Informasi Kiai Najib
Ada yang menarik saat bertakziah ke rumah Ibu Wasilah di Dondong Wonosari, Kota Semarang, tadi pagi (Jumat, 17/4/2). Setelah menyampaikan belasungkawa dan duduk dekat Kiai Najib, suami Bu Wasilah, perbincangan bergeser ke arah sejarah Muhammadiyah dan informasi penting tentang awal mula persyarikatan di Wonosari dan Ngaliyan. Ada informasi berharga tentang hubungan Pondok Termas Pacitan dengan Muhammadiyah.
Sebenarnya bukan kali ini saja saya memperoleh informasi santri Termas bergabung dengan Muhammadiyah. Namun informasi dari Kiai Najib ini semakin memperkuat catatan sejarah Muhammadiyah yang sebelumnya pernah saya dengar.
Ayah Kiai Najib, yaitu Kiai Abdullah Dondong, adalah salah satu pendiri Muhammadiyah di Ngaliyan. Muhammadiyah Wonosari berdiri terlebih dahulu sebelum berdirinya PImpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngaliyan. Peran keluarga Kiai Najib tidak bisa diabaikan, termasuk dalam infrastruktur masjid dan madrasah di Dondong, yang menjadi pusat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wonosari.
Menurut Kiai Najib, ayahnya (Kiai Abdullah Dondong) dahulu mondok di Pondok Termas Pacitan. Belakangan, Kiai Abdullah bergabung dengan persyarikatan karena merasa bahwa ajaran pesantren tersebut justru dipraktikkan oleh Muhammadiyah. Bahkan, sebelum meninggal, beliau berpesan agar Masjid al-Muhajirin tidak dimasuki TBC (Takhayul, Bidah, Khurafat). Dan madrasah selalu dipertahankan keberadaan serta manfaatnya.
Informasi Kiai Najib tersebut mengingatkan kembali kepada satu atau dua cerita yang saya dengar dari warga Muhammadiyah yang ternyata orang tua atau kakeknya adalah alumni Pondok Termas.
Simpul Termas
Bukti paling jelas hubungan santri Termas dan Muhammadiyah adalah dalam catatan Raden Hadjid, murid Kiai Ahmad Dahlan. Ayah Raden Hadjid adalah penandatangan akta pendirian Muhammadiyah. Hadjid muda pernah mondok di Termas selama 3 tahun sebelum pulang ke Kauman, Yogyakarta, dan berguru kepada Kiai Ahmad Dahlan.
Raden Hadjid begitu terkesan dengan ajaran gurunya tersebut dan menuliskan 7 pelajaran dari Kiai Ahmad Dahlan (telah dicetak dan diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah). Raden Hadjid kemudian menjadi Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tahun 1951-1957.
Pondok Termas sendiri mendapat nama besar dari Kiai Mahfud Termas, penulis kitab fikih Hasyiyah al-Muqaddimah al-Hadramiyah (dicetak 7 jilid) dan kitab ilmu hadis Manhaj Dzawi an-Nadhar. Kiai Mahfudz punya hubungan intelektual dengan Kiai Saleh Darat. Adiknya, ahli ilmu falak Kiai Dahlan, menjadi murid dan menantu Kiai Saleh. Pengembang Pondok Termas, Kiai Dimyati, juga berguru di Darat, Semarang.
Tidak berlebihan jika kemudian Termas punya hubungan dengan sejarah Muhammadiyah dan pendirinya, karena Kiai Ahmad Dahlan pernah belajar kepada Kiai Saleh Darat. Kiai Saleh ini menjadi guru pula bagi Kiai Hasyim Asy’ari dan banyak ulama Jawa.
Saat ini, Kiai Saleh Darat sedang diupayakan untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional oleh Pimpinan Cabang NU (PCNU) dan Pemkot Semarang. Dalam seminar nasional sebelum puasa lalu, penulis mewakili Pimoinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang mempresentasikan tentang perjuangan beliau. Sementara Ketua PDM menjadi salah satu perumus ajuan gelar pahlawan bagi Kiai Saleh Darat.
Cermin Ketegasan Kiai Saleh Darat
Hubungan dekat Muhammadiyah dengan Termas dan Kiai Saleh Darat muncul pada beberapa cerita, seperti dikutip Taufiq Hakim dalam bukunya. Ada yang berpendapat bahwa nama Muhammadiyah terinspirasi dari karya Kiai Saleh Darat tentang penjelasan Kitab Jauharah at-Tauhid. Pada karya tersebut, Kiai Saleh menyebut “Zaman Muhammadiyah”, yaitu umat era Nabi Muhammad.
Bahkan, ada yang menduga bahwa bakat ilmu falak Kiai Ahmad Dahlan itu terkait dengan Kiai Dahlan Termas yang juga ahli falak. Jika ditilik lebih lanjut, tampak pemikiran agama yang jelas dan tegas, baik dalam karya Kiai Saleh Darat, seperti dalam Majmu’at asy-Syari’ah al-Kafiyah li al-‘Awam dan Tafsir Faid ar-Rahman, dengan pandangan Kiai Ahmad Dahlan.
Oleh karena itu, ada benang merah pemikiran Kiai Saleh Darat, Pondok Termas, dan sejarah Muhammadiyah, meskipun ada perbedaan mengenai sikap terhadap tasawuf. Bahkan, cucu Kiai Saleh Darat, yaitu Kiai Ali Cholil, pernah menjadi Pimpinan PDM Kota Semarang dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah.
Pandangan akidah Kiai Saleh sangat tegas terhadap sesajen dan sedekah bumi yang beliau pandang menyimpang. Bagi beliau, orang yang sujud atau menyediakan sesajen kepada danyang dihukumi murtad. Kiai Saleh juga kritis terhadap pemerintah kolonial. Hal ini rupanya menurun kepada Kiai Hasyim Asy’ari dan diikuti dalam pergerakan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
Karena itu, hijrahnya Kiai Abdullah Dondong ke Muhammadiyah tidak lahir dari ruang kosong atau dari pikiran sekejap. Ia lahir dari proses penghayatan keagamaan yang mempertemukannya dengan Pondok Termas dan persyarikatan. Hal itu menunjukkan bahwa pemikiran Islam yang jelas dan jernih bukanlah sebuah arus baru. Namun sudah menjadi bagian klasik dari sejarah Muhammadiyah dan pemikiran Islam di Indonesia yang kompleks.
Baca juga:
Biografi Kiai Saleh Darat: Ulama Nusantara dan Guru KH Ahmad Dahlan yang Kritis
Beda Tarekat NU dan Irfani Muhammadiyah: Satu Tuhan, Dua Jalan Menuju Kesalehan