Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Jangan Mendadak! Simak Strategi Persiapan Ramadan agar Panen Pahala Melimpah

25 Januari 2026, 05:53 WIB • 2 menit baca
Ilustrasi filosofi persiapan Ramadhan tangan menanam benih menyiram tanaman dan panen gandum emas di bawah bulan sabit
Filosofi spiritual menyambut bulan suci. "Rajab bulan menanam, Sya'ban menyirami, dan Ramadhan adalah bulan memanen pahala.

CANDISARI, muhammadiyahsemarangkota.org – “Rajab bulan menanam, Sya’ban menyirami, Ramadan bulan memanen.” Dr. AM Jumai menekankan filosofi ini saat mengisi Kajian Ahad Pagi Semarang, Ahad (25/1). Ia menjadikannya panduan spiritual bagi jamaah dalam melakukan persiapan Ramadan secara efektif.

Puluhan jamaah tampak memadati Masjid Raya Candi Lama sejak waktu Subuh pagi ini. Mereka menyimak pesan penting dari Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang tersebut dengan khidmat.

Analogi Pertanian untuk Persiapan Ramadan

AM Jumai menggunakan analogi pertanian yang sederhana namun mendalam. Ia mengajak jamaah memulai langkah nyata sejak dini. Menurutnya, persiapan Ramadan tidak bisa dilakukan secara mendadak. Kualitas ibadah di bulan suci sangat bergantung pada usaha umat di bulan-bulan sebelumnya.

“Jika ingin panen pahala melimpah saat Ramadan, kita harus menanam kebaikan sejak sekarang,” ujar akademisi dari Universitas Muhammadiyah (Unimus) ini dengan tegas.

Oleh karena itu, amalan bulan Rajab dan Sya’ban memegang peran sangat vital. Umat perlu melakukan “pemanasan” spiritual di dua bulan ini. Tanpa persiapan matang, AM Jumai khawatir umat akan kaget dan gagal meraih keutamaan bulan puasa.

Kualitas di Atas Kuantitas

Selain membahas strategi ibadah, sang pembicara juga menyoroti kondisi realitas umat Islam. Ia mengingatkan bahwa kekuatan umat tidak boleh hanya berhenti pada angka statistik.

“Umat Islam memang banyak secara kuantitas dan selalu diperhitungkan,” kata Jumai.

Namun, ia menegaskan satu hal penting. Umat harus beralih fokus pada peningkatan kualitas ilmu dan iman. Kapasitas diri jauh lebih berharga daripada sekadar jumlah yang banyak.

Dalam konteks ini, ia berharap Masjid Raya Candi Lama mampu berfungsi maksimal. Tempat ini harus menjadi benteng dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Lebih jauh, masjid wajib membentengi masyarakat sekitar dari berbagai pengaruh negatif zaman.

Tiga Kunci Shalat Berkualitas

Sebagai penutup, AM Jumai membagikan resep menjaga kualitas diri melalui shalat. Ia mengutip nasihat ulama besar Hasan Al-Bashri. Agar shalat berdampak nyata pada perilaku, seorang muslim membutuhkan tiga kunci utama.

Pertama adalah ikhlas, yakni niat murni mengharap ridha Allah. Kedua adalah khauf, atau rasa takut akan keagungan Allah yang melahirkan kekhusyukan. Ketiga adalah dzikir, yaitu kesadaran hati untuk selalu mengingat Allah.

Jamaah lantas mengakhiri kegiatan tersebut dengan doa bersama. Mereka berharap mampu menjaga semangat (istiqamah) dalam memakmurkan masjid dan menyongsong bulan suci mendatang.

Baca juga:

Menghidupkan Amalan Bulan Sya’ban

Persiapan Menyambut Ramadhan: Meraih Ampunan dan Keutamaan Bakti

Sering Merasa Gagal di Ramadhan Sebelumnya? Lakukan Ini Sebelum Terlambat!

Kontributor: Tim Media Masjid Raya Candi Lama
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: