Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Menuju Jiwa Tenang, Begini Cara Tepat Lakukan Muhasabah Bulan Ramadan

1 Maret 2026, 14:05 WIB 2 menit baca
Prof Ahwan Fanani sedang memaparkan materi tentang makna puasa Ramadan dan pentingnya muhasabah bulan Ramadan dalam acara Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan di Semarang.
PENCERAHAN SPIRITUAL: Pakar agama Prof. Dr. Ahwan Fanani, M.Ag., menyampaikan tausiyah mengenai esensi muhasabah bulan Ramadan dan bagaimana ibadah puasa melatih kesabaran jemaah dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan di Kampus ITESA, Semarang, Ahad (1/3/2026).

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org — Setiap manusia memiliki potensi jiwa yang bergejolak. Kadang jiwa tersebut taat, namun kadang berbuat maksiat. Oleh karena itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang Prof. Dr. Ahwan Fanani, M. Ag. membeberkan kunci meraih jiwa yang tenang. Ia menyampaikan hal tersebut sebagai panduan muhasabah bulan Ramadan yang sesungguhnya.

Pesan mendalam tersebut tersaji dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan, Ahad (1/3/2026), di Kampus ITESA Muhammadiyah, Semarang.

Makna Puasa Ramadan sebagai Proses Pembakaran

Dalam paparannya, Prof Ahwan Fanani mengupas tuntas makna puasa Ramadan dari sisi etimologis. Menurutnya, kata Ramadan bermakna panas atau pembakaran. “Ramadan artinya panas. Artinya, Ramadan itu esensinya adalah pembakaran diri menjadi manusia yang baik,” tegas guru bear

Lebih lanjut, beliau menjelaskan konsep jiwa menurut akidah Muhammadiyah. Jiwa manusia kelak akan bangkit secara utuh. Mengutip Surah Al-Fajr, Allah Swt. memanggil jiwa yang tenang (Nafsul Mutmainnah) untuk kembali kepada-Nya.

Sebaliknya, ada juga jiwa yang selalu mengarah pada keburukan (Amaratun Bissu’). Selain itu, terdapat jiwa yang kadang taat dan kadang jelek (Nafsul Lawwamah). Maka dari itu, puasa hadir untuk mengendalikan gejolak tersebut.

Puasa Melatih Kesabaran dan Ketekunan Ibadah

Selanjutnya, ia menguraikan bahwa puasa melatih kesabaran tingkat tinggi. Beliau merujuk pada pemikiran Imam Ghazali tentang tiga jenis sabar. “Menurut Imam Ghazali sabar dibagi tiga. Pertama, as-shobru fit tho’ah (sabar dalam ketaatan). Kedua, as-shobru indal musibah (sabar menghadapi segala sesuatu yang tidak menyenangkan). Ketiga, as-shobru alal ma’siyat (sabar menghindari maksiat),” urainya merinci.

Di samping melatih kesabaran, umat Islam juga harus menjaga prasangka kepada Sang Pencipta. “Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Maka hendaknya kita berhati-hati dalam membangun prasangka kepada Allah,” pesannya kepada para jemaah kajian.

Terkait pelaksanaan ibadah, Prof. Ahwan mengingatkan jemaah agar mengukur kemampuan diri. Umat Islam sebaiknya tidak memaksakan diri di luar batas wajar. “Dalam menjalankan ibadah hendaknya tetap memperhatikan kemampuan diri. Jangan memaksakan diri karena akibatnya tidak baik,” tambahnya.

Sebagai penutup, beliau membedakan karakteristik beberapa ibadah utama. Salat sangat membutuhkan ketekunan, sedangkan puasa menuntut kesabaran ekstra.

“Maka ibadah yang terbaik yang dilakukan oleh seorang hamba adalah ibadah yang dilakukan dengan hati yang bersih dan tenang, serta semata-mata hanya untuk mendapatkan rida-Nya,” pungkasnya memberikan bekal muhasabah bulan Ramadan

Baca juga:

Menjemput Tenang Lewat Muhasabah: Rahasia Hidup yang Tak Pernah Salah Alamat

Momentum Tahunan: Rahasia Muhasabah yang Sering Terabaikan dalam Ibadah Puasa

Kontributor: Pujiyanto
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: