Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Tradisi Anjangsana: Kunci Eratkan Silaturahmi Guru Lewat Buka Bersama

15 Maret 2026, 13:25 WIB 2 menit baca
Foto sekelompok wanita (guru dan keluarga) yang mengenakan jilbab duduk melingkar di atas karpet bermotif merah dan biru di dalam sebuah ruangan rumah. Di tengah-tengah mereka tersaji aneka hidangan takjil seperti gorengan, irisan semangka, kue basah, dan minuman plastik yang diletakkan di piring-piring plastik. Suasana tampak akrab dan santai saat mereka berbincang menunggu waktu berbuka. Di latar belakang terlihat pintu kayu dan area dapur rumah.
SILATURAHMI TANPA BATAS: Keluarga besar MI Muhammadiyah Semarang saat menggelar tradisi anjangsana dan buka puasa bersama di kediaman salah satu guru pada Sabtu (14/3/2026). Melalui konsep "bawa bekal sendiri", para pendidik merayakan kebersamaan secara sederhana namun syahdu untuk mempererat jalinan kekeluargaan di luar jam sekolah.

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Saat restoran dan hotel penuh dengan antrean reservasi, keluarga besar MI Muhammadiyah Semarang justru memilih cara yang jauh lebih syahdu untuk menikmati sore. Buktinya, mereka menggelar acara buka bersama penuh kehangatan di kediaman Ustadz Abidin, S.H.I., pada Sabtu (14/3/2026). Alhasil, suasana keakraban antar pendidik terasa jauh lebih kental daripada sekadar makan-makan di tempat umum.

Uniknya, setiap guru secara sukarela berlomba-lomba membawa aneka menu takjil untuk mereka nikmati bersama-sama di meja panjang. Pasalnya, tradisi “bawa bekal sendiri” ini melatih rasa berbagi sekaligus memperkaya variasi hidangan tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Kehadiran seluruh anggota keluarga guru, pengurus Majelis Dikdasmen, hingga tokoh masyarakat sekitar membuat suasana semakin meriah namun tetap khidmat.

Anjangsana Ramadhan: Lebih dari Sekadar Hubungan Kerja

Kepala Madrasah, Chusnul Chotimah, berharap kegiatan rutin tahunan ini terus terjaga sebagai jembatan silaturahmi yang kokoh. Buktinya, Chusnul menekankan bahwa kunjungan ke rumah tiap guru secara bergiliran dapat mempererat jalinan kekeluargaan di luar jam sekolah. Dampaknya, para pendidik tidak hanya mengenal rekan sejawat sebagai teman kerja, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar.

Momen buka bersama ini juga menjadi sarana yang efektif untuk saling bertukar cerita dan memperkuat dukungan moral.

Chusnul Chotimah menyampaikan bahwa agenda ini bertujuan agar jalinan kekeluargaan tumbuh lebih dalam dengan mengenal keluarga masing-masing guru.

Ternyata, konsep anjangsana seperti ini mampu menciptakan lingkungan kerja yang jauh lebih harmonis dan produktif. Dampaknya, rasa memiliki terhadap institusi semakin tumbuh kuat karena setiap individu merasa dihargai secara personal. Hubungan antar staf pun kini menjadi lebih solid berkat keintiman yang terbangun di meja makan.

Kultum dan Doa: Nutrisi Rohani Sebelum Santap Utama

Kemudian, rangkaian acara bermula dengan kultum singkat dari tokoh agama setempat untuk memberikan suntikan semangat ibadah. Buktinya, para guru menyimak dengan saksama pesan-pesan kebaikan sebelum menutup sesi dengan doa bersama yang syahdu. Alhasil, setiap jamaah merasakan kepuasan batin sekaligus terpenuhinya kebutuhan spiritual di penghujung hari.

Setelah doa berakhir, seluruh tamu segera menyerbu aneka takjil manis dan hidangan utama spesial dari tuan rumah.

Kepala Madrasah menginginkan agar kegiatan penuh berkah ini tetap terlaksana setiap tahun sebagai identitas positif bagi madrasah.

Akhirnya, kemeriahan sore itu berakhir dengan ramah tamah yang santai dan penuh tawa di teras rumah. Sejatinya, esensi dari buka bersama bukanlah pada kemewahan tempatnya, melainkan pada ketulusan orang-orang yang hadir di dalamnya. Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk kembali pulang ke akar kesederhanaan yang menyejukkan hati!

Baca Juga :

Bukan Formalitas Belaka! Aksi Pimpinan Turun Gunung Serap Suara Akar Rumput

Kontributor: Pujiyanto Tim Media PCM Ngaliyan
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: