“Kok Seperti Pesantren?” Kisah Jamaah Haji Semarang Mengkaji Sanad Guru NU dan Muhammadiyah di Makkah
MAKKAH,muhammadiyahsemarangkota.org- Momen ibadah haji tidak hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga memperkaya wawasan keislaman. Masa tunggu wukuf yang panjang kerap menyisakan banyak waktu luang di pemondokan. Namun, sebuah inisiatif cerdas lahir dari jemaah haji Muhammadiyah kloter 28 SOC asal Semarang. Alih-alih sekadar bersantai di hotel, rombongan ini justru mendirikan Pesantren Haji Makkah. Di sana, jemaah secara antusias menelusuri akar sejarah dan sanad guru pendiri NU dan Muhammadiyah langsung dari Tanah Suci.
Langkah brilian ini sukses mengubah potensi kebosanan menjadi kajian keislaman yang sangat produktif. Terobosan cerdas tersebut sekaligus menjadi kabar penyejuk di tengah hiruk-pikuk info haji 2026 tahun ini.
Sekretaris Majelis Wakaf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jateng, Moh. Masrur, salah seorang jemaah,menjadi salah satu pengisi program pembinaan tersebut. Pria yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Walisongo Semarang itu ikut bertugas mengisi kajian. Ia lantas merekam aktivitas bernilai ini dan membagikannya secara khusus.
Melalui perannya sebagai mubaligh, Masrur mengajak jemaah membuka lembaran sejarah ulama Nusantara. Jamaah membedah kitab Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani. Tokoh besar ini rupanya memegang peran sentral dalam sejarah Islam Indonesia. Beliau merupakan mahaguru yang mendidik langsung para pendiri NU dan Muhammadiyah.
Fakta sejarah tersebut secara indah menegaskan eratnya persaudaraan keilmuan antarkedua ormas. Tanah Suci menjadi saksi bisu bertemunya gagasan luhur NU dan Muhammadiyah.
Lantas, bagaimana keseruan keseharian jamaah saat mengikuti kajian kelas berat ini? Mari kita simak langsung catatan utuh Moh. Masrur berikut ini.
Pesantren Haji di Makkah
(Oleh: Moh. Masrur)
“Sambil menyelam minum air.” Itulah peribahasa yang pas untuk menggambarkan suasana keseharian jemaah Haji Kloter 28 SOC asal Semarang. Kami benar-benar memanfaatkan setiap waktu secara optimal di Tanah Suci.
Bagaimana tidak, waktu 15 hingga 20 hari menetap di pemondokan 402, Hotel Rose Almashair Raudhah, Makkah, kami manfaatkan secara maksimal. Tempat ini menjadi basecamp untuk memberikan pembinaan intensif keislaman dan manasik selama masa tunggu. Kegiatan ini rutin berjalan, baik sebelum maupun sesudah puncak haji.
Maka beruntunglah Bapak dan Ibu sekalian. Kami mendapat pemondokan hotel di Makkah yang hanya menampung jamaah satu kloter ditambah para petugas haji (kurang lebih 400 orang). Kondisi eksklusif ini membuat jamaah tidak bercampur dengan rombongan lainnya.
Mereka bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Suci dengan tenang. Jamaah sekaligus mendapatkan pembinaan keislaman intensif dari para pembimbing yang kompeten di bidangnya.

Ragam Kegiatan Pembinaan Jamaah
Kegiatan utama untuk jemaah haji kloter 28 SOC di Pesantren Haji Makkah meliputi berbagai program berkualitas, antara lain:
- Tahsin Al-Qur’an bimbingan Ustadz Drs. Nurbini, M.Si., selaku TPIHI (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia) sekaligus pembimbing jamaah.
- Materi manasik haji lanjutan oleh Romo Kiai Dr. Mafrukhi, M.Pd., selaku Ketua Kafilah. Materi ini meliputi simulasi tawaf, sa’i, dan lempar jumrah.
- Kajian keislaman oleh para mubaligh “tiban” (dadakan) yang terpilih dari perwakilan setiap Ketua Rombongan (Karom).
- Penyuluhan kesehatan haji oleh dr. Fajar dan tim tenaga kesehatan kloter.
- City tour terprogram seperti kunjungan ziarah ke Jabal Nur, Jabal Tsur, dan Thaif.
Mengkaji Sanad NU dan Muhammadiyah
Di sela rutinitas, Ketua Rombongan menunjuk penulis sebagai mubaligh “pocokan” (pengganti). Penulis berusaha menawarkan jamaah untuk mengkaji kitab kuning. Kami membedah kitab Marah Labid atau Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani.
Ulama besar ini memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani. Beliau lahir di Tanara, Banten pada tahun 1813 M dan wafat di Makkah pada 1897 M. Seperti bisa kita baca dari berbagai sumber sejarah, Imam Nawawi bergelar “Sayyid Ulama al-Hijaz”. Beliau tercatat sebagai guru Kiai Ahmad Dahlan saat belajar di Makkah.
Meski Syekh Nawawi al-Bantani tidak mendirikan organisasi, beliau menjadi mata rantai keilmuan yang menghubungkan berbagai ulama Nusantara. Menariknya, murid beliau selain Kiai Ahmad Dahlan, juga ada nama Kiai Kholil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri NU).
Jadi, NU dan Muhammadiyah secara sanad keilmuan pernah bertemu pada guru yang sama di Makkah. Mereka menimba ilmu dari Syekh Imam Nawawi al-Bantani, Syaikh Ahmad Khotib al-Minangkabawi, Syaikh Mahfud at-Tirmasi dan ulama-ulama besar lainnya.
Empat Ilmu dalam Surat Al-Fatihah
Menurut penjelasan Imam Nawawi, surah Al-Fatihah itu sesungguhnya mengandung empat ilmu utama:
- Ilmu ushul atau pokok (ilahiyat, nubuwah, dan darul akhirah) seperti dalam ayat ar-Rahman ar-Rahim.
- Ilmu cabang (soal ibadah, muamalah, dan amar ma’ruf nahi mungkar) seperti tercermin dalam ayat iyyaka na’budu.
- Ilmu akhlak atau tahsil al-kamalat, terdapat dalam ayat wa iyyaka nasta’in dan ihdinas shirothol mustaqim.
- Ilmu sejarah tentang umat terdahulu. Ayat shirathalladzina an’amta ‘alaihim membahas umat yang beruntung. Sebaliknya, umat yang celaka tergambar dalam ayat ghoiril maghdzuubi ‘alaihim waladh-dhoolliin.
Seusai kultum, ada saja jamaah yang nyeletuk ringan. “Kok materinya seperti pengajian di pesantren saja, Pak?” tanyanya antusias.
Saya jawab sambil tersenyum, “Ya ini memang Pesantren Haji Makkah kelas eksklusif, Pak, karena terlaksana langsung di Arab Saudi dan biayanya mahal.”
Tujuan utama kami sangat jelas. Kita ingin jamaah lebih memahami warisan khazanah Islam masa lalu, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur’an.
(Penutup Redaksi)
Catatan perjalanan spiritual ini melengkapi ragam info haji 2026 yang sarat akan makna dan ilmu. Semangat menimba ilmu jamaah asal Semarang membuktikan ibadah fisik dan intelektual bisa berjalan selaras. Tradisi mulia menelusuri akar sejarah NU dan Muhammadiyah di Tanah Suci ini semoga terus lestari dan menginspirasi jamaah lainnya.