Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Saat Dunia Maya Gaduh, Taj Yasin Maimoen Pilih Rawat Ukhuwah NU dan Muhammadiyah dalam Sunyi

19 April 2026, 20:15 WIB 4 menit baca
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen tersenyum ramah menyapa jamaah saat menghadiri silaturahmi KBIHU Muhammadiyah Semarang, wujud nyata toleransi Jawa Tengah.
MERAWAT UKHUWAH: Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (tengah) memberikan salam hangat saat menyapa jamaah lintas organisasi dalam acara silaturahmi KBIHU Muhammadiyah Semarang di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Ahad (19/4/2026). Kehadiran Gus Yasin menjadi simbol kuatnya toleransi kerukunan antara jamaah NU dan Muhammadiyah di Jawa Tengah. (Foto: Imam S Abu Maulana)

SEMARANG, muhammadiyahsemarangkota.org Ahad pagi, 19 April 2026, di Gedung Gradhika Bhakti Praja di Jalan Pahlawan, suasana terasa berbeda. Tidak ada riuh perdebatan identitas, tidak ada sekat yang menegang. Yang ada justru kehangatan yang mengalir pelan, seperti air yang menemukan jalannya sendiri. Di tengah ruangan itu, hadir sosok Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.

Berbalut kemeja putih dan sarung batik. Ia melangkah santai bukan sekadar sebagai representasi pemerintah, tetapi sebagai peneduh bagi semua golongan.

Ia tidak datang membawa jargon persatuan yang kosong. Ia datang dengan kesadaran sederhana: bahwa masyarakat tidak butuh dipaksa menjadi seragam, melainkan dijaga agar tetap saling memahami.

NU dan Muhammadiyah tidak untuk dileburkan,” ucap pria yang akrab disapa Gus Yasin ini, tenang namun tegas. “Tapi harus berjalan bersama.”

Kalimat itu meluncur menyejukkan, ibarat oase yang menampar pelan segala prasangka yang selama ini tumbuh liar. Sebab memang begitulah adanya, dua ormas besar ini tidak pernah ditakdirkan untuk menjadi sama, melainkan saling melengkapi.

Yang satu mengakar kuat dalam tradisi, yang lain bergerak lincah dalam tajdid. Berbeda arah angin, tapi berlayar di samudra yang sama. Dan Jawa Tengah, sejauh ini, masih berhasil menjaga keseimbangan itu.

Menundukkan Ego dalam Satu Saf

Kepada muhammadiyahsemarang.org, Taj Yasin Maimoen bercerita tentang hal yang sangat sederhana, nyaris sepele, tapi justru di situlah letak keindahannya. Tentang sebuah masjid, tentang jamaah yang datang dari latar berbeda, tentang imam yang mungkin tidak selalu sejalan dalam mazhab, namun tetap diikuti tanpa ragu.

Tidak ada yang mempersoalkan. Tidak ada yang meninggikan suara. Karena di titik itu, semua kembali pada satu hal: niat yang sama untuk menghadap Tuhan.

Pesan sejuk di ruang ibadah itu rupanya menemukan wujud nyata pagi itu. Kehadiran Gus Yasin sejatinya adalah untuk memenuhi undangan silaturahmi jamaah Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Muhammadiyah Semarang. Di ruangan inilah, kerukunan bukan lagi sekadar teori, melainkan praktik hidup sehari-hari.

Ketua Pelaksana Halalbihalal, Budi Martono, S.H., M.H., menceritakan bahwa inklusivitas telah menjadi napas utama jamaah mereka. Perbedaan bendera tak pernah jadi halangan.

“Baju kita memang KBIH Muhammadiyah. Biarpun di dalamnya bukan teman-teman Muhammadiyah saja, yang Nahdliyin banyak, tapi kita merawatnya dalam sebuah kesatuan,” tutur Budi, menyinggung betapa nyamannya warga Nahdliyin melebur dalam bimbingan tersebut demi niat suci ke Baitullah.

Praktik Nyata Toleransi Jawa Tengah

Langkah inklusif tanpa sekat inilah yang memantik apresiasi khusus dari Taj Yasin Maimoen. Sang Wakil Gubernur melihat kolaborasi indah lintas organisasi ini bukan sekadar urusan ibadah haji, melainkan sebuah strategi kultural yang krusial.

Baginya, praktik toleransi Jawa Tengah yang solid di akar rumput seperti inilah yang menjadi kunci utama menjaga stabilitas dan iklim sosial masyarakat tetap sejuk.

Apa yang tampak di ruang nyata itu acapkali berbanding terbalik dengan kegaduhan yang terjadi di ruang maya. Seolah-olah ada dua dunia yang berjalan bersamaan; yang satu penuh harmoni, yang lain penuh kecurigaan. Sementara kita sering kali lebih mudah terpancing pada yang bising daripada yang sunyi.

Padahal harmoni tidak pernah suka berteriak. Ia bekerja diam-diam.

Di akhir acara, orang-orang beranjak pulang. Tidak ada euforia berlebihan, tidak ada deklarasi yang menggelegar. Hanya langkah-langkah ringan, senyum yang saling dilempar antar-jemaah beda latar belakang, dan hati yang sedikit lebih lapang dari sebelumnya.

Di luar gedung, langit Semarang menggantung tenang. Di antara hiruk pikuk dunia yang gemar mempertentangkan, potret toleransi Jawa Tengah pagi itu diam-diam mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan: bahwa persatuan negeri ini tidak dijaga oleh mereka yang paling keras bersuara di media sosial, melainkan oleh mereka yang diam-diam tetap bersalaman dan merawat cinta, meski berbeda cara berdoa.

Baca juga:

Wagub Jateng Apresiasi KBIHU Muhammadiyah Semarang Satukan Jamaah Lintas Organisasi

Saat Sarung dan Sang Surya Berpadu: Sinergi NU Muhammadiyah Getarkan Panggung Budaya Pandanaran

Saat Banser NU dan Kokam Muhammadiyah Berbagi Peluh di Genuk Semarang

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: