Pereda Politik Panas! Kisah Harmoni Warga di Balik Tradisi HalalbiHalal
Semarang, muhammadiyahsemarangkota.org — Tradisi halalbihalal ternyata lahir dari rahim ketegangan politik Indonesia yang sempat memanas pasca-kemerdekaan. Buktinya, KH Drs. Muh Saidun, M.Ag. mengungkap fakta sejarah tersebut dalam pertemuan istimewa Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Candisari 1 di Masjid Raya Candi Lama. Alhasil, paparan mengenai asal-usul persatuan bangsa ini sukses menciptakan harmoni warga yang lebih bermakna pada akhir pekan ini.
Muchsin menjelaskan bahwa para ulama menawarkan konsep halalbihalal sebagai jalan keluar spiritual saat suhu perpolitikan nasional mencapai titik didih. Pasalnya, penghapusan “tujuh kata” dalam sila pertama Pancasila kala itu sempat memicu perpecahan yang cukup hebat di tengah masyarakat. Kehadiran narasi sejarah ini menyadarkan ratusan jamaah bahwa harmoni warga merupakan warisan berharga yang harus mereka jaga demi keutuhan ukhuwah Islamiyah.
Filosofi Tawadhu: Menanggalkan Ego di Hadapan Sesama
Selanjutnya, KH Muh Saidun mengajak seluruh jamaah merenungkan doa Sayyidah Aisyah RA tentang permohonan ampun yang tulus. Buktinya, ia menekankan bahwa kepintaran atau kesalehan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Dampaknya, sikap rendah hati atau tawadhu kini menjadi elemen paling krusial bagi seluruh pengurus untuk menjaga harmoni warga agar tetap stabil serta berkelanjutan.
KH Muh Saidun mengingatkan agar setiap individu berani menanggalkan ego untuk mengakui kesalahan serta memberikan maaf secara tulus.
“Halalbihalal lahir sebagai penyejuk di tengah agenda perpolitikan yang sangat panas kala itu, para ulama menawarkan jalan keluar spiritual agar bangsa ini kembali bersatu,” urai KH Muh Saidun.
Ternyata, spirit persatuan ini menjadi pondasi penting agar masyarakat tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan pandangan atau ego pribadi. Dampaknya, penguasaan sejarah tersebut memicu antusiasme jamaah untuk lebih menghargai setiap momen pertemuan yang mengedepankan perdamaian. Hal ini membuktikan bahwa harmoni warga yang kokoh bermula dari pemahaman sejarah yang lurus serta kedalaman iman setiap kader Muhammadiyah.
Aksi Nyata: Gerak Jasmani di Balik Kekuatan Rohani
Kemudian, panitia melengkapi penguatan batin tersebut dengan berbagai rangkaian kegiatan fisik yang menyehatkan. Buktinya, ratusan jamaah mengikuti aksi jalan sehat menyusuri rute segar di sekitar kawasan Candi Lama sejak pagi buta. Alhasil, kehadiran posko pemeriksaan kesehatan gratis dan momen sarapan bersama semakin mempererat harmoni warga dalam suasana yang jauh lebih cair serta penuh keakraban.
Kyai Saidun juga berpesan agar jamaah tetap konsisten menjaga ibadah pasca-Ramadan sebagai bentuk pengabdian yang nyata.
“Sekalipun seseorang merasa pintar, dermawan, atau sholeh, ia tidak boleh merasa sombong atau merasa tanpa dosa,” tutur KH Muh Saidun penuh penekanan.
Rangkaian acara di PCM Candisari 1 ini menutup hari dengan pesan kuat tentang pentingnya menjaga keseimbangan jasmani dan rohani. Sejatinya, esensi halalbihalal terletak pada kesediaan setiap insan untuk saling merangkul tanpa syarat demi kemajuan lingkungan sekitar. Mari kita terus rawat harmoni warga ini sebagai bentuk ikhtiar nyata dalam memperkokoh ukhuwah Islamiyah di tengah tantangan zaman!
Baca Juga :
Prof. Abdul Mu’ti hadiri Halalbihalal FOKAL IMM Jateng: Kader Jangan Jago Kandang!
Keutamaan Memberi Maaf dan Tantangan Menurunkan Ego di Momen Lebaran