Setiap Muslim tentu ingin memaksimalkan ibadah saat bulan suci tiba. Oleh karena itu, memahami cara i’tikaf sesuai sunnah menjadi sangat penting. Ulama hadis menjelaskan amalan ini sebagai wujud nyata meneladani Rasulullah. Selanjutnya, mari kita pelajari panduan beribadah mulia ini bersama-sama.
Secara fiqih, hukum melaksanakan ibadah i’tikaf adalah sunnah. Faktanya, Rasulullah SAW rutin melaksanakan amalan ini sebagai bagian dari i’tikaf 10 hari terakhir Ramadan. Oleh sebab itu, kita sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam berharga tersebut setiap tahunnya.
Nabi Muhammad SAW memberikan arahan jelas terkait pelaksanaannya. Beliau secara langsung mengajak umatnya untuk mempraktikkan cara i’tikaf sesuai sunnah ini bersama-sama.
Berikut adalah sabda beliau: قَالَ مَنْ كَانَ اِعْتِكَفُ مَعِي فَلْيَعْتَكِفْ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرِ (“Siapa yang telah beri’tikaf bersamaku maka hendaklah dia beri’tikaf pada sepuluh malam-malam akhir.”-HR. Bukhari: 1887, 1894).
Selain itu, sebuah riwayat juga memperkuat rutinitas ibadah beliau. Riwayat ini menyebutkan syarat i’tikaf terkait tempat dan waktu spesifik pelaksanaannya secara detail: فِي اِعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَاَن (“Dalam i’tikaf beliau di Masjid pada kesepuluh terakhir dari bulan Ramdan.”- HR Muslim: 2007, 4041).
Praktik dan Keutamaan I’tikaf
Secara praktis, kita melakukan amalan ini dengan berdiam diri di dalam masjid. Tentu saja, tujuan ibadah ini untuk taqarrub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah. Selama menginap, kita bisa mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Jadi, keutamaan i’tikaf benar-benar bisa kita raih tanpa membuang waktu sia-sia.
Terkait pelaksanaannya, Rasulullah SAW selalu bergegas sesaat setelah shalat Subuh. Praktik ini menjadi fondasi penting dalam cara i’tikaf sesuai sunnah. Oleh karena itu, kita bisa meneladaninya dengan mudah di masjid terdekat.
Berikut rujukan hadisnya: كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مَعْتَكِفَهُ (“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak i’tikaf, beliau shalat Shubuh terlebih dahulu, lalu masuk ke tempat i’tikafnya.” – HR Muslim: 2007).
Selama menjalani ibadah ini, Rasulullah senantiasa menetap penuh di dalam masjid. Beliau hanya keluar jika terdapat hajat kemanusiaan yang sangat mendesak. Contoh hajat mendesak ini meliputi buang air besar atau kecil.
Demikian teks hadis rujukannya: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكِفَ أَدْنَى إِلَي رَأْسِهِ فَأَرْجَلَهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ (“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ‘itikaf sering memasukkan kepalanya ke kamarku, lalu aku menyisir rambutnya. Beliau tidak pernah masuk rumah kecuali jika membuang hajat.”- HR Turmuzi: 733).
Hukum Keluar Masjid untuk Urusan Sosial
Selanjutnya, ulama berbeda pendapat mengenai hukum keluar masjid untuk urusan sosial. Perkara sosial ini mencakup menjenguk orang sakit atau mengantar jenazah ke pemakaman. Sebagian ulama membolehkannya, sementara sebagian lain tegas melarangnya. Namun, semua pilihan amalan tersebut sesungguhnya tetap bernilai kebaikan.
Tetap berada di masjid berarti kita fokus memperkuat hubungan vertikal dengan Allah. Sebaliknya, keluar sejenak untuk keperluan mendesak turut membangun persaudaraan sesama manusia. Setelah hajat selesai, kita segera kembali ke masjid guna melanjutkan ibadah. Kesimpulannya, fleksibilitas ini melengkapi panduan cara i’tikaf sesuai sunnah bagi umat Islam.
