Cari Konten

Live search akan muncul saat mengetik. Klik tombol Cari untuk melihat seluruh hasil pencarian.

Fikih Lansia Muhammadiyah, Panduan Ibadah dan Kesehatan Mental di Usia Senja

25 April 2026, 14:11 WIB 3 menit baca
Jemaah paruh baya duduk bersila menyimak paparan materi Fikih Lansia Muhammadiyah oleh Dr Dani Muhtada dalam Pengajian Tarjih di ruang tamu Komplek Permata Puri Ngaliyan.
Puluhan jemaah lanjut usia menyimak dengan saksama pemaparan materi Fikih Lansia Muhammadiyah oleh Dr. Dani Muhtada dalam Pengajian Tarjih PRM Bringin di kediaman Ibu Sri Utami, Komplek Permata Puri Ngaliyan, Semarang, Sabtu (25/4/2026). Kajian ini memberikan panduan keringanan ibadah (rukhshah) guna merawat kesehatan mental dan ketenangan batin warga usia senja.

NGALIYAN, muhammadiyahsemarangkota.org Sinar pagi menyapa hangat ruang tamu Ibu Sri Utami di Komplek Permata Puri Ngaliyan, Sabtu (25/4/2026). Di sana, 42 jemaahparuh baya duduk melingkar dengan saksama. Wajah-wajah senja itu memancarkan kelegaan mendalam. Jemaah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin ini baru saja menemukan solusi atas keresahan batin mereka. Kajian fikih lansia Muhammadiyah berhasil menjawab berbagai tantangan kesehatan mental lansia dan persiapan akhir hayat.

Keresahan Ibadah Usia Senja

Bertambahnya usia sering membawa krisis spiritual. Penurunan fungsi organ tubuh menjadi pemicu utamanya. Akibatnya, banyak lansia merasa berdosa saat fisik mereka gagal bersujud sempurna. Perasaan bersalah ini tentu mengganggu ketenangan jiwa.

Merespons persoalan tersebut, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bringin H. Mustain segera mengambil langkah taktis. Ia menghadirkan materi kajian tarjih setiap Sabtu pekan keempat yang menyentuh akar masalah jemaah.

“Jemaah butuh materi fikih lansia ini supaya bisa tetap beribadah nyaman dan mantap di usianya yang sudah lanjut,” ungkap Mustain.

Ia sangat meyakini satu hal penting. Sebuah panduan ibadah lansia yang tepat merupakan kunci menjaga stabilitas mental. Oleh karena itu, edukasi melalui pengajian ini menjadi sangat krusial.

Membedah Kemudahan Syariat

Hadir sebagai narasumber, Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A., Ph.D. membawa pesan yang menyejukkan. Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PDM Kota Semarang ini membedah draf fikih lansia Muhammadiyah. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah merumuskan pedoman ini secara komprehensif.

Dani menjelaskan konsep rukhshah atau keringanan beribadah. Selama ini, masyarakat sering salah memahami rukhshah sebagai ibadah yang kurang sempurna. Padahal, Allah sama sekali tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan.

Hukum ibadah usia lanjut memiliki fleksibilitas tinggi, katanya. Jika lansia tidak kuat berdiri, mereka boleh salat sambil duduk. Kalau duduk pun sulit, mereka bisa berbaring. Selain itu, agama memberikan kelonggaran urusan bersuci. Lansia dengan kulit sensitif air boleh bertayamum.

“Agama memberikan perlindungan penuh kepada lansia untuk menjaga Karamah Insaniyyah atau kemuliaan manusia,” jelas Dani.

Lansia berhak mendapat pemuliaan. Masyarakat harus menghindarkan mereka dari kekerasan fisik, verbal, maupun penelantaran finansial.

Menjaga Martabat dan Kemandirian

Pesan perlindungan martabat ini sangat membekas di hati Gunoto (72). Sebagai peserta, ia menyadari krusialnya perhatian terhadap aspek psikologis lansia.

Selanjutnya, Gunoto menggarisbawahi peran keluarga dalam mencegah kekerasan mental pada orang tua seperti yang disampaikan penceramah. “Keluarga atau anak-anak harus memberikan perhatian khusus agar tidak melakukan kekerasan fisik, verbal, maupun finansial,” tegas Gunoto.

Di samping dukungan emosional, Gunoto mengharapkan fasilitas publik yang inklusif. Ia berharap tempat ibadah memiliki akses khusus bagi lansia. Ruang publik seperti trotoar dan taman juga wajib menyediakan fasilitas serupa. Tujuannya agar lansia benar-benar mendapatkan prioritas.

Berserah Diri dengan Hati Lapang

Kajian ini tidak sekadar membahas teknis ibadah. Forum ini juga menyiapkan mental jemaah untuk menghadapi akhir hayat. Tuan rumah acara, Sri Utami (76), merasakan langsung dampak positifnya. Literasi agama ini membuatnya merasa lebih berdaya.

“Bagi kita lansia, kajian ini menambah wawasan dan membuat kami lebih yakin,” ucap Sri Utami dengan senyum tulus

Ia termotivasi untuk tetap mandiri, bertawakal, dan berserah diri kepada Allah. Motivasi spiritual ini menjadi fondasi utama kebahagiaan hari tua.

Pada akhirnya, pemahaman fikih lansia Muhammadiyah membantu jemaah melangkah dengan jiwa yang tenang.

Baca juga:

Strategi Lansia Tangguh: Mengubah Persiapan Masa Pensiun Jadi Lebih Bermakna

Tawa dan Air Mata di Pesantren Lansia Semarang: Mengupas Satu-Satunya Bekal Abadi Menuju Liang Lahat

Ludes dalam 24 Jam! Pesantren Lansia Semarang Naik Kelas, Target 50 Santri Awal 2026

Kontributor: Tim Media PRM Bringin
Editor: Agung S Bakti
Bagikan: