Lebih lanjut, tokoh aktivis Forum Komunikasi Semarang Bersatu (FKSB) ini mengamati adanya fenomena “politik belah bambu”. Dalam skema ini, kelompok yang memilih sikap diam atau “abu-abu” cenderung mendapatkan panggung dan keamanan. Sebaliknya, tekanan hebat sering kali menghantam mereka yang konsisten menjalankan dakwah nahi mungkar, mulai dari pengucilan hingga pembatasan peran di ruang publik.
“Banyak pelaku dakwah nahi mungkar justru menghadapi penolakan dan permusuhan. Pihak tertentu menganggap mereka mengganggu stabilitas hanya karena berani mengingatkan penguasa,” ujar sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jawa Tengah tersebut.
Peran Tokoh Muhammadiyah Semarang dalam Transformasi Umat
Sebagai bagian dari gerakan tajdid, AM Jumai mengingatkan bahwa Allah menjanjikan keberuntungan hakiki hanya kepada mereka yang berani mengambil risiko. Merujuk pada Surah Ali ‘Imran ayat 104, ia menegaskan bahwa dakwah yang hanya berisi hiburan akan menghilangkan daya ubah terhadap akhlak dan etika umat.
“Jika berhenti sebatas hiburan, dakwah kehilangan daya ubahnya. Proses transformasi watak dan perilaku umat tidak akan pernah terjadi,” tegasnya dengan lugas.
Akademisi dari Unimus ini mengajak para dai, khususnya di lingkungan Muhammadiyah Semarang, untuk tidak gentar dalam mengambil posisi tegas. Selama ini, AM Jumai memang dikenal kerap memprakarsai sejumlah gerakan dakwah nahi mungkar, seperti aksi pemberantasan togel, peredaran miras, hingga pengawasan penjualan liar makanan haram.
AM Jumai percaya bahwa setiap risiko yang muncul merupakan konsekuensi logis dari sebuah keimanan yang kokoh. Menurutnya, keseimbangan antara mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan menjadi kunci utama keberhasilan dakwah yang substansial.
“Beratnya dakwah nahi mungkar adalah harga dari keberanian iman. Dakwah sejati bukan sekadar aman dan menghibur, melainkan berani mengambil risiko demi tegaknya kebenaran,” pungkasnya.
“Tangan Senyap” Muhammadiyah Lawan Judi dan Miras di Semarang