Dinamika Waktu dan Durasi I’tikaf
Dalam sejarahnya, durasi ibadah ini tidak selalu berjumlah tepat 10 hari. Terkadang, Rasulullah SAW melaksanakan i’tikaf selama 20 hari penuh.
Hadis sahih berikut merekam kejadian tersebut dengan sangat jelas: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَلَمْ يَعْتَكِفُ عَامًا فَلَمَّا كَانَ فِي الْعَامِ الْمُقْبَلِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ (“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa ‘itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan. Pernah pada satu tahun beliau tidak ‘itikaf, kemudian pada tahun berikutnya beliau ‘itikaf dua puluh hari.”- HR Turmuzi: 732).
Lalu, mengapa Rasulullah pernah menunda pelaksanaan ibadah iktikafnya? Sejarah mencatat sebuah kejadian internal antara Nabi dan para istrinya. Dinamika keluarga ini memberikan pelajaran berharga dalam memahami esensi beribadah.
Hadis berikut merinci penjelasannya: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرَبُ لَهُ خُبَاَءَ فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ فَاسْتَأْذَنَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَضْرَبَ خَبَاءَ فَأَذَنْتُ لَهَا فَضَرَبْتُ خُبَاءَ فَلَمَّا رَأَتْهُ زَيْنَبُ اِبْنَةِ جَحْشٍ ضُرِبَتْ خُبَاءً آَخَرَ فَلَمَّا أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى الْأَخْبِيَّةَ فَقَالَ مَا هَذَا فَأُخْبِرَ فَقَاَل النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَاَلْبِرَّ تَرَوْنَ بِهِنَّ فَتَرَكَ الْاِعْتِكَافَ ذَلِكَ الشَّهْرُ ثُمَّ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ
Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan dan aku membuatkan tenda khusus untuk beliau, dan setelah selesai shalat Shubuh, beliau masuk ke dalam tenda tersebut. Kemudian Hafshah meminta izin kepada ‘Aisyah untuk juga membuat tenda, maka ‘Aisyah mengizinkannya, lalu Hafshah membuatnya. Ketika Zainab putri dari Jahsy melihatnya, ia pun membuat tenda juga. Pada pagi harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat tenda-tenda tersebut lalu berkata: Apa ini? Lantas beliau diberitahu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Apakah kalian melihat kebaikan ada padanya? Akhirnya beliau meninggalkan i’tikaf pada bulan itu lalu beliau beri’tikaf sepuluh hari pada bulan Syawal.” (HR Bukhari 1892, Muslim: 2007).
Mengganti Jadwal I’tikaf
Berdasarkan riwayat tersebut, Nabi sempat mengganti jadwal i’tikaf pada awal bulan Syawal. Selanjutnya, beliau menyempurnakan ibadah ini dengan beri’tikaf 20 hari pada Ramadan berikutnya. Kejadian historis ini menunjukkan fleksibilitas dalam beribadah sesuai tuntunan syariat.
Meskipun sempat menunda, beliau tetap menjaga fokus ibadahnya dari rumah. Bahkan, beliau tidak menggauli istrinya agar ibadahnya jauh lebih khusyuk di malam-malam terakhir.
Berangkat dari peristiwa ini, banyak ulama memperbolehkan muslim untuk beri’tikaf di bilik mushala rumahnya. Jadi, mari kita terapkan cara i’tikaf sesuai sunnah ini dengan niat tulus semata karena Allah.
Wallâhu a’lamu biṣawâb.
Baca juga:
Malam Lailatul Qadar 2026, Momentum Mengubah Takdir dan Peradaban
Kapan Malam Lailatul Qadar 2026, Malam Ganjil Muhammadiyah atau NU?
Membayang Suasana Malam Lailatul Qadar dan Keistimewaannya di Alam Malakut