Tolak Jasa Komersial, Kisah Haru Jemaah Haji Lansia Semarang Didorong ‘Keluarga Baru’ di Masjidil Haram
MAKKAH, muhammadiyahsemarangkota.org – Lautan manusia memadati pelataran Masjidil Haram sejak Ahad (10/5/2026) malam. Di tengah riuh gemuruh itu, rombongan asal Semarang ini menghadirkan pemandangan istimewa. Sebanyak 20 kursi roda melaju dengan ritme syahdu.
Tangan-tangan pekerja bayaran tidak menyentuh kursi-kursi itu. Puluhan saudara seiman justru bergotong royong mengawal perjalanan ini. Mereka ingin menjaga kekhusyukan ibadah para jemaah haji lansia.
Malam itu lampu Terminal Syib Amir bersinar terang. Rombongan asal Jawa Tengah ini membuat pilihan berani. Banyak jemaah umumnya menyewa jasa pendorong komersial. Namun, mereka justru memilih jalan pengorbanan. Sikap ini bermula dari sebuah keprihatinan kolektif.
Berawal dari Keluhan, Berakhir dengan Kepedulian
Sebagaimana dalam berita sebelumnya (Baca: Bikin Haru, Ini Alasan Jemaah Haji Semarang Tolak Jasa Pendorong Kursi Roda di Makkah), kloter awal membawa kabar kurang sedap. Layanan jasa dorong komersial kurang memuaskan jemaah haji lansia. Pekerja Makkah kerap memacu kursi roda terlalu cepat demi target waktu. Akibatnya, mereka mengabaikan bimbingan doa selama prosesi umrah wajib.
Kondisi tersebut langsung memicu respons tim pembimbing KBIHU Muhammadiyah. Mereka enggan melihat pengalaman spiritual para sesepuh terbuang percuma.
Petugas TPIHI Kloter 28 SOC, Ustadz Drs. H. Nurbini, MSI, mengungkapkan alasannya. “Arahan petugas sektor meminta jemaah mendorong sendiri kursi roda. Banyak kloter sebelumnya mengeluhkan layanan jasa dorong dari Masjidil Haram,” jelasnya kepada muhammadiyahsemarangkota.org, Senin (11/5/26).
Tim pembimbing segera menggelar rapat intensif bersama Ketua Rombongan dan Ketua Regu. Pertemuan itu menghasilkan satu mufakat luhur. Mereka mantap menolak jasa berbayar dan mengambil alih kemudi sepenuhnya.

Estafet Keringat Menciptakan Haji Ramah Lansia
Praktik di lapangan ternyata memancarkan haru luar biasa. Rombongan harus menggerakkan 20 kursi roda menembus lautan manusia. Tugas ini tentu sangat menguras cadangan tenaga mereka.
Apalagi mereka baru saja menempuh rute darat Madinah-Makkah. Perjalanan melelahkan itu memakan waktu delapan jam pada hari sebelumnya. Namun, rasa empati sukses mengalahkan sisa kelelahan fisik tersebut.
Anggota Kloter 28 SOC yang masih muda justru berlomba mengambil peran. “Bahkan relawan yang mendorong berlebih,” tambah Ustadz Nurbini dengan mata berkaca-kaca.
Dua hingga tiga orang bergantian mengawal satu kursi roda secara estafet. Tangan-tangan kokoh ini menyusuri pelataran suci dengan tenang. Sesekali mereka memelankan langkah di tengah riuh ribuan jemaah. Mereka menunduk untuk menuntun lantunan talbiyah langsung ke telinga sesepuh.
Malam itu menegaskan makna sejati haji ramah lansia. Jemaah haji lansia menemukan keluarga baru di atas pualam Masjidil Haram.
Rombongan ini sukses membuktikan esensi mabrur yang sesungguhnya. Ibadah tertinggi bukan sekadar ambisi merengkuh pahala pribadi. Kesempurnaan haji memancar dari kerelaan menopang langkah saudara seiman.
Pantau terus laporan terkini dan terlengkap setiap hari, kabar jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang, langsung dari Tanah Suci. Hanya di Muhammadiyahsemarangkota.org