Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Momentum Tahunan: Rahasia Muhasabah yang Sering Terabaikan dalam Ibadah Puasa

22 Februari 2026, 13:59 WIB 3 menit baca
Foto dari arah belakang penceramah yang mengenakan batik cokelat dan peci hitam di atas podium kayu, sedang berbicara di hadapan ratusan jamaah pria yang duduk bersila di karpet merah dalam aula masjid yang luas.
Ustadz Djazuli saat menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya introspeksi diri (muhasabah) sebelum datangnya hari perhitungan di hadapan jamaah Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang pada Sabtu (21/2/2026).

Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Pernahkah Anda merenung bahwa kesempatan mencicipi indahnya Ramadan tahun ini mungkin menjadi yang terakhir kalinya? Buktinya, suasana syahdu menyelimuti Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang saat jamaah menyerap pesan mendalam tentang pentingnya kembali kepada Tuhan pada Sabtu (21/2/2026). Momentum langka yang hanya datang setahun sekali ini menuntut setiap muslim untuk berhenti sejenak dan melihat kembali noda dalam hati mereka.

Melewatkan bulan penuh ampunan ini tanpa perubahan nyata merupakan kerugian terbesar bagi seorang hamba. Alhasil, setiap tarikan napas di bulan suci harus menjadi pengingat untuk segera membersihkan diri melalui taubat yang sungguh-sungguh. Pasalnya, Ramadan menawarkan transformasi total bagi siapa saja yang berani mengakui kesalahan dan bertekad memperbaiki perilakunya sejak saat ini.

Menghitung Diri Sebelum Hari Perhitungan Tiba

Selanjutnya, Ustadz Djazuli dalam kultumnya mengajak jamaah melakukan muhasabah atau introspeksi total terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir. Buktinya, setiap individu perlu menghisab amalannya sendiri sebelum datangnya hari perhitungan yang sesungguhnya di hadapan Sang Pencipta. Sosok penceramah ini menekankan bahwa taubat yang tulus bukan sekadar kata-kata, melainkan penyesalan mendalam yang berujung pada penghentian dosa.

Penceramah mengingatkan bahwa syarat diterimanya taubat adalah kesungguhan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab,” tutur Djazuli saat mengutip pesan legendaris dari sahabat Nabi, Umar bin Khattab.

Dampaknya, jamaah mulai menyadari bahwa hubungan dengan sesama manusia juga harus segera terselesaikan melalui permintaan maaf yang tulus. Ternyata, membersihkan hati dari dendam dan kesalahan jauh lebih melegakan daripada sekadar menahan rasa lapar sepanjang hari.

Waspada ‘Puasa Kosong’ yang Menghanguskan Seluruh Pahala

Kemudian, ulasan berlanjut pada peringatan keras mengenai potensi gugurnya pahala puasa akibat perilaku yang tidak terjaga. Buktinya, aktivitas seperti menyebar ghibah, berkata dusta, hingga perbuatan tercela lainnya bisa membuat puasa seseorang menjadi tidak bernilai di hadapan Allah. Sang penceramah menegaskan bahwa Tuhan sama sekali tidak membutuhkan pengorbanan lapar dari mereka yang tidak mampu mengunci lisannya dari maksiat.

Sosok penceramah ini memaparkan bahwa esensi puasa adalah bentuk pengendalian diri secara total terhadap seluruh larangan agama.

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum,” jelas penceramah tersebut.

Akhirnya, momentum istimewa ini harus kita manfaatkan sebagai waktu terbaik untuk mengejar ampunan melalui doa-doa mustajab di waktu sahur. Sejatinya, kemenangan Ramadan hanya milik mereka yang berhasil keluar dari bulan suci dalam keadaan bersih dan memiliki derajat takwa yang lebih tinggi. Mari kita segera bergerak menjemput surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan hati yang penuh kepasrahan!

Baca Juga :

Menjemput Tenang Lewat Muhasabah: Rahasia Hidup yang Tak Pernah Salah Alamat

Kritik Tajam! Hindari Puasa Tanpa Makna, Strategi Transformasi Diri di Bulan Ramadhan

Kontributor: Halim Junior Tim Media Masjid At Taqwa PDM Kota Semarang
Editor: Rizqi Aulia
Bagikan: