Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tak Gengsi Belajar Ngaji, 80 Tokoh Perempuan Semarang Kumpul Khusus Ikut Tahsin Alquran

24 Agustus 2026, 11:17 WIB • 3 menit baca
Sekelompok ibu-ibu pimpinan Aisyiyah Kota Semarang mengenakan hijab sedang duduk bersama, fokus membaca buku panduan dan belajar Tahsin Alquran dalam kegiatan Camp Qur'an di Bandungan.
FOKUS BELAJAR: Suasana khusyuk para pimpinan perempuan Aisyiyah Kota Semarang saat menyimak dan mempraktikkan bacaan ayat suci dalam kelas Tahsin Alquran di Wisma Gaya 5, Bandungan. Mereka tak ragu menanggalkan atribut jabatan demi memperbaiki pelafalan dan hukum tajwid.

KABUPATEN SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org – Jabatan tinggi di organisasi rupanya tidak membuat 80 pemimpin perempuan Aisyiyah Kota Semarang ragu untuk kembali menuntut ilmu dasar agama. Sebaliknya, mereka justru proaktif meluangkan waktu khusus guna mengikuti kelas Tahsin Alquran demi menyempurnakan pelafalan ayat suci.

Sebagai wadah pembelajaran, kegiatan bertajuk Camp Qur’an ini berlangsung pada akhir pekan, tepatnya Sabtu hingga Ahad, 22–23 Agustus 2026. Untuk menjaga fokus peserta, panitia secara khusus memilih Wisma Gaya 5 di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, sebagai lokasi acara.

Selama berada di sana, suasana sejuk pegunungan seakan mengiringi keseriusan para peserta. Tanpa ragu, puluhan tokoh masyarakat dari 18 kecamatan tersebut serentak menanggalkan atribut jabatan mereka untuk duduk merendah layaknya murid madrasah.

Fokus Perbaiki Hukum Tajwid Alquran

Sejak pagi hari, lantunan ayat suci terdengar bersahut-sahutan memenuhi penjuru ruangan. Melalui sesi ini, setiap peserta mendapat kesempatan menguji bacaannya secara berhadapan langsung dengan tim pengajar. Lewat metode talaqqi tersebut, mereka bisa mengenali sekaligus memperbaiki kesalahan lisan secara lebih akurat.

Meskipun butuh adaptasi lidah, tren belajar ngaji ibu-ibu ini memancarkan semangat pantang menyerah yang luar biasa. Secara perlahan, mereka kembali membedah teori makhrajul huruf lalu mempraktikkan hukum tajwid Alquran dengan sangat cermat. Semua upaya keras tersebut mereka lakukan semata-mata demi menyempurnakan interaksi harian bersama kitab suci.

Menyiapkan Bekal Hingga Akhir Hayat

Lebih dari sekadar agenda pelatihan rutin, acara ini menghadirkan pengalaman spiritual mendalam bagi para peserta. Berangkat dari tema “Indahnya Tartil Bacaanku, Menemani Hingga Akhir Hayatku”, agenda dua hari ini sukses menyentuh relung batin terdalam mereka. Pesan moral tersebut sekaligus mengingatkan para peserta tentang pentingnya amalan abadi di penghujung usia.

Melihat antusiasme yang tinggi, Ketua Pimpinan Daerah, Aminah Kurniasih, menatap bangga ke arah para kader yang gigih melafalkan ayat. Secara khusus, ia mengapresiasi keikhlasan anggotanya untuk meruntuhkan ego demi menuntut ilmu.

“Kami sangat mengapresiasi program Camp Qur’an yang digagas Majelis Tabligh dan Ketarjihan. Ini adalah bagian dari ikhtiar untuk membangun kualitas kader dan menyatukan langkah dakwah Al-Qur’an di lingkungan ‘Aisyiyah,” ujar Aminah.

Teladan Nyata Perempuan Berkemajuan

Selain memperkuat nilai spiritual personal, Aminah menilai kegiatan ini sangat sejalan dengan spirit pergerakan organisasi modern. Baginya, keberanian menurunkan ego demi membenahi bacaan merupakan pijakan awal untuk mencetak pemimpin berkualitas.

“Pembinaan pimpinan seperti ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan karakter perempuan berkemajuan,” jelasnya.

Menatap ke depan, ia berharap ilmu dari pelatihan ini mampu segera peserta terapkan di wilayah masing-masing. Oleh karena itu, setiap kader harus terus memacu kapasitas diri dalam mengamalkan ajaran agama secara utuh.

“Dengan demikian, pimpinan tidak hanya mampu menggerakkan organisasi, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan keislaman di tengah masyarakat,” tegas Aminah memungkasi penjelasannya.

Sebagai refleksi, kisah inspiratif dari Semarang ini menjadi pengingat tajam bagi siapa saja. Faktanya, jabatan tinggi atau usia senja semestinya tidak pernah menjadi penghalang seseorang untuk terus memperbaiki diri. Pada akhirnya, keikhlasan mengikuti Tahsin Alquran ini menjelma menjadi wujud cinta mendalam agar lantunan ayat suci kelak setia menemani hingga akhir hayat.

Kontributor: Anis
Editor: Adib Abyan Alb
Bagikan